Penguatan Pendidikan Karakter

Penguatan Pendidikan Karakter

  Kamis, 9 May 2019 09:36
Oleh : Dr. H. Arnadi Arkan, M.Pd

Berita Terkait

Dikatakan oleh Bapak Presiden RI, bahwa pembangunan karakter termasuk penguatan nilai-nilai agama sangat penting bagi SDM Indonesia. Pembangunan karakter bangsa, budi pekerti, sopan santun, nilai-nilai etika, nilai-nilai agama ke depan, harus menjadi perhatian dunia pendidikan kita dalam rangka pembangunan manusia ke depan. Hal ini disampaikan pada saat Peringatan Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2019 di Karanganyar, Jawa Tengah. Jadi berkarakter dan berkualitas.
Pembangunan karakter (character building) saat ini sedang menjadi isu menarik dalam dunia pendidikan, baik pada lembaga pendidikan di lingkungan Kemendikbud, Kemenag dan Kementerian lainnya. Pembangunan karakter peserta didik telah menjadi pekerjaan rumah bagi semua kementerian dan lembaga, maupun para pakar pendidikan. Bahkan isu pembangunan karakter ini tidak hanya menjadi isu nasional, akan tetapi telah menjadi isu internasional. Sangat dirasakan dampak dari kerusakan moral satu dasawarsa terakhir; bukan saja pelakunya adalah anak anak remaja, akan tetapi juga orang dewasa bahkan orang tua dengan berbagai bentuk dan volume kejahatan. Mulai dari tawuran, pembunuhan sadis, narkoba, penipuan, korupsi termasuk jual beli jabatan di pemerintahan. Hal ini menggerakkan kita untuk segera melakukan revolusi mental dalam bentuk pembangunan karakter.
Apa yang dimaksud dengan pembangunan karakter?. Secara defenisi karakter adalah kata yang berasal dari Lahasa Latin yaitu ‘kharassein“, “kharakter“, “kharax” yang memiliki pengertian membuat tajam. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pengertian karakter adalah tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan di dalam Kamus Sosiologi, pengertian karakter adalah ciri khusus dari struktur dasar keperibadian seseorang (watak). Dengan demikian dapat dipahami bahwa karakter adalah ciri, gaya, sifat atau karakteristik diri seseorang yang berasal dari pembentukan atau tempaan yang di peroleh dari lingkungan sekitar.
Berapa jenis karakter yang dimiliki oleh manusia?. Setiap orang pastinya memiliki karakter atau kepribadian yang berbeda-beda. Secara umum jenis karakter manusia dapat di bagi menjadi 4 (empat) kategori, hal ini pernah diungkapkan oleh Hipocrates yang lahir 460-370 SM, yaitu : 
Sanguinis
Seseorang yang memiliki jenis karakter ini pada umumnya suka bergaul dengan orang lain (ekstrovet), memiliki kepribadian yang menarik, suka berbicara, memiliki rasa humor, dan sejenisnya, seorang yang ekspresif, antusias, periang dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Adapun kekurangan dari pemilik karakter ini, antara lain adalah suka mementingkan diri sendiri, dan tidak suka mendapatkan kritik serta pelupa.
2. Melankolis
Seseorang yang memiliki jenis karakter melankolis biasanya adalah seseorang yang tidak suka bergaul dengan orang lain (introvert), pemikir, dan memiliki sifat pesimis, suka berpikir secara mendalam, serius, tekun, suka berkorban dan cenderung idealis. Walaupun mereka tergolong introvert namun mereka memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi dan suka membantu permasalahan orang lain.
3. Koleris
Koleris adalah jenis karakter yang sangat cocok untuk dijadikan seorang pemimpin. Mereka sangat suka mengatur, berpetualang, senang dengan tantangan, tegas dalam mengambil keputusan serta tidak mudah untuk menyerah. Di balik segala kelebihannya, seorang yang berkarakter koleris biasanya sering menciptakan kontroversi karena mereka senang memerintah, terlalu kaku dan sering membuat keputusan yang tergesa-gesa.
4. Plegmatis
Seseorang yang memiliki karakter ini dapat disebut orang yang cuek atau santai. Karakter plegmatis ini lebih dapat berdamai dengan kehidupan bahkan disaat mereka menghadapai permasalahan yang sulit sekalipun. Plegmatis ini bisa dikatakan sebagai kebalikan dari karakter melankolis karena karakter plegmatis lebih tidak bisa memendam dendam dan rasa kecewa terlalu lama. Sikap bersahabat dan cinta damai yang dimiliki oleh seorang plegmatis malah membuat dia sering dimanfaatkan oleh orang lain. Bahkan seorang plegmatis tidak memiliki tujuan yang pasti karena mereka hidup seperti air yang mengalir.
Bagaimana konsep Islam tentang karakter?. Karakter adalah watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Secara istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya, di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Jadi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat-istiadat. Berarti karakter sama dengan akhlak dan budi pekerti. Karakter manusia identik dengan akhlak manusia atau budi pekerti manusia; berarti manusia yang berkarakter adalah manusia yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya manusia yang tidak berkarakter adalah manusia yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik.
Bagaimana kedudukan pendidikan karakter dalam Islam?. Pendidikan karakter dipandang sebagai upaya penanaman nilai-nilai yang esensial melalui  pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values ke dalam kepribadiannya. Pendidikan karakter dalam grand desain pendidikan karakter, adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat, sehingga dapat dipahami bahwa pendidikan karakter dalam Islam adalah sebagai upaya penanaman kecerdasan kepada anak didik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antar-sesama, dan lingkungannya sebagai manifestasi hamba dan khalifah Allah SWT. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surah, Az-Zariyat 51:56, yakni “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu”, dan surah Al-Baqarah 2:30, “Yakni manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di permukaan bumi”. 
Seberapa besar kontribusi ibadah puasa terhadap pendidikan karakter?. Puasa pada bulan Ramadhan, menjadi satu-satunya media yang sangat ampuh untuk internalisasi nilai pendidikan karakter ke dalam diri manusia, atau yang biasa disebut dengan transfer of value and culture. Puasa merupakan bagian dari proses internalisasi nilai-nilai pendidikan dan kemanusian. Dalam berpuasa tentu membutuhkan keikhlasan dan ketekunan hati dalam melakukannya, sehingga menghasilkan human skill pada dirinya. Jika demikian, maka ia akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap hati, yang mengarah kepada Qalbun Saalim yang memunculkan karakter kedamaian, kesejukan, kejujuran, dsj. Hal inilah yang Allah paparkan dalam surah Al-Fajr 89:27-30, yakni manusia yang berkarakter akan memiliki jiwa yang tenang.
Puasa juga mengajarkan orang yang melaksanakannya untuk bisa bersikap lebih kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar, karena pada saat berpuasa kita akan merasakan betapa sakitnya lapar, betapa sakitnya dalam keadaan serba kekurangan, dsj. Jika demikian, akan melatih diri untuk bersikap kritis dan introspektif terhadap persoalan sosial. Ini adalah karakter yang baik dan harus dikembangkan.
Puasa juga merupakan salah satu media bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, karena ibadah puasa secara esensial, akan dapat merubah karakter sikap (attitudes), perilaku (behavior), motivasi (motivation), dan keterampilan (skills) yang bermuara pada pembentukan akhlaqul karimah. 
Esensi pendidikan karakter untuk umat Islam semuanya ada dalam praktik berpuasa. Apalagi ibadah puasa dilakukan dalam rentang waktu yang agak panjang, yaitu sebulan, maka tindakan-tindakan positif yang dilakukan selama berpuasa, akan menjadi karakter baru karena proses pembiasaan selama berpuasa di bulan Ramadhan. Setidaknya terdapat tiga nilai pokok yang akan terbentuk menjadi sebuah karakter yang baik, hasil dari ibadah puasa di bulan ramadhan antara lain, yaitu : 
Adanya sikap kritis dan peduli terhadap lingkungan sosial; surah Al-‘Asr 103:1-3 yakni manusia yang berkarakter selalu memberikan nasehat tentang kebenaran dan kesabaran. 
Adanya pertautan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial (kelompok); surah Al-Maidah 2:2, yakni memperkuat ikatan saling tolong menolong dalam kebaikan. 
Lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif, dan efisien, surah Al-Baqarah 2:218, yakni orang-orang yang mampu berhijrah untuk mencari yang lebih baik hanya dengan mengharapkan rahmat Allah SWT.

Wallahu’alam
Penulis Direktur Pascasarjana Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin (IAIS) Sambas
Area lampiran
 

Berita Terkait