Penerbit Berperan Mempertahankan Literasi Membaca

Penerbit Berperan Mempertahankan Literasi Membaca

  Jumat, 4 May 2018 11:00
BERTAMU: CEO Mizan Wacana saat bertamu ke Graha Pena Pontianak Post, kemarin. SITI SULBIYAH/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Penerbit Mizan Bertandang ke Pontianak Post

Penerbit Mizan bertandang ke Graha Pena Pontianak Post, Kamis (3/5). Mereka ingin berdiskusi terkait literasi membaca di Kalimatan Barat. Peran penerbitan dalam upaya peningkatan literasi membaca turut menjadi bahan pembicaraan. 

SITI SULBIYAH, Pontianak

BEREDARNYA sejumlah buku bacaan yang diterbitkan oleh penerbit ke sejumlah daerah sangat berkorelasi dengan tingkat literasi di daerah itu. Jika suatu daerah memiliki literasi membaca yang baik, maka jumlah buku yang disebarkan oleh penerbit untuk dijual ke daerah itu jumlahnya akan besar. Demikian pula jika kondisi sebaliknya, semakin rendah tingkat literasi membaca suatu daerah, maka distribusi buku oleh penerbit ke daerah itu juga aka lebih sedikit. 

Hal inilah yang dirasakan oleh penerbit buku, Mizan. Ahmad Baiquni, CEO Mizan Wacana mengatakan Kalbar memiliki tingkat literasi yang masih rendah. Sehingga pihaknya belum mendistribusikan banyak buku dengan judul yang lebih beragam ke daerah ini. Diakui dia, jika melihat statistik distribusi buku yang diterbitkan olehnya, maka Kalimatan Barat termasuk yang masih rendah.

“Kecenderunganya mengarah ke kota-kota besar, utamanya di Pulau Jawa, Sumatera, dan dan Sulawesi,” ungkapnya.

Di samping itu, dengan jumlah yang tidak banyak pula, berdampak pada ongkos kirim ke daerah yang tingkat literasinya masih rendah. Dengan demikian, harga buku yang dijual lebih mahal dari daerah lainnya.

“Kalau di Kalbar ada beberapa judul buku dengan segmen pembaca yang lebih spesifik tidak kami pasarkan. Beberapa tema yang cenderung laku di Kalbar ini seperti yang bertemakan Agama, buku anak, serta novel-novel populer yang pangsa pasarnya besar,” jelasnya. 

Meski bisnis buku tidak menjadi tujuan utamanya, namun hadirnya bisnis di bidang penerbitan buku menurutnya akan menjaga eksistensi buku serta menjaga minat baca masyarakat Indonesia. Sebab buku hingga saat ini belum tergantikan dengan media lainnya. Jika pun ada, namun tidak menggantikan seutuhnya.

“Buku itu pembahasannya lebih dalam dan luas. Kalau media lain seperti visual, tidak akan mengupas terlalu dalam,” katanya.

Dorongan untuk meningkatkan literasi pun menurutnya mesti untuk dilakukan. Intervensi dari berbagi pihak melalui program yang saling terlintegrasi harus segera diwujudkan. Hal ini mengingat arus perkembangan teknologi membuat generasi milenial cenderung menyukai media belajar lain ketimbang buku. Utamanya media yang menyajikan secara audio dan video. 

Dalam diskusi tersebut di juga sempat mengkritisi budaya literasi di Indonesia. Menurutnya masyarakat Indonesia telah melompati budaya dari budaya lisan ke budaya visual, tanpa melalui budaya literasi dan tulisan. Terlebih lagi mereka memang cenderung malas membaca. 

Dengan begitu, mewujudkan budaya literasi bagi masyarakat Indonesia perlu mendapatkan dorongan yang kuat. Selain pemerintah dan peran serta keluarga, kehadiran penerbit buku juga tak kalah pentingnya. Sebagai wadah yang menerima karya, mencetak, publikasi serta memasarkan buku, peran penerbit buku tidak dapat dianggap sebelah mata. Mereka turut mendorong peningkatan budaya literasi di negeri ini dengan menghadirkan buku-buku menarik dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak.

Melihat perannya yang tak kalah penting, maka menurutnya penerbit juga perlu diperhatikan oleh pemegang dan penegak regulasi. Semisal, hak-hak serta perlindungan terhadap hasil karya.

“Dilindungi hak atas kekayaan intelektualnya, dibayarakan royaltinya, serta oleh pihak berwajib mesti mencegah dan menindak dari upaya-upaya orang yang berusaha memperbanyak karya tanpa seizin pemilik karya,” pungkas Marcomm Mizan Pustaka, Peter Walandouw yang turut hadir dalam pertemuan tersebut.(*)
 

Berita Terkait