Penghapusan Perbudakan, Sebagai Penegak Hak Asasi Manusia

Penghapusan Perbudakan, Sebagai Penegak Hak Asasi Manusia

  Selasa, 8 January 2019 10:28
TOORAS: Tonggak kayu (tooras) Bai’ Sarimas Balleh Pollokayu, monument penghapusan perbudakan pada tahun 1860 sekaligus sebagai menegakan Hak Asasi Manusia pada Suku Dayak Taman. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Berita Terkait

Mengunjungi dan Mengenal Rumah Betang Malapi Patamuan

Suku Dayak Taman, merupakan satu dari ratusan sub suku dayak yang tersebar di Kalimantan Barat. Suku Taman memiliki keunikan dalam menjalankan ritual adat, salah satunya Mamandung. Dulu, dalam ritual ini manusia atau budak dijadikan persembahan untuk leluhur. Sekarang ritual ini dilakukan menggunakan hewan atau binatang peliharaan.

ARIEF NUGROHO, Putussibau

Pada umumnya suku Dayak memiliki kemiripan adat istiadat dan budaya, tak terkecuali pada Dayak Taman Kapuas Hulu ini. Suku Dayak ini memiliki salah satu prosesi adat yang telah berlangsung turun temurun sejak zaman nenek moyang hingga kini.

Sabtu (5/1) siang, wartawan Pontianak Post berkesempatan mengunjungi salah satu rumah betang yang berada di Dusun Malapi Patamuan, Desa Malapi, Kecamatan Putussibau Selatan (lintas timur), Kabupaten Kapuas Hulu. Rumah Betang ini didiami oleh Suku Dayak Taman atau lebih dikenal dengan Orang Taman.

Jarak untuk menuju ke rumah betang Malapi Patamuan itu tidak lah jauh. Sekitar 20 menit dari Kota Putussibau menggunakan jalur darat. Untuk sampai di Betang Malapi Patamuan itu, kita harus menyeberang Sungai Kapuas menggunakan perahu motor dengan biaya cukup murah, Rp2000.

Setelah sekitar 5 menit menyeberangi kapuas, saya pun tiba di dermaga tepat di depan rumah Betang Malapi Patamuan. Setelah turun dari perahu, kemudian melanjutkan perjanan dengan meniti anak tangga hingga gapura.

Dilihat dari luar, Betang Malapi Patamuan ini miliki cirri khas tersendiri di bandingkan dengan betang suku dayak lainnya. Terutama pintu akses menuju betang (ulu tangka). Di sisi kiri dan kanan luar, terdapat belasan tonggak kayu berukir dibagian atas yang sebagian besar sudah mulai berubah bentuk karena usia. Tonggak-tonggak kayu itu disebut Tooras.

Sementara di sisi kanan (halaman) pintu masuk betang, terdapat bangunan permanen dengan lantai keramik menyerupai gazebo. Di dalamnya terdapat tonggak kayu yang sama dengan tonggak-tonggak kayu yang berada di luar tadi. Bedanya, tonggak kayu yang satu ini terdapat monument tulisan “Tooras Bai’ Sarimas Balleh Pollokayu”.

Kemudian disusul dengan tulisan “Tooras ini merupakan momumen penghapusan perbudakan (Ulun paangkat) pada tahun 1860, sekaligus menegakan Hak Asasi Manusia pada Suku Dayak Taman, sejak gawai tahun 1860 yang dijadikan kurban bukan lagi manusia tetapi sudah diganti dengan hewan peliharaan”. Prasasti atau monument tersebut dibangun pada 8 Juli tahun 2003 oleh Bupati Kapuas Hulu waktu itu.       

Melihat monument itu, saya menjadi penasaran, ada misteri apa dibalik monument dan tonggak kayu itu? Sehingga diistimewakan oleh masyarakat setempat.

Saat memasuki rumah betang, tepat di dinding pintu masuk tampak foto-foto kegiatan gawai masa lampau. Di dinding berikutnya papan bertuliskan keterangan kapan didirakan rumah betang, ukuran, luas lahan hingga bahan yang digunakan untuk mendirikan rumah betang.

Di dinding berikutnya terpampang papan yang berisi tentang silsilah keturunan. Kemudian dinding berikutnya terdapat foto berbingkai H. M Baromas Jabang Balunus, yang merupakan pejuang veteran Dwikora sekaligus salah satu pendiri rumah betang Malapi Patamuan.

Saya pun bertemu dengan beberapa orang di sana. Mereka begitu ramah dan hangat. Sebuah bidai atau tikar dibentangkan dan mempersilahkan saya duduk. Suasana kekeluargaan begitu terasa.

Di situ saya bertemu dengan nenek Adeliatima (78) dan nenek Rupina Lamudan (66), serta Paulus Imen Nua (49) dan Damianus Imen Balang (37). Mereka merupakan kerabat sekaligus keturunan dari orang yang namanya diukir dalam monument Tooras tersebut,  Bai’ Sarimas Balleh Pollokayu.

Mendengar namanya, saya semakin penasaran, siapa sebenarnya sosok  Bai’ Sarimas Balleh Pollokayu ini? kepala saya dipenuhi dengan tanda tanya.

Perlahan dan penuh hati-hati saya mulai bertanya kepada para sesepuh itu. “Beliau adalah kakek kami. Beliau yang pertama kali menghapuskan perbudakan,” ujar nenek Adeliatima.

Usianya tidak lagi muda, namun ingatan tentang sejarah masa silam, begitu melekat pada ingatannya.

Menurut Adeliatima, dahulu, suku Taman memiliki strata atau kasta dalam kehidupannya. Kasta tertinggi adalah Samagat (Bangsawan), kemudian Pabiring Bala’ Samagat, Pabirin Banua dan kasta yang paling rendah adalah Ulun Paangkat atau budak.

Setiap ritual Mamadung, orang dari kasta Ulun dijadikan korban persembahan kepada nenek moyang mereka.

Meski hingga saat ini, masyarakat Dayak Taman masih dilaksanakan tradisi Mamandung, namun bukan lagi manusia yang dijadikan persembahan, melainkan hewan peliharaan seperti sapi, kerbau atau pun babi.

Pada masa silam, tradisi ini merupakan suatu ritual adat yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada roh-roh nenek moyang mereka.

Orang Taman mempercayai kalau roh-roh nenek moyang telah memberkati hasil panen, pada masa itu Suku Dayak masih menganut kepercayaan kepada para roh-roh leluhur dan sang Pencipta Alam.

Tahun 1860, untuk pertama kali Mamadung diganti dengan hewan atau binatang peliharaan,

“Kakek kami tidak suka. Kasihan. Jangan kan manusia, kita melihat hewan saja kadang-kadang kasihan. Matanya berair, seperti menangis,” timpal Damianus Imen Balang (37), selaku juru pelihara situs.

Budak jaman dahulu di Kalangan Dayak Taman adalah tawanan perang atau pekerja (buruh kasar) melaksanakan pekerjaan sehari-hari, budak bisa dari orang luar yang ditangkap kemudian dipelihara sebagai budak.

Menurutnya, untuk menghormati perjuangan Bai’ Marimas Balleh Pullokayu, masyarakat pun membangun prasasti atau monument yang didalamnya terdapat Tooras. 

“Monumen ini sebagai tanda penghapusan perbudakan (ulun paangkat), sekaligus menegakan Hak Asasi Manusia pada Suku Dayak Taman,” jelasnya.

Menurut Damianus, Tooras milik Bai’ Sarimas Balleh Pollokayu baru ditemukan pada awal tahun 2000. Tooras itu pertama kali ditemukan oleh warga saat mencari buah durian di ladang.

Melihat Tooras itu, warga tersebut memberitahu kepada warga lainnya, untuk bersama-sama mencabut dan memindahkan Tooras tersebut.

“Awalnya Tooras itu tidak bisa dicabut. Bahkan oleh belasan orang. Setelah digelar ritual adat, akhirnya Tooras bisa tercabut dengan mudah,” kenangnya.

Hingga kini masyarakat, khususnya yang mendiami Betang Melapi Patamuan menjadikan Tooras tersebut sebagai benda yang memiliki nilai sejarah tinggi.

“Kami sebagai pewaris harus menjaganya,” katanya.

Rumah betang Malapi Patamuan sendiri didirikan sebelum Indonesia meredeka, yakti pada tahun 1942 dan selesai pada tahun 1943.

“Bulan Desember 2018 lalu, usianya sudah 75 tahun,” katanya.

Menurut Damianus, rumah betang ini memiliki panjang 135 meter terdiri dari 34 bilik dan didiami sekitar 64 kepala keluarga.

Sejak didirikan, rumah betang ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, terutama di bagian atap. Namun tidak merubah bentuk dan konsep. Sehingga ornament di dalamnya tetap utuh dan asli.

“Melalui SK Bupati No. 212/Th2012 tanggal 21 Juni 2012, betang ini masuk dalam daftar cagar budaya Kabupaten Kapuas Hulu,” terangnya.

Bagi masyarakat yang mendiami Betang Malapi Patamuan tidak hanya sekedar menjadi tempat hunian, tetapi juga menjadi tempat belajar. Tak heran betang Malapi Patamuan melahirkan beberapa tokoh besar, diantaranya Djeranding Abdurrahman, pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Kota Pontianak.

Ada juga F.C. Palaunsuka, yang dikenal sebagai salah satu pendiri Partai Dayak sekaligus pendiri Harian Kompas bersama I.J. Kasimo, Frans Seda, Jakob Oetama, dan Auwjong Peng Koen. (**)

Berita Terkait