Pendidikan di Era Disruptif

Pendidikan di Era Disruptif

Senin, 11 December 2017 08:45   3,393

AKHIR-akhir ini, diskursus tentang “Era Disruptif” dibicarakan karena perannya merubah paradigma bepikir dan bertindak masyarakan agar mereka mampu bertahan hidup. Jika tidak, mereka akan punah atau mati.

Disruptif (disruption) sering kali dimaknai sesuatu yang mengganggu, dan untuk tetap mampu bertahan hidup, gangguan tersebut harus disikapi secara bijaksana sesuai zamannya, dimana motivasi dan menjaga kualitas saja tidak cukup.

Perusahaan Kodak dan Nokia yang selama ini dikenal sangat ketat mengontrol mutu, bangkrut seketika tanpa dibayangkan dan dipahami oleh pemiliknya seraya berkata “Apa salah kami”. Tanpa disadarinya banyak competitor tersembunyi yang dari sejak awal berusaha mengalahkannya. 

Dikatakan, “Teknologi baru justru menyebabkan banyak perusahaan besar gagal mengembangkan usahanya”, dikutip dari Clayton Christensen (1997) dalam bukunya “The Innovator’s Dilemma”.

Dunia hari ini tengah menyaksikan teknik baru dalam pengobatan yang mengubah wajah dan kepemimpinan rumah sakit. Faktanya, untuk menguji gula darah, kolestrol, asam urat dan banyak penyakit lainnya tidak perlu mengeluarkan setetes darah, cukup jempol anda ditekan di layar handpone, maka layar handpone anda akan menginformasikan kondisi kesehatan anda secara akurat. Suatu hari nanti, pemimpin dan memilik rumah sakit bukan lagi seorang berprofesi dokter, melainkan para ahli Information Technology (IT).  

Fenomena lain, di dunia usaha sekarang ini tidak mempersyaratkan ijasah ketika menerima (rekrutmen) pegawainya. Perusahaan tersebut hanya membutuhkan kompetensi sehingga uji kompetensi merupakan tahapan penting. Dampaknya, banyak perguruan tinggi dan sekolah yang dikenal prestesius (ternama) di dunia saat ini mulai goyang dan tidak sedikit tutup, dikutip dari Kavin Carey (2015) dalam bukunya “The End of College”. Yang berkembang pesat saat ini justru lembaga-lembaga pendidikan nonformal seperti lembaga kursus yang secara nyata memberikan kompetensi kepada peserta didiknya. Neil Postman (2005) dalam bukunya “The End of Education” telah lama mengingatkan bahwa matinya pendidikan karena pengelolaan pendidikan kehilangan arah, yang terlihat hanya orang sibuk mengurus pendidikan yang tidak terarah itu. Belakang ini tersiar khabar, banyak siswa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau pendidikan vokasi menganggur di negeri ini padahal lapangan pekerjaan telah disiapkan untuk mereka karena tidak memiliki kompetensi sebagaimana diharapkan. 

Untuk mampu bertahan hidup di era disruptif ini, setiap orang dan institusi harus merubah paradigma berpikir dan cara berkehidupan.

Asumsi Charles Darwin, yang menyatakan bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat ditentukan dari kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi sebagai dampaik dari proses pembelajaran yang dialaminya. Asumsi tersebut barangkali masih dapat digunakan di era disruptif ini.

Rhenald Kasali (2017) dalam bukunya “Disruption” mengingatkan, “tidak ada yang tidak bisa diubah sebelum dihadapi, motivasi (harapan dan keinginan) saja tidak cukup”. Di bagian lain, kembali ia mengingatkan, “setiap orang harus tahu posisi dirinya dan tahu harus kemana ia melangkah (where we are, and where we are going to). 

Disadari, tentu saja banyak hal terkait pendidikan di era disruptif ini yang tidak mungkin dapat dihadapi oleh mereka yang tidak paham fenomena ini, penulis membatasi diri pada tiga hal, yakni: regulasi, kompetensi dan strategi pendidikan dan pembelajaran.

Penulis sependapat dengan bapak M. Nasir selaku Menristekdikti meminta kepada para rektor mengeluarkan regulasi baru yang sesuai perkembangan zaman”, dikutip dari harian Pikiran Rakyat, 29 Nopember 2017.

Penulis amati, regulasi di bidang pendidikan memiliki peran strategis dalam memajukan pendidikan, namun dalam prakteknya regulasi tersebut justru menghambat kemajuan di dunia pendidikan. 

Belajar kepada Finlandia, negara yang dikenal sangat maju pendidikannya, memulai pembangunan pendidikan melalui penataan kembali regulasi pendidikan di negara tersebut.

Di era disruptif ini, sangat banyak regulasi pendidikan yang mesti disempurnakan atau memerlukan peninjauan kembali terutama mengkaji kembali naskah akademik yang menjadi dasar penyusunan regulasi pendidikan. Pengalaman penulis membahas berbagai peraturan daerah tentang pendidikan terkesan bahwa naskah akademik tidak dibuat dengan baik oleh ahlinya, naskah akademik bidang pendidikan dibuat sebatas memenuhi peryaratan penyusunan perundang-undangan semata.

Selain regulasi pendidikan, kompetensi dan ketrampilan (subject matter) yang harus dimilik oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi yang diperlukan di era disruptif. Terkait dengan kompetensi dan ketrampilan di era disruptif tersebut, penulis kutip pendapat Jeffrey H. Dyer, Hal B. Gregersen, and Clyton M. Christensen (2013) dalam bukunya “The Innovator’s DNA” yang mengemukakan 5 (lima) “Discovery Skill of True Innovator”, yakni; associating; questioning, observing, experimenting, and networking. 

Secara singkat lima ketrampilan atau kompetensi tersebut dijelaskan berikut ini. Associating adalah kemampuan berpikir asosiasi. Sederhananya, kemampuan menghubungkan bidang ilmu, masalah atau ide, dimana orang lain memandangnya tidak berhubungan. Dalam menyelesaikan setiap masalah selalu ditinjau dari berbagai presfektif atau multi disipliner. Guestioning adalah kemampuan bertanya yang sangat penting, namun terabaikan selama ini.

Kemampuan mengamati (observing skill). Seorang innovator carefully, intentionally, and consistenly look out for small behavioral details. 

Berikutnya, kemampuan melakukan percobaan (experimenting skill). Seorang innovator selalu mencoba pengalaman baru dan mengemudikan ide-ide baru tersebut. Bagi mereka, tidak ada kegagalan, semua ketidakberhasilan melakukan eksprimen merupakan sebuah kesuksesan yang tertunda. Thomas Alva Edison mengatakan, “I haven’t failed, I have found 10.000 ways that do not works.

Ketrampilan terakhir adalah kemampuan melakukan jejaringan (networking skill). Para inovator menghabiskan banyak waktu dan enerji untuk menemukan dan menguji ide-ide melalui berbagai jaringan individu dan social yang berbeda latar belakang dan prespektif, mencari secara aktif ide-ide baru dengan berbincang bersama orang yang memberi pandangan tentang sesuatu yang secara radikal berbeda.  

Menurut penulis, lima ketrampilan tersebut adalah isi (content) penting dalam pendidikan dan pembelajaran di era disruptif yang selama ini isi pembelajaran kurang memperhatikan lima ketramplan dan kompetensi tersebut. Faktanya, kemampuan bertanya siswa atau mahasiswa sangat rendah, sekalipun ada yang senang dan trampil bertanya, terbatas pada siswa dan mahasiswa tertentu saja. Demikian pula empat ketrampilan innovator lainnya. 

Keberhasilan pendidikan dan pembelajaran di era disrupsif, selain memerlukan regulasi yang baik dan benar, isi pembelajaran sesuai kompetensi yang diperluka, hal lain yang sangat diperlukan adalah strategi pendidikan dan pembelajaran. 

Memperhatikan berbagai karakteristik masyarakat di era disruptif, menurut penulis strategi pendidikan dan pembelajaran yang sesuai adalah strategi konstruktivistik. 

Konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah nonobjektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu.

Belajar adalah penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan.

Siswa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan presfektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya. Dan sukses mengajar ditentukan oleh kesiapan siswa yang belajar (readness of learning) dan kontrol atau disiplin diri dalam pembelajaran dimiliki peserta didik.

Tujuan pembelajaran ditekankan belajar bagaimana belajar, menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata (kontektual) yang mendorong siswa untuk berfikir dan memikir ulang dan mendemonstrasikan.

Tujuan belajar tersebut dapat dicapai, apabila peserta didik memiliki kebebasan (freedom of learning) dalam pembelajaran. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dalam pembelajran dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.

Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata. Evaluasi menggali munculnya berfikir divergen, pemecahan ganda, bukan saja menuntut satu jawaban benar karena sesungguhnya tidak ada jawaban salah, yang ada hanya pertanyaan yang salah.

Evaluasi merupakan bagian utuh (proses) dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. (Penulis, Dosen FKIP UNTAN). 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019