Penjara Terbakar, 31 Penghuni Kabur

Penjara Terbakar, 31 Penghuni Kabur

  Minggu, 12 May 2019 09:02
DIPINDAHKAN: Proses pemindahan tahanan usai kerusuhan Sabtu (11/5) dini hari di Rutan Kelas II B Siak Sri Indrapura yang dikawal ketat oleh petugas gabungan. MHD AKHWAN/RIAUPOS

Berita Terkait

Cari Provokator Kerusuhan Rutan

JAKARTA – Kerusuhan di lingkungan instansi pemasyarakatan kembali terulang. Dini hari kemarin (11/5), Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas II B Siak Sri Indrapura, Riau rusuh dan terbakar. Dugaan awal, kebakaran itu dipicu gesekan antara petugas rutan dan nara pidana (nara pidana) yang kedapatan membawa sabu-sabu.  

Direktur Keamanan dan Ketertiban Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Hukum dan HAM Lilik Sujandi menceritakan bahwa gesekan antara petugas dan napi berinisial Y di blok wanita tersebut memicu kemarahan penghuni lain. ”Kami sedang mendalami  penyebab dan kronologisnya,” kata Lilik kemarin (11/5).

Lilik mengungkapkan awalnya petugas rutan yang menemukan sabu di lipatan baju Y melaporkan temuannya kepada Karutan, Gatot Suariyoko. Kemudian, Gatot bersama petugas pengamanan melakukan penggeledahan di blok wanita dan berkoordinasi dengan Kasat Narkoba Polres Siak AKP Jaelani. 

Sekitar pukul 21.45, rombongan satuan narkoba kepolisian itu tiba di rutan. Mereka langsung melakukan pemeriksaan dan pengembangan perkara. Hasilnya, tiga orang tahanan, yakni IM, Z dan D, dinilai terbukti mengonsumsi narkoba. Polisi pun  membuat berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap tiga tahanan itu. 

Selanjutnya pada pukul 00.35, ketiga tahanan tersebut dimasukkan ke ruang hunian dengan pengawalan petugas. Setengah jam kemudian, tiba-tiba terjadi perlawanan dari para napi. Mereka menjebol pintu blok sel tahanan. Kerusuhan pun tidak terelakkan. 

Sampai saat ini, 31 napi masih dalam pengejaran. Mereka kabur ketika kerusuhan terjadi. Lilik menyebutkan, kapasitas hunian rutan itu adalah 128. Adapun yang menempati sebanyak 648 orang. Artinya, terjadi overkapasitas di rutan tersebut. ”Saat ini sedang dilakukan pemindahan oleh jajaran kanwil yang dipimpin langsung oleh kakanwil dan direktur kamtib ke rutan terdekat,” terangnya.

Lilik menegaskan jajarannya serius melakukan pemberantasan narkoba. Meskipun ada risiko perlawanan dari para napi yang terusik. ''Kami akan melakukan penyelidikan secara lebih dalam. Apa sebenarnya  yang menjadi pemicu utama, apakah ada provokator yang menunggangi,” imbuh dia. 

Pengamat pemasyarakatan dan kriminolog Leopold Sudaryono menyebut berdasar sistem database pemasyarakatan (SDP), rutan tersebut mengalami penambahan jumlah penghuni menjelang pemilihan umum (pemilu) lalu. Yakni dari 554 menjadi 648. Jumlah itu 506 persen diatas kapasitas rutan yang sejatinya hanya menampung 128 orang tersebut. 

Rutan tersebut dijaga 45 orang petugas pengamanan. Pada rutan kelas IIA, setiap shift hanya 5-7 orang yang berjaga. Artinya 1 orang petugas menjaga hampir 100 orang tahanan. ”Ini menjadi salah satu penyebab utama mengapa penghuni dapat mengambil alih kontrol atas sebagian fasilitas rutan dalam waktu relatif singkat,” ujar Kandidat Doktor Kriminologi Australian National University itu. 

Selain itu, Leo juga menyebut hampir setengah penghuni masuk bui karena tersandung kasus narkoba. Bahkan, 224 orang di antaranya adalah bandar. Para tahanan itu, kata Leo, patut diduga memiliki kebutuhan akan narkoba. ”Dan hanya dijaga dengan tenaga dan fasilitas pengamanan selemah ini (45 orang)? Tidak ada treatment rehabilitasi yang tersedia pada fasilitas ini,” kritiknya. 

Menurut dia, pemeriksaan dan BAP yang menyeluruh tetap harus dilakukan untuk mencari penyebab kerusuhan dan pembakaran. Namun, kata dia, pemicu utama tak boleh diabaikan. Sebab, jika tidak diatasi dengan model pidana alternatif, kondisi itu hanya akan berujung pada terus berulangnya insiden kerusuhan. (tyo/git)

Berita Terkait