Pengemis Tajir Punya Mobil

Pengemis Tajir Punya Mobil

  Kamis, 21 March 2019 09:57
TAJIR: Herman atau kakek Nur membuka mobil usai mengemis. Foto insert, kakek Nur saat ditangkap Dinas Sosial Kota Bogor karena kedapatan mengemis lagi, Rabu (20/3). Hendinovian / Radar Bogor

Berita Terkait

Penghasilan Dua Kali UMK

 

BOGOR - Jangan anggap remeh seorang pengemis. Siapa tahu dia lebih kaya dari Anda. Kakek Enur buktinya. Pria asal Cibubungbulang, Kabupaten Bogor  ini ternyata pulang-pergi mengemis menggunakan mobil. 

Pantas saja Herman disebut pengemis tajir.  Kakek yang biasa dipanggil Enur itu mampu meraup Rp150 ribu - Rp250 ribu dalam sehari dari profesi menengadahkan tangan itu.  Jika lagi ramai-ramainya dia bahkan bisa mendapatkan Rp400 ribu/hari. 

“Pak jangan dulu mengemis. Bapak sudah viral di media sosial,” itulah pesan anak Kakek Enur ketika dia hendak berangkat “kerja”, kemarin pagi (20/3). Tapi ucapan sang anak tak digubris. Pria itu tetap keluar rumah. Menumpangi mobil Xenia hijau dia berangkat ke kota dari rumahnya yang berlokasi di  Kampung Cisauk Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Dia tiba di simpang Yasmin, Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Kota Bogor sekitar pukul 06.00. Seperti biasa Kakek Enur langsung mengemis. Ketika lampu lalu lintas berwarna merah dia mulai berjalan dari satu mobil ke mobil yang lain. Terlihat beberapa pengemudi yang menurunkan jendela mobilnya dan menyerahkan sejumlah uang. 

Kakek Enur menerimanya sambil membaca doa. Begitu terus dilakukannya ketika ada pengendara yang memberikan uang. Kondisi wajahnya yang berlubang membuat banyak orang iba.

Namun baru  beberapa jam 'bekerja'', aktivitas Enur terpaksa terhenti. Sekitar pukul 09.00, petugas Satpol PP Kota Bogor datang dan membawanya  ke Kantor Satpol PP untuk diperiksa. Begitu juga dengan mobil Xenia yang kerap mengantar-nya. Setelah dinterogasi petugas, Herman atau Kakek Enur diserahkan kepada Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor untuk pendataan.

Kepada wartawan, dia mengaku sudah mengemis sejak tahun 1980-an. Tahun pastinya dia tidak hafal. Yang diingat saat itu Presidennya masih Soeharto. Jembatan Merah merupakan lokasi pertama dia mengamen. Setelah itu terus berpindah-pindah.  Sebelum menekuni dunia pengemis, Enur hanyalah petani biasa. Dia bahkan sempat pergi ke tanah suci pada tahun 1974 bersama istrinya.  "Saya dapat warisan sawah sama rumah, tahun 74. Sawah kemudian saya jual saya pakai naik haji. Kalau ngemis saya mulai tahun 80an di Jembatan Merah," ujarnya.

Dari pekerjaannya mengemis , Enur dalam sehari mampu mendapat Rp150 ribu hingga Rp250 ribu.  Atau Rp4,5 juta-Rp7,5 juta sebulan. Jumlah ini sama dengan dua kali upah minimum kota/kabupaten (UMK) Kota Bogor  (Rp3,5 juta). Namun nominal ini bisa lebih tinggi lagi. Sebab, saat diamankan oleh Satpol PP kemarin,  Enur  yang memulai mengemis sejak pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB sudah mengantongi uang Rp130 ribu. "Kalau lagi ramai  bisa Rp300 - Rp 400 ribu,” bebernya. 

Terkait istri tiga, Enur membenarkan perihal itu. Namun kondisinya adalah dia sudah bercerai sebanyak tiga kali. Kini ketiga istrinya telah meninggal. "Yang benar itu saya kawin cerai, semuanya sudah meninggal sekarang, yang terakhir 10 tahun lalu, sekarang bapak sendirian," ungkapnya.

Dia mengaku bahwa anak dan menantu mengetahui profesinya sebagai seorang pengemis. Namun tak bisa menolak. Sebab penghasilan putra dari istri pertamanya yang bekerja di Pamulang Parung sebagai petugas kebersihan hanya Rp800 ribu/bulan. Itu pun belum tentu menutupi kebutuhan selama sebulan. "Jadi hasil mengemis ini untuk membantu saja. Anak saya tahu saya mengemis. Tetapi mau bagaimana lagi karena memang kebutuhan untuk sehari-hari tidak terpenuhi," bebernya.

Enur berharap, pemerintah dapat memperhatikan kehidupannya dengan bantuan apapun. Sebab dia juga tak ingin lagi kembali mengemis di jalan. Sebab selama ini Enur mengaku belum pernah mendapatkan bantuan baik dari pemerintah daerah maupun desa. "Saya juga tidak tahu kenapa tidak mendapatkan bantuan. Mungkin karena saya orang tidak punya jadi di sisihkan saja. Hanya sembako dapat sebulan sekali, nebus Rp10 ribu ke RW," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor Azrin Syamsudin mengatakan dari informasi yang dia dapat, Kakek Enur  merupakan juragan angkot yang juga memiliki rumah mewah. Namun belum diketahui berada dimana. 

Jika memang terbukti demikian, Azrin menegaskan bahwa pengemis itu akan dikenakan hukuman penjara dan denda uang tunai. Karena melanggar  Perda 8 tahun 2011 tentang ketertiban umum.  “Harusnya dikenai kurungan enam bulan dan denda Rp50 juta sesuai Perda,”  pungkasnya.  

Berdasarkan penelusuran, Kakek Enur selalu berpindah-pindah tempat “kerja”. Dia beberapa kali kedapatan mengemis di  simpang Semplak. Bahkan penah di Jembatan Merah hingga sekitaran kampus IPB. (*/d)

 

 

Kakek Enur, asal Bogor yang Viral (2)

 

Penghasilan Dua Kali UMK Bogor, Mengemis Sejak Era Soeharto

 (gal/d)

Berita Terkait