Pengorbanan Para ”Pahlawan Demokrasi” dari Bilik-Bilik Suara

Pengorbanan Para ”Pahlawan Demokrasi” dari Bilik-Bilik Suara

  Minggu, 21 April 2019 08:58
PENGORBANAN: KPPS masih berjibaku menuntaskan rekapitulasi pemilu di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Kamis (18/4). MIRSHAL/RIAUPOS

Berita Terkait

Yang Ditonton di TV Dialami Suami di Sebelahnya 

Para petugas KPPS yang berusia lebih dari setengah abad pun harus siap bekerja lebih dari 24 jam. Tanpa tidur. Bahkan, pulang ke rumah sendiri di sebelah TPS juga mereka tak sempat, meski cuma untuk urusan kamar mandi. 

R. AUFAR DHANI, Surabaya-M. RIDWAN, Balikpapan-SYUKRI D.A.,Pekanbaru   

TRI Yuli melirik jam tangan. Tengah malam telah lewat. Tubuh ibu tiga anak itu sudah demikian penat. Begitu merindukan tempat tidur. Maklum, telah 17–18 jam dia bekerja. Sejak Rabu pagi (17/4), sekitar pukul 06.30 Wita. 

Namun, usulan untuk beristirahat dulu dari perempuan yang berusia lebih dari setengah abad itu ditolak pengawas. Penghitungan suara di TPS 24 Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, Balikpapan, Kalimantan Timur, harus diteruskan sampai selesai.

Pada Kamis dini hari lalu itu (18/4), terpaksalah Tri yang sehari-hari menjadi guru ngaji melawan kepenatan. Apalagi, dia ketua kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di TPS tersebut. 

Kopi hitam dari gelas kesekian pun dia tenggak. Padahal, itu bukan minuman yang dia akrabi. ”Rasanya asem. Tapi, supaya bisa tetap melek, ya mau bagaimana lagi,” ujarnya saat ditemui di rumahnya kemarin.

Karena pilpres dan pileg dihelat serentak, beban yang dipikul semua petugas di bilik-bilik suara Pemilu 2019 memang demikian berat. Mulai pencoblosan; penghitungan; rekapitulasi suara untuk pemilihan presiden serta anggota DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD; hingga penyetoran kepada panitia pemilihan kecamatan. 

Dalam aturan juga digariskan, penghitungan surat suara harus dilanjutkan tanpa henti jika melewati pukul 00.00 pada hari penghitungan. Rentang waktu yang diberikan juga tidak lama: 12 jam. 

Jadi, jika penghitungan di sebuah TPS melewati tengah malam, harus dilanjutkan paling lama sampai pukul 12.00 hari berikutnya. 

Tidak boleh lebih. Jika berlebih, harus dihentikan sementara. Selanjutnya, tim pengawas melakukan investigasi dan mencari penyebabnya.

Keseluruhan proses bisa mencapai 24 jam. Bahkan lebih. ”Jam delapan pagi (Kamis, 18/4) baru selesai semua. Enggak mandi, saya langsung tidur,” ungkap Tri, lalu tertawa.

Jadilah para anggota KPPS nyaris tak punya waktu istirahat. Hanya jeda sebentar saat azan yang dimanfaatkan untuk salat sekaligus makan. 

Padahal, tak sedikit di antara para personel KPPS yang telah berusia di atas setengah abad. Salah satunya H. Amuin T. Pria 64 tahun itu menjadi anggota KPPS di TPS 005 Kelurahan Selatpanjang Timur, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. 

TPS itu sebenarnya persis di sebelah rumahnya. Tapi, bahkan untuk sekadar buang air kecil pun, dia memilih untuk menumpang di kamar mandi sang tetangga yang halamannya ditempati TPS tersebut.

”Biar cepat saja,” katanya kepada Riau Pos (jaringan Pontianak Post). 

Saat hari sudah masuk Kamis dini hari, jauh di atas jam tidur regulernya, Muin –sapaan akrabnya– tetap tangkas mengisi formulir model C1-KWK. Formulir itu menjadi bukti catatan pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara di TPS-nya. Tangannya cepat. Satu per satu lembar rampung diisi dan diasingkan sedikit jauh dari lembar yang belum terisi.

Jika terasa lelah, barulah dia beristirahat sebentar. Tapi, itu pun tidak benar-benar beristirahat. Muin memilih berjalan dari meja ke meja, memantau kerja kawan-kawannya sesama anggota KPPS. 

Menurut Muin, beban para petugas KPPS bukan hanya gerogotan ketahanan fisik karena bekerja dalam durasi yang demikian panjang. Tapi juga tanggungan psikis kalau sampai ada kekeliruan yang mengakibatkan diadakannya pemungutan suara ulang.

”Jika bermasalah atau bermain dan memanfaatkan demi kepentingan pribadi sehingga merusak tatanan demokrasi, tentu warga tidak percaya sama kami,” tutur dia. 

Yang bertugas sebagai saksi juga tak kalah capek. Amanda, saksi TPS 8 Tangkerang Tengah, Pekanbaru, harus stand by mulai pukul 7 pagi sampai pukul 7 pagi lagi keesokan harinya. ”Istirahat paling sedikit-sedikit saja,” katanya. 

Gempuran ketahanan fisik itulah yang akhirnya membuat sejumlah petugas, baik personel KPPS, PPS (petugas pemungutan suara), maupun yang bertanggung jawab pada keamanan, tumbang.

Misalnya yang menimpa Jenal, ketua KPPS di TPS 09 Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Seperti dikutip Radar Bogor, Plt Kanit Pol PP Kecamatan Cijeruk Esep mengatakan, Jenal awalnya tak sadarkan diri di TPS saat melakukan pengecekan. Lalu, Jenal dilarikan ke rumah sakit terdekat. 

Kapolsek Cijeruk AKP Anak Agung Raka menjelaskan, Jenal dinyatakan meninggal dunia saat mendapatkan penanganan intensif dari petugas medis di ruang IGD RS Melania.

Sebelumnya, menurut Esep, tak ada tanda-tanda Jenal sakit. ”Kondisinya terlihat sehat sebelumnya,” ungkap dia.

Di Surabaya, kekhawatiran Erni atas cerita sinetron yang ditontonnya berubah menjadi tangisan duka. Sang suami, Badrul Munir, petugas KPPS TPS 19 RT 04/RW 03 Kedung Baruk, berpulang saat rebahan sembari menonton televisi di sebelahnya kemarin pagi. 

Sinetron tersebut bercerita tentang petugas pemungutan suara yang kelelahan dan meninggal. Jalannya cerita begitu membekas di pikiran Erni. 

Sementara sang suami tidur tenang di sebelahnya. Tak mendengkur seperti biasanya. Tapi, firasat mendorong Erni untuk membangunkan Badrul. 

Badannya digoyang berkali-kali, Badrul tak bergerak. Erni dan sang anak, Wilda, pun panik. ”Ya Allah, Pak. Tolong...” teriak Erni dan Wilda seperti ditirukan sang adik, Tri Bahagia, saat ditemui kemarin. 

Tetangga berduyun-duyun datang. Beberapa di antara mereka sempat melakukan tindakan medis resusitasi jantung paru (RJP). Tapi, tak ada hasil. Dokter pun dipanggil. Nadi tangan dan leher dicek. Badrul dipastikan meninggal dunia sekitar pukul 09.00 kemarin. Diduga, faktor kelelahan dan riwayat penyakit yang pernah dia derita menjadi penyebab. 

Jenazah almarhum dikebumikan di tanah kelahirannya, Jombang, Jawa Timur, kemarin. ”Takdir Allah seperti ini. Kami harus terima meski berat,” kata Tri.

Badrul yang juga bekerja sebagai penjual perkakas rumah tangga keliling itu senang beraktivitas di luar rumah. Terkenal aktif ikut organisasi maupun perkumpulan di kampungnya.

Selama pemilu serentak yang digelar Rabu (17/4), Badrul mengerahkan waktunya sekitar 20 jam untuk memantau hasil penghitungan suara. Kondisi itulah yang dikhawatirkan oleh Erni. Meski sang suami memang terbiasa bekerja dari pagi sampai sore, bahkan malam. 

Padahal, honor sebagai petugas KPPS juga tak seberapa. Tapi, bagi orang-orang seperti Tri Yuli, Muin, Jenal, Badrul, dan ribuan lainnya yang bertugas dalam kapasitas apa saja selama pencoblosan 17 April lalu, bukan itu yang terpenting. Kebanggaan turut mengawal kelancaran pesta demokrasi yang diikuti total sekitar 192 juta pemilih mengalahkan segalanya. 

”Kami ini bukan pahlawan. Kami mau melakukan karena ini tugas negara, harus mau,” kata Muin. (nda/drk/c11/ttg)

Berita Terkait