Pengajar dan Sahabat Mahasiswa

Pengajar dan Sahabat Mahasiswa

  Kamis, 19 July 2018 10:00

Berita Terkait

PROFESI dosen kerap jadi incaran generasi muda yang baru menyelesaikan studi magisternya. Jangan heran jika kamu menemukan dosen yang usianya baru di bawah 30 tahun. Namun, menjadi dosen di usia muda bukanlah perkara yang gampang. Khususunya saat mengajar di depan mahasiswa yang masih seumuran, atau hanya berbeda usia beberapa tahun. Dosen muda dituntut untuk harus tetap tampil percaya diri. (ghe)

Hadapi Ratusan Karakter Mahasiswa

Firman Shantya Budi, S.Pd., M.Sc

29 tahun

Dosen FKIP Prodi Kimia Untan

“Saya memulai karir jadi dosen saat usia 26 tahun.  Bahagia banget di usia muda bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman, mendidik, serta menjadikan mahasiswa berkarakter. Saat mengajar pertama kali tentu ada rasa grogi karena harus menghadapi ratusan mahasiswa dengan berbagai karakter dan tingkah laku yang belum pernah ditemui dan dirasakan.

Belum pernah menghadapi mahasiswa yang sulit diatur. Senakal-nakalnya mahasiswa, masih bisa diberitahu dan ditegur. Sempat juga nostalgia seperti diajar sekarang mengajar. Sekarang jadi partner dengan dosen yang mengajar. Saat melihat kondisi kelas teringat dengan tingkah laku bersama teman satu angkatan saat belajar, diskusi, dan rapat. Apalagi, baik ruangan maupun laboratorium nggak ada yang berubah.

Tips menghadapi mahasiswa seperti ini adalah sering melakukan pendekatan positif dengan mahasiswa, misalnya hadir dalam acara kemahasiswaan. Dengan begitu, mahasiswa akan dekat dan selalu mendengarkan apa yang diperintahkan. Dari situ, saya juga bisa menggali keluhan dan kelemahan mahasiswa kemudian memberinya solusi. Kemudian, jangan pernah sombong. Kalau mahasiswa negur, harus negur balik. Dijamin mahasiswa akan segan. Saat memasuki kelas dan mulai mengajar, jangan lupa menampilkan wajah yang gembira dan bersemangat. Mahasiswa jadi nggak tegang. Tapi, tetap ingat wibawa juga sebagai dosen.” 

Hilangkan Sekat, Tetap Profesional

Risko, S.Si., M.Si

27 tahun

Dosen Ilmu Kelautan FMIPA UNTAN

“Saya termotivasi menjadi dosen sejak SMA. Senang bisa menjadi seorang dosen di usia muda, serta bekerja sesuai dengan keinginan dan cita-cita. Ada kepuasan tersendiri bisa memberikan sumbangsih pemikiran kepada Indonesia dalam bentuk penelitian. Sebelum menjadi dosen, saya sempat bertindak sebagai asisten dosen dan asisten praktikum yang diharuskan untuk mengajar, berbicara di depan mahasiswa, dan mengajari mereka tentang suatu hal. Sehingga, cukup membekali saya saat menjadi dosen.

Sempat khawatir, senang, dan takut juga apakah mahasiswa mengerti apa yang dijelaskan. Saat mengajar saya sering menemukan mahasiswa yang sulit diatur, terutama saat disuruh membuat tugas kuliah, laporan praktikum yang sering kali telat bahkan nggak mengumpulkan tugas. Ada juga yang telat masuk kuliah. Terkadang, hal-hal ini membuat saya sedikit bernostalgia.

Saat mengajar saya sedikit selipkan cerita tujuannya agar mahasiswa termotivasi agar tetap semangat belajar dan mengembangkan diri karena saya pikir saat menjadi mahasiswa soft skill dan talenta mereka akan terbentuk. Saya cukup dekat dengan mahasiswa dan senang berinteraksi dengan mereka. Bagi saya, jabatan seorang dosen bukanlah hal yang membuat sekat antara dosen dan mahasiswa, apalagi umur saya nggak terlalu jauh beda dengan mahasiswa. Tetapi tetap profesional saat jam kerja yang bisa membedakan saat santai dan serius.”

Tegas Namun Tetap Bersahabat

Septami Setiawati, S.Si, M.Sc., MCSM.

24 tahun

Dosen Teknik Pertambangan Untan

“Rasanya masih percaya dan nggak percaya bisa diberi amanah sebagai dosen. Setahun lalu masih duduk sebagai mahasiswa, sekarang posisinya sudah berdiri di depan kelas sebagai dosen. Pertama kali mengajar masih canggung. Harus ngajar 2-3 sks sekali tatap muka. Jadi kagum dan salut sama para guru dan dosen yang bisa mengajar selama itu.

Saat di depan kelas jadi bisa mengamati berbagai ekspresi wajah mahasiswa, ada yang ngantuk, datar, dan bingung. Sejauh ini belum nemu mahasiswa bandel sampai kurang ajar, sih. Paling kesal ketika mahasiswa telat hampir satu jam setelah kuliah dimulai, sedangkan saya nggak suka orang yang terlambat dan selalu berusaha untuk nggak terlambat.

Sukanya karena beda umur yang nggak terlalu jauh dengan mahasiswa, jadi komunikasi bisa lebih mudah. Namun demikian, masih perlu banyak belajar, baik menyelami psikologi mahasiswa maupun belajar tentang hal-hal yang berkaitan langsung dengan bahan ajar. Kesalnya kalau ada mahasiswa yang berulah. Tapi, semoga saja itu cuma perasaan. Mahasiswa itu layaknya balita yang masih meraba-raba karakter orang tuanya. Jadi, jika sejak awal diberi rambu-rambu yang jelas, karakter dosen akan lebih mudah dimengerti. Tegas, namun tetap berusaha bersahabat dengan mahasiswa. 

Berita Terkait