Pengalaman First Flight Tak Akan Terlupakan

Pengalaman First Flight Tak Akan Terlupakan

  Selasa, 22 March 2016 09:01
TES FLIGHT : Siska Maulidya saat menjalani uji coba menerbangkan pesawat seorang diri. DOKUMEN SISKA

Berita Terkait

Siska Bakal Jadi Pilot Wanita Berhijab Pertama Asal Kalbar

Salah satu putri asal Kota Pontianak, Siska Maulidya berhasil masuk di Bali Intenarional Flight Academy (BIFA), menjalani pendidikan sebagai seorang pilot. Jika lulus dipastikan menjadi pilot wanita berhijab pertama asal Kalbar. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Tak lama lagi Siska Maulidya, bakal membuktikan bahwa wanita berhijab memiliki kesempatan yang sama dengan wanita lain untuk menekuni profesi pilot. Sekitar bulan Agustus atau September mendatang dara kelahiran Kota Pontianak 19 tahun lalu ini akan selesai menempuh pendidikan sebagai pilot di Bali Intenarional Flight Academy (BIFA). 

“Setelah selesai tinggal melanjutkan pendidikan ke multi engine selama sekitar dua bulan, baru kemudian  bisa mendaftar jadi pilot di maskapai penerbangan,” ungkapnya dengan nada bahagia saat dihubungi Pontianak Post, Senin (21/3) tadi malam.

Siska menceritakan awal ketertarikannya ingin menjadi pilot karena melihat sang paman. Dari sana dia pun mulai termotivasi. Ditambah wanita juga masih jarang menekuni profesi ini. Untuk di BIFA sendiri dia mengatakan se-angkatan hanya dia satu-satunya wanita, dan berhijab pula. “Sejauh ini yang berhijab hanya ada satu senior, dengan saya jadi ada dua orang,” katanya.

Untuk bisa masuk dan menjalani pendidikan di BIFA juga tak mudah. Banyak sekali orang dari seluruh Indonesia ingin masuk BIFA. Ada yang lulus dan ada yang gugur karna proses seleksinya cukup ketat dengan tandar yang tinggi. Setiap batch atau angkatan di BIFA hanya menerima maksimal 24 siswa. 

Akademi dengan pusat pelatihan berlokasi di pangkalan udara Letkol Wisnu Bali, Desa Sumberkima ini menyediakan program pelatihan yang cepat. Dengan waktu minimal 10 bulan dan maksimal 12 bulan sudah mendapatkan Commercial Pilot License. 

Sekolah pilot yang terkenal dan telah diakui secara internasional ini memberikan tiga program pendidikan dan pelatihan bagi para calon penerbang untuk memenuhi persyaratan Directorate General of Civil Aviation (DGCA) dan International Civil Aviation Organization (ICAO). 

Kemudian selanjutnya bisa memperoleh lisensi Private Pilot License (PPL), jenis lisensi pilot yang diperkanan untuk menerbangkan pesawat pribadi atau swasta. Commercial Pilot License (CPL) lisensi pilot yang diperkanankan  untuk menerbangkan pesawat komersial dan Instrument Rating (IR) yaitu lisensi tambahan untuk penerbang yang sudah profesional.

Alumni SMA Negeri 1 Pontianak tahun 2015 ini mengaku sebelum memulai pelatihan penerbangan dirinya harus mengikuti pendidikan bersama tentara Angkatan Darat di Bali. Berlangsung selama sepuluh hari, tujuh hari berada di Rindam Udayana sebelum kemudian dibawa ke hutan untuk melakukan jungle dan survival selama dua hari. “Di sana saya tidur di hutan bakau dan di pohon-pohon,” kisahnya. 

Setelah sepuluh hari peserta didik akan dikembalikan di BIFA dan menjalani Ground School selama kurang lebih satu bulan. Sampai satu bulan setengah belajar di kelas untuk persiapan terbang. Usai ground school dilanjutkan dengan ujian DGCA atau ujian negara. Anak didik dites seberapa jauh pengetahuannya. “Jika tidak lulus ujian ini maka tidak boleh terbang. Setelah melewati ujian negara barulah dilanjutkan dengan simulator terlebih dahulu, kemudian barulah melaksanakan first flight bersama intruktur,” ungkapnya. 

Pengalaman first flight menurutnya tak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Karena momen ini sangat ditunggu-tunggu setelah ground school. Para siswa ditargetkan sebelum 20 jam harus sudah bisa solo alias terbang sendiri tanpa instruktur. Pengalaman first solo inilah yang tak kalah hebohnya. Sangat menyeramkan, karena harus membawa pesawat sendiri tanpa instuktur. “Jadi jika ada apa-apa di atas, semua kontrol berada di tangan sendiri, keputusan semuanya ada pada kita,” terangnya. 

Lebih detail remaja yang tinggal di Jalan Parit H Husien II ini menceritakan pengalaman terbang solonya. Tepatnya terjadi pada 26 Februari lalu Siska terbang pukul 12.00. Awal terbang bersama instruktur untuk touch and go 2. Kedua dirinya diminta untuk full stop karena nose strat pesawatnya bermasalah. “Jadi saya harus menunggu maintenance perbaikan pesawat,” terangnya.

Setelah pesawatnya selesai diperbaiki dia pun lanjut terbang lagi bersama fi nya, dua kali touch and go kemudian full stop. Di sana dia sempat bingung karena pesawatnya bermasalah lagi. “Apa salah saya, tapi akhirnya pesawatnya tidak bermasalah,” ucapnya. 

Lalu dia melanjutkan dan melandingkan pesawatnya lalu taxi. Saat taxi menuju ke apron, sang fi dikatakan banyak memberi masukan kepada dirinya. “Seperti memberikan petuah-petuah,” ucapnya. 

Saat itu dirinya belum sadar akan dikasi kesempatan solo. Ternyata saat di parkiran pesawat Fi menghubungi, “Selaparang tower PK-ROO request for keep engine running for my student first solo, sumpah pas dengar itu langsung senang sekali, saya senyum-senyum sendiri sambil melihat Fi-nya, Fi mengatakan hati-hati semua keputusan ada di kamu,” katanya menceritakan.

Akhirnya Siska berkesempatan terbang sendirian. “Itu rasanya pengen teriak-teriak, sumpah senang sekali, tapi takut juga karena jika tidak fokus bisa bahaya,” ungkapnya.

Akhirnya dia memutuskan untuk tetap fokus, agar bagaimana pun caranya harus landing dengan selamat. Dia pun terus terbang, touch and go dan full stop hingga landing. Setelah landing dia diberi landing time oleh ATC nya. “Saat sudah selesai ngeread back landing time, eh anak lift menyelamatkan pakai radio, selamat Siska sudah solo, wah tidak menyangka bisa diselamatkan pakai radio dengan flying school lain lagi,” ujarnya. 

Akhirnya dia pun berhasil memarkirkan pesawat. Saat keluar dari pesawat ada prosesi tiarap sampai ke nose wheel terus push up lalu dilanjutkan mencium ban. “Sumpah itu senang banget,” akunya.

Setelah lulus pendidikan dan mendapat lisensi kelak, Siska berharap bisa langsung bekerja sebagai pilot di maskapai penerbangan. “Pastinya maskapai yang sudah mengizinkan pilot menggunakan hijab, karena tidak semua maskapai sperti itu dan saya tidak akan membuka hijab dalam bekerja,” harapnya.**

Berita Terkait