Pendidikan dan Kepribadian Seseorang

Pendidikan dan Kepribadian Seseorang

Jumat, 6 April 2018 14:17   68
Foto Ilustrasi https://tuturma.ma/

Dalam minggu ini ada sepucuk pesan singkat elektronik yang mempertanyakan hubungan antara pendidikan dan perilaku seseorang. Berikut cuplikannya. “Pak Leo, saya hanya tamat SMP. Tetapi, anak saya, dua-duanya sarjana. Namun, saya heran, kenapa ya? Susah dikatakan. Hubungannya tidak seperti saya dengan almarhum kedua orang tua saya dulu. Saya dulu bayangkan ibarat padi, makin berisi masih merunduk. Ternyata lain.Apa yang salah dengan pendidikan? Terima aksih.”

--------------------

Terima kasih juga dikirimkan kembali kepada pengirim pesan singkat ini. Walau harus meraba-raba maksudnya, akan dicoba membahasnya dalam kolom ini. Mengambil hikmah dari tanaman padi, semakin berisi semakin merunduk, pesan itu ingin mengatakan bahwa hasil pendidikan (yang dinyatakan dalam ijasah) tidak menjamin perilaku seseorang.

Hingga saat ini, berhadapan dengan banyak tantangan hidup di depan mata, masyarakat pada umumnya memandang  pendidikan sebagai aset yang sangat diperlukan dalam menciptakan kedamaian, kebebasan dan keadilan sosial. Pendidikan memegang peran utama dalam pengembangan pribadi dan sosial seseorang.

 

Taksonomi belajar Bloom

Pada tahun 1956, Komisi Pendidikan AS, membuat kebijakan untuk meningktakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam dunia pendidikan.  Di bawah kepemimpinan ahli psikologi pendidikan, Benyamin Bloom, disusunlah sebuah taksonomi tujuan belajar. Komisi membagi aktivitas belajar dalam tiga ranah, yaitu: ranah kognitif, ranah ketrampilan dan ranah afektif.

Idealnya, pendidikan mesti menghasilkan orang-orang yang pandai, terampil dan berkepribadian. Namun, para guru dan dosen, sampai saat ini masih sibuk di ranah kognitif dan sebagian ranah ketrampilan. Mereka sibuk membekali pengetahuan (olah pikir, seperti yang tercantum dalam buku-buku teks) para muridnya dan luput menggarap secara seksama dan intensif ranah afektif (olah rasa, yang memuliakan manusia).  Akibatnya, pendidikan cenderung menghasilkan orang cemerlang berpikirnya tetapi kurang halus budi bahasanya.

 

Pilar pendidikan abad ke-21

Komisi Internasional untuk Pendidikan di abad ke-21 UNESCO, 1996, di bawah kepemimpinan Jacues Delors menunjukkan sejumlah ketegangan di abad ke-21 ini. Di antaranya adalah ketegangan yang timbul karena tarik-menarika antara: global-lokal, universal-individual, tradisional-modern, pertimbangan jangka panjang-jangka pendek, kompetisi- kolaborasi, perkembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa - kemampuan manusia yang terbatas, serta spiritual-material.

Menghadapi tegangan-tegangan yang timbul, Komisi menyusun empat (4) pilar pendidikan yang diperlukan untuk membangun pendidikan di abad ke-21 ini. Ke empat pilar itu adalah: ‘learning to know’, ‘learning to do’, ‘learning to be’ dan ‘learning to live together’.

‘Learning to know’ menyediakan alat kognitif yang diperlukan untuk memahami tentang alam semesta dengan segala kerumitannya serta menyediakan alat untuk studi lebih lanjut. ‘Learning to do’ menyediakan seperangkat ketrampilan yang memungkinkan seseorang berpartisipasi yang efektif dalam ekonomi dan masyarakat global.

Sedangkan ‘learning to be’ menyediakan ketrampilan sosial dan analitis seseorang agar secara individual mampu mengembangkan potensi psiko-sosialnya secara mandiri sehingga menjadi manusia yang utuh. Dan, ‘learning to live together’ merujuk pada kegiatan yang membuat kemampuan seseorang menghargai nilai-nilai yang terkandung di dalam: hak asasi manusia, prinsip-prinsip demokrasi, multibudaya, slaing hormat-mengormati, dan perdamaian bagi seluruh umat manusia.

Namun, seperti juga tragedi implementasi taksonomi Bloom yang terjebak pada ranah kognitif saja (dan sebagian kecil di ranah psikomotor), pendidikan di abad ke-21 di Indonesia juga masih berkutat pada ‘learning to know’ dan ‘learning to do’. Sehingga, pendidikan Indonesia masih menghasilkan orang yang banyak pengetahuan dan sedikit terampil tetapi susah untuk diajak hidup damai bersama liyan.

 

Pendidikan Moral

Pada tahun 1985, Andre Schlaefli, James R. Rest, dan Stephen Thoma (Universitas Alabama-AS) memeta-analisis 55 hasil penelitian untuk menjawab pertanyaan: ‘Does Moral Education Improve Moral Judgment?’ .  Responden yang berpartisipasi menjawab “Defining Issues Test” (untuk mengukur tingkat ‘moral judgmentnya) mencakup siswa pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, serta masyarakat umum.  Ditemukan, pendidikan moral secara signifikan meningkatkan kemampuan ‘moral judgment’  seseorang. 

Pada tahun 2001, Ketefian, S., memeta-analisis penelitian (yang terbit 1987-1997) tentang hubungan antara tingkat penalaran moral dan tindak etis seseorang. Ditemukan besar hubungannya adalah 0.44 (tinggi). Temuan ini dapat menjelaskan mengapa mereka yang mengikuti pendidikan moral dengan sungguh-sungguh mampu mengambil keputusan moral dengan baik. Pendidikan moral dapat meningkatkan penaralan moral. Panalaran moral yang tinggi dapat mengambil keputusan moral yang baik.

Pada tahun 2016, Calvary R. Diggs (Universitas Minnesota) dan Patric Akos (Universitas North Carolina) memeta-analisis penelitian-penelitian pendidikan karakter di pendidikan menengah. Mereka menemukan asosiasi positif antara pendidikan karakter  persepsi sisoal dan internal seseorang. Meta-analisis, 52 penelitian tentang pendidikan karakter di sekolah menengah, yang dilakukan William Jeynes (Universitas Oxford, Inggris), 2017, menemukan bahwa pendidikan karakter di  sekolah menengah atas yang paling tinggi dampaknya pada pengembangan pribadi seseorang.

Joanne Savage (Universitas negeri Illinois) Christopher J.Ferguson  (Universitas Stetson), dan  Lesli Flores (Universitas American, AS), 2017, memeta-analisis penelitian-penelitian tentang pengaruh nilai akademik pada tindak kekerasan. Ditemukan, mereka yang hasil belajarnya rendah cenderung lebih sering melakukan tindak kekerasan.

Pendidikan Spiritual

Tesis S2, Rick Sawatsky (Universitas British Columbia), 2002,  menunjukkan  tingkat spritualitas  berkorelasi positif dengan tingkat kualitas kehidupan seseorang (r = 0.34). Meta-analisis yang dilakukan oleh Davis, D. E., Worthington, E. L., Jr., Hook, J. N., dan  Hill, P. C., 2013, menunjukkan temuan yang sama, khususnya hubungan antara spiritualitas dan tindak memaafkan. Mereka yang tingkat spiritualitasnya tinggi juga cenderung lebih mudah memberi maaf. Namun, effect Size total rendah, yaitu sebesar 0.29 (rendah, dalam Barometer Effect Size John Hattie, 2007)

Rendah, mengapa? Mungkin jawabannya dapat dirujuk dari temuan Anthony Ribaudo  dan Masami Takahashi, 2008.  Mereka memeta-analisis ‘trend’ 283 penelitian  spiritualitas yang terbit antara 1944 – 2003. Ditemukan penelitian tersebut terbagi dalam enam tema: analisis konseptual, pengukuran sepiritual, pendidikan spiritual, intervensi spiritual, kelompok diskusi terpokus tentang spiritual, serta riviu artikel. Ternyata, sebagian besar penelitian-penelitian tersebut menggunakan pendekatan teoritis. Karena itu, susah untuk diterapkannya.

Inilah hasilrangkuman beberapa meta analisis tentang hubungan antara tingkat hasil  pendidikan dan kepribadian seseorang. Sejauh dari hasil rangkuman ini, hasil pendidikan yang dicapai seseorang belum tentu menjadi jaminan yang kuat bagi kepribadiannya. Semoga kesimpulan ini dapat menjawab ‘kegalauan’ pengirim pesan singkat elektronik di awal sajian ini. Semoga!

 

Leo Sutrisno