Pengabdian Bidan Desa

Pengabdian Bidan Desa

  Minggu, 24 July 2016 10:51
TAK ADA JEMBATAN: Nurul Indawati (kanan) dan Rurita Tita Hesti harus menyeberangi derasnya arus sungai untuk menemui ibu hamil di Desa Pojoklitih, Kecamatan Plandaan, Jombang | FOTO Jawa Pos.

Berita Terkait

Harus Tangani Dua Pasien Beda Lokasi

Kendati baru dua tahun bertugas di daerah terpencil di Kalbar, banyak pengalaman yang diperoleh Nurul Huda. Perempuan 25 tahun ini bertugas sendiri di desa dengan tiga kampung yang terpisah sungai. Ia pun harus menangani dua pasien dalam waktu yang sama, namun tempat berbeda.

Nurul Huda berasal dari Sambas. Tak heran, ia pun sangat senang ketika bertugas sebagai bidan di kabupaten tersebut. Tepatnya di Desa Sagu, Kecamatan Galing. Ia mulai bekerja sekitar 2,5 tahun lalu. 

Nurul pun tak terlalu kaget ketika mengetahui kondisi tempatnya bertugas, karena memang dia juga berasal dari lingkungan yang sama. Tetapi bertugas sendiri di desa yang terdiri dari tiga kampung terpisah sungai, memiliki cerita tersendiri.

“Artinya dalam ruang lingkup satu desa saya harus menangani tiga tempat berbeda. Itu salah satu kesulitan karena tidak bisa melewati jalan darat langsung, harus melalui sungai-sungai,” ungkapnya.

Setiap momen menjadi pengalaman menarik bagi Nurul. Sambutan warga di sana begitu ramah, dan ini membuatnya betah tinggal di Pondok Bersalin Desa (Polindes), Desa Sagu. 

“Dari tiga kampung yang terpisah, saya tinggal di kampung yang paling ujung namanaya di Aur,” jelas Nurul.  

Ada satu kejadian yang tak pernah dilupakan Nurul, yaitu ketika harus menangani dua pasien di waktu yang sama, namun tempat berbeda. Kala itu Nurul yang sedang menolong satu pasien ibu yang akan melahirkan, kemudian mendapat panggilan lagi dari tempat berbeda. 

Lokasi ibu melahirkan tersebut tak mudah dicapai. Dia harus melalui sungai menggunakan motor air. Jarak tempuh antar tiga kampung lumayan jauh. 

“Dua kampung agak dekat bersebrangan, yang satu lagi agak jauh sekitar 15 sampai 20 menit pakai motor air. Tapi Alhamdulillah bisa menanganisemua, habis satu tempat saya langsung pindah ke tempat satunya,” cerita Nurul.

Tugas pokok Nurul sebagai bidan diantaranya menjaga kesehatan ibu dan anak, mulai dari ibu hamil, melahirkan, sampai nifas. Hanya saja karena di kampung terpencil dirinya dituntut harus serba bisa. “Yang sakit pun yang harusnya ruang lingkup perawat, harus saya kerjakan, asal sesuai dengan kemampuan. Jika memang tidak maka disarankan dirujuk ke Puskesmas,” tutur Nurul.  

Beruntung alat dan fasilitas pendukung cukup baik. Misalnya obat-obatan dari puskesmas dan pribadi selalu tercukupi. “Jika ada kesulitan terhadap pasien, kami langsung rujuk, harus tepat karena menghitung jarak ke puskesmas yang lumayan jauh,” pungkasnya.

Bidan desa lainnya, Puspita Sari juga mendapatkan banyak pengalaman saat bertugas. Ia harus melalui jalan bebatuan untuk membantu ibu melahirkan. Bahkan, terkadang harus menginap hingga tiga hari di rumah pasiennya. Namun, ia tetap mencintai pekerjaannya sebagai bidan desa. 

Sebagai bidan, Puspita atau Pita tak hanya melayani pasien di tempat bertugasnya. Ia juga ringan tangan membantu warga yang hendak melahirkan di rumah. Bahkan, jika ada yang meminta bantuan dan menjemputnya pada malam hari, Pita pun bersedia. Padahal jarak tempuh rumah pasien cukup jauh.

Pita pun rela merawat dan menginap di rumah pasiennya. “Ada kepuasan sendiri jika menyelamatkan ibu dan anak dalam proses persalinan. Sepertinya saya telah berhasil dalam tugas,” ujar Pita tersenyum.

Pita adalah bidan PTT di Desa Retok, Kubu Raya. Ia bertugas di sana selama hampir empat tahun. 

“Namanya tugas, ya harus terima apapun risikonya. Tetapi terlepas dari semua itu, serahkan kepada yang Kuasa,” ucap perempuan berusia 29 tahun ini. 

sabar.

Lulusan salah satu sekolah tinggi ilmu kesehatan yang ada di Jakarta ini mengatakan ia sangat senang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Selama bertugas di sana, ia bersyukur masyarakat mulai memahami arti keberadaan pos kesehatan.

Sebelumnya, beberapa warga ada yang enggan memeriksakan kesehatan atau memanggil bidan ketika akan melahirkan. Tetapi seiring berjalan waktu, kesadaran masyarakat pun mulai meningkat. Warga pun memeriksakan kehamilan dengan bidan.

Pita berusaha terus mendorong dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan terutama ibu dan anak. Ia pun tak mengeluh ketika menghadapi jarak tempuh ke desa selama tiga jam melalui jalur air ini. Saat ini Pita tinggal di rumah dinas. 

“Sebagai pelayan masyarakat, saya senantiasa melakukan tugasnya dengan baik. Namun yang namanya tugas, tentunya hal itu harus diterima dan dijalani dengan ikhlas,” ungkapnya. 

Semangat baja demi melayani warga juga ditunjukkan oleh Nurul Indawati, 39, bidan Desa Pojoklitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang. Meski harus melintasi perjalanan jauh dan melelahkan, niatnya tidak pernah surut untuk menjalankan tugas sebagai bidan desa di wilayah terpencil tersebut. 

Dia harus mengeluarkan tenaga ekstra sebelum melayani masyarakat. Betapa tidak, untuk menuju Dusun Nampu, salah satu wilayah di Desa Pojoklitih, dia harus

berjalan kaki sejauh empat kilometer dan melintasi sungai tanpa jembatan. Jarak dari puskesmas pembantu (pustu) desa ke Dusun Nampu memang jauh. 

“Tetapi, kami tetap semangat dan ikhlas mengabdi,’’ kata Nurul. 

Perempuan asal Mojokerto, itu sudah 15 tahun bertugas di Desa Pojoklitih. Tepatnya sejak awal 2001. Namun, dia tak pernah mengeluh atau merasa kecewa. 

Sebulan sekali ibu dua anak itu harus melintasi sungai dengan berjalan kaki untuk menempuh jarak empat kilometer demi melayani masyarakat. Nurul mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama 15 tahun bertugas di Desa Pojoklitih. Misalnya, saat menolong persalinan warga yang tinggal di pelosok. “Di sini fasilitas terbatas, akses jalan sulit, kendaraan tidak bisa masuk,’’ ungkapnya.

Kondisi tersebut menuntut dia harus bekerja ekstra. Bukan sekali atau dua kali Nurul harus mendatangi rumah warga yang hendak melahirkan. ’’Soalnya, dalam situasi emergency, sangat berisiko jika warga harus memandu ibu hamil ke puskesmas,’’ jelasnya.

Saat ini Nurul tidak sendirian. Dalam bertugas dan menjalankan pengabdiannya,

Nurul semakin bersemangat setelah dibantu bidan lain, Rurita Tita Hesti, 26. Selama setahun terakhir, Rurita Tita Hesti selalu menemaninya bertugas. (Idil Aqsa/deziyanti/JP)

Berita Terkait