Pencegahan Karhutla di Kalbar pada 2016 , Upaya Menekan Jumlah Titik Api Sejak Awal Tahun

Pencegahan Karhutla di Kalbar pada 2016 , Upaya Menekan Jumlah Titik Api Sejak Awal Tahun

  Kamis, 3 March 2016 08:38
FGD: Wagub Kalbar Christiandy Sanjaya menyampaikan paparan pada acara focus group discussion Pengelolaan Lahan Gambut Lestari di Jakarta, Selasa (1/3).HUMAS FOR PONTIANAK POST.

Berita Terkait

Pemerintah Provinsi Kalbar mencegah kebakaran hutan dan lahan sejak dini. Pada awal 2016, upaya meminimalisir titik api mulai dilakukan. Pemprov juga melakukan diskusi untuk memperoleh masukan dari berbagai pihak. CHAIRUNNISYA, Pontianak

FOCUS Group Discussion (FGD) yang digagas Media Research Center merupakan salah satu kegiatan diskusi yang diikuti Pemprov Kalbar. Dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya pada 1 Maret 2016. Tak hanya Pemprov Kalbar, diskusi tersebut juga dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Kepala  Badan Restorasi Gambut, Nasir Fuad, serta Pemprov Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Dalam FGD itu, semua pihak mengemukakan pandangan dalam mengelola lahan gambut. Mereka juga menerima masukan dalam meminimalisir titik api dan kegiatan bermanfaat bagi masyarakat maupun industri.Begitu pula Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya. Ia juga menyampaikan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan oleh Kalba. Upaya ini dilaksanakan sejak awal 2015. Tetapi pada pertengahan tahun tersebut tetap terjadi kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan titik api di beberapa kabupaten kota.

Berdasarkan data yang dihimpun Pontianak Post, pada 6 Juli 2015 terdeteksi terdapat 12 titik api di Kalbar. Titik api itu berada di Kabupaten Ketapang sebanyak satu titik api, yakni di Desa Runjai Jaya, Kecamatan Marau. Di Kabupaten Kubu Raya terdapat tujuh titik api yakni Kecamatan Kuala Mandor B, Kecamatan Sungai Ambawang, Kecamatan Sungai Raya, Kecamatan Rasau, dan Kecamatan Sungai Kakap. Satu titik api di temukan di Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, satu titik api di Kabupaten Melawi, dan dua titik api di Sintang.

Setelah Kabupaten Kubu Raya, Ketapang, dan Sekadau menetapkan status siaga bencana asap, Gubernur Kalbar, Cornelis juga menetapkan status siaga bencana asap tingkat provinsi. Penetapan status ini tepatnya pada 8 Juli 2015. Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Kalbar pun mengajukan bantuan helikopter mengantisipasi minimnya curah hujan pada akhir Juli, Agustus, hingga September.

Sehari kemudian, 9 Juli 2015, citra satelit modis mendeteksi terdapat 94 titik api di Kalbar. Terbanyak di Kabupaten Ketapang sebanyak 28 titik api. Diikuti Kubu Raya 26 titik api, Kapuas Hulu 21 titik api, Sintang 7 titik api, Sekadau 3 titik api, Sanggau 3 titik api, serta Melawi, Landak, dan Bengkayang masing-masing dua titik api.Kondisi bertambah parah pada bulan berikutnya, Agustus. Asap akibat kebakaran hutan semakin tebal. Hujan tak kunjung datang. Gubernur Kalbar, Cornelis pun bertemu dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah pada 11 Agustus. Mereka membahas kabut asap yang terjadi di Kalbar.

Agustus pun berganti September. Kebakaran lahan terus terjadi. Akibatnya kabut asap tak kunjung hilang. Bahkan semakin parah. Pemerintah Provinsi Kalbar yang dipimpin Wakil Gubernur Kalbar beberapa kali menggelar rapat bersama tim Satgas Penanggulangan Bencana Asap.

Upaya mengatasi kebakaran lahan pun dilakukan baik jangka pendek  jangka panjang. Pada jangka pendek, satgas-satgas tersebut melakukan sosialisasi,water bombing atau bom air, hingga Teknik Modifikasi Cuaca (TMC). Satgas udara melaksanakan tugas dari 11 Agustus hingga 18 September 2015 sebanyak 43 shorty penerbangan. Daerah operasinya di sekitar Kalimantan Barat.

Dari sebanyak 43 shoty tersebut, bahan semai awan yang sudah disemaikan dengan memanfaatkan nilai konvektivitas perawanan yang terjadi setiap harinya sebesar 35.080 kilogram. Selain TMC, juga dilakukan bom air di kawasan Terentang. Tetapi setelah 200 kali pengeboman, api juga tak kunjung padam. Hal ini dikarenakan api tersebut berada di bawah tanah (gambut).“Tetapi semua dapat diatasi. Atas kejadian tersebut Kalimantan Barat dinilai penanganan bencana karhutla dan kabut asap selama 2015 berjalan dengan baik,” kata Christiandy.Christiandy mengatakan penekanan upaya pencegahan pada 2016 dilakukan dengan koordinasi semua pihak. Tak hanya melibatkan masyarakat, melainkan dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya. (*)

Berita Terkait