Pentingnya Eco-Etika dalam Membangun Ekowisata

Pentingnya Eco-Etika dalam Membangun Ekowisata

  Sabtu, 13 April 2019 11:10

Berita Terkait

EKOWISATA atau biasa juga disebut wisata alam cukup laris di berbagai daerah. Hal itu nampak dari banyaknya destinasi wisata alam yang kian hari kian ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Munculnya kisah-kisah perjalanan yang dimuat di berbagai media khususnya internet membantu memperkenalkan tempat wisata yang bersangkutan. Kisah-kisah perjalanan dan pengalaman itu bukan saja ungkapan hati dan perasaan melainkan bentuk promosi yang sangat mengena di zaman ini. Sikap proaktif dari wisatawan ini jelas memberi kontribusi yang tidak kecil bagi terbangunnya destinasi wisata alam.

 

Namun promosi keindahan dan kenyamanan yang dirasakan para wisatawan tidak cukup bagi terlestarinya wisata alam yang bersangkutan. Yang tidak kalah penting adalah mempromosikan bagaimana sikap dan perilaku yang baik itu dibangun dalam setiap pribadi dalam berwisata alam.

Beberapa bentuk pencemaran yang dilakukan di tempat-tempat wisata alam menampakkan kekurangpedulian terhadap keindahan yang ada. Pencemaran itu jelas lahir dari pribadi-pribadi yang tidak seimbang dalam mewujudkan dirinya sebagai penikmat yang dianugerahkan Tuhan dengan kewajiban yang harus ditanggungnya. 

Untuk mengarahkan perilaku manusia yang kerap melakukan pencemaran dan kurang sadar lingkungan itu diperlukan suatu pemahaman yang integral atas alam khususnya ekowisata. Pemahaman itu perlu dipromosi sehingga tercipta kesadaran akan kecintaan atas alam yang dianugerahkan Tuhan ini. 

Pentingnya eco-etika dalam membangun ekowisata sangat relevan untuk membangun semakin terlestarinya wisata alam yang tersedia. Yang dimaksud dengan eco-etika (ecological ethics) di sini adalah etika lingkungan hidup. Dalam hal ini membangun destinasi wisata alam bukan hanya soal membangun menyediakan fasilitas sehingga memudahkan akses menuju tempat wisata itu melainkan membangun karakter para wisatawan. 

Pentingnya ekotika dalam berwisata alam senada dengan amanat yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 65 ayat 2 yaitu: “Setiap orang berhak mendapat pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”.

Sony Keraf mengartikan eco-etika sebagai suatu refleksi kritis atas norma-norma dan prinsip atau nilai moral yang selama ini dikenal dalam komunitas manusia untuk diterapkan secara lebih luas dalam komunitas biotis atau komunitas ekologis. Eco-etika secara sederhana dapat dimengerti sebagai pedoman, petunjuk, orientasi, dan arah bagaimana manusia harus bersikap baik  terhadap alam. Dalam pengertian ini, termuat esensi dasar dari etika itu sendiri, yaitu untuk menjaga, melindungi, dan melestarikan(Sony Keraf, Etika Lingkungan, Jakarta: Kompas, 2002, 27).

Pengertian eco-etika ini berhubungan dengan pengertian ekowisata. Menurut J.Butler di Scace, ekowisata didefinisikan sebagai kegiatan wisata yang mempunyai konsisten dengan etika lingkungan yang positif, dapat membantu  perkembangan  tingkah laku. Pengertian ekowisata ini menunjukkan dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat. Hal itu dilakukan agar mampu  menumbuhkan  jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata. Pengertian lainnya dari ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami, memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya masyarakat setempat.

Eco-etika hendak menyodorkan suatu cara pandang bagaimana manusia harus hidup dan berperilaku terhadap alam. Manusia hadir di tengah dunia ini bukan dimaksudkan sebagai penguasa atas segala sesuatu sehingga ia dapat melakukan apa saja sesuka hatinya, termasuk merusak dan menzolimi alam. Sebaliknya, kehadiraan manusia di tengah dunia ini dimaksudkan untuk bersahabat dengan semua kehidupan di alam semesta. 

Dalam eco-etika termuat suatu penghargaan yang tinggi terhadap setiap kehidupan dan semua makhluk. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa setiap kehidupan dan semua makhluk hidup mempunyai dalam dirinya suatu nilai sehingga pantas mendapat pertimbangan dan kepedulian moral. 

Antroposentrisme modern

Antroposentrisme merupakan salah satu paham yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta. Manusia dianggap sebagai raja atas segala sesuatu yang ada di alam. Segala kepentingan dan kebutuhan manusia menjadi yang utama. Manusia dilihat sebagai pengambil keputusan utama. Konsekuensi dari pandangan ini ialah alam hanya dilihat sebagai obyek.

Ada bahaya yang muncul ketika alam hanya dilihat sebagai obyek. Bahaya tersebut ialah alam dapat diperlakukan semena-mena oleh manusia. Alam tak lagi dilihat sebagai sahabat. Sebaliknya, alam disakiti, dizolimi, dan diperkosa. Pandangan inilah yang menjadi penyebab utama hancurnya alam semesta ini. Manusia berpikir bahwa dia adalah raja dan alam adalah budaknya. Jadi, ia dapat melakukan apapun terhadap alam. 

Patut disadari bahwa antroposentrisme  masih sangat mendominasi cara pikir dan pola tingkah laku manusia hingga saat ini. Antroposentrisme yang terlalu ekstrim dapat mengancam kelangsungan hutan-hutan wisata. Dampak yang dapat ditimbulkan dari pandangan tersebut ialah pertama, rusaknya lingkungan hutan wisata yang ada. Bayangkan bila setiap wisatawan yang datang menganggap dirinya adalah raja atas alam semesta ini, maka ia tak lagi mau peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ia akan bersikap semena-mena terhadap alam. Akibatnya ialah ia membuang sampah sembarangan, menebang pohon, dan mencemari sungai dengan aneka macam limbah. 

Antroposentrisme yang sangat mengagung-agungkan manusia sebagai pusat alam semesta perlu dievaluasi kembali. Kehadiran manusia di tengah dunia bukanlah untuk mendominasi maupun mengeksploitasi alam semesta sesuka hatinya. Sebaliknya, kehadiran manusia di alam ialah demi menjadi penjaga, pelindung, pelestari, dan sahabat alam. 

Urgensi promosi eco-etika 

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa promosi eco-etika dalam ber-ekowisata harus segera dilakukan. Derasnya laju kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa telah terjadi krisis eco-etika dalam diri masyarakat. Apabila situasi seperti ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan bahwa “tren” kerusakan lingkungan juga akan merambah hingga ke dunia pariwisata, khususnya eko-wisata. 

Eco-etika menawarkan suatu pola pikir yang pro-alam. Maksudnya, eco-etika berusaha untuk membentuk pola pikir dan pola tingkah laku manusia yang semakin dekat dan bersahabat dengan alam. Untuk membangun eko-wisata yang mampu menarik banyak wisatawan diperlukan suatu pola pikir yang sadar dan peduli akan keindahan alam. Keindahanlah yang menjadi magnet yang menarik wisatawan untuk datang berkunjung ke suatu tempat wisata, khususnya wisata alam. Keindahan alam akan terus terjaga apabila semua pihak berkomitmen untuk ambil bagian dalam usaha menjaga dan melestarikan alam semesta ini. Untuk itu, setiap orang harus mempunyai suatu pola pikir yang berpihak pada alam.

Dalam rangka membangun daya tarik wisata, setiap orang harus ikut ambil bagian dalam usaha menjaga dan melestarikan hutan. Hal itu hanya dapat terwujud apabila setiap pihak memiliki di dalam dirinya suatu kesadaran ekologis, yaitu suatu kesadaran yang melihat alam sebagai ibu yang memberikan kehidupan. Untuk menumbuhkan kesadaran ekologis itu, manusia harus berani keluar dari cara berpikir antroposentrisme yang selama ini telah menyebabkan banyak kerusakan alam dan lingkungan. Antroposentrisme harus diganti dengan cara berpikir yang didasarkan pada eco-etika. Dari sanalah muncul penghormatan dan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai keindahan. 

Peran kita

Di lingkungan kampus, peran mahasiswa dalam membangun ekowisata mendapat tempat dalam ranah akademis. Promosi atau dengan kata lain menyampaikan suatu pengetahuan baru secara gencar menjadi bagian umum untuk menyalurkan ilmu kepada semua pihak demi terlestarinya hutan yang ada. Promosi eco-etika dalam konteks membangun destinasi wisata sangat urgen untuk membangun sikap dan perilaku wisatawan.

Jurnal ilmiah dan seminar dapat dijadikan wahana untuk mempromosikan eco-etika kepada masyarakat luas. Hal ini berkaitan dengan konsep-konsep fundamental dalam etika lingkungan hidup. Pengertian dan prinsip-prinsip eco-etika dapat sampai kepada siapapun apabila wahana yang digunakan tepat sasaran. Oleh karena itu, seminar ataupun jurnal ilmiah hendaknya menampilkan nuansa edukatif yang dapat diterima semua orang. Kegiatan itu juga hendaknya dapat merangkul masayarakat yang berada pada tingkat pendidikan yang masih minim. 

Di lingkungan masyarakat luas, internet dapat menjadi sarana yang sangat efektif dalam membangun kesadaran akan lingkungan hidup. Manfaat internet sebagai ruang publik virtual, khususnya media sosial, untuk membuka kesadaran publik lebih lebar tentang urgensi perawatan lingkungan hidup. Ekologi media diharapkan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan publik tentang pentingnya pemulihan dan atau perawatan lingkungan yang telah rusak parah.

Sikap hormat terhadap alam dan prinsip tanggung jawab dalam etika lingkungan hidup merupakan dasar untuk bergerak mempromosikan eco-etika. Hal ini bertujuan untuk meruntuhkan antroposentrisme modern yang kian hari kian marak di tubuh manusia yang serakah. 

 

Penulis: Pemerhati kepariwisataan

 

Berita Terkait