Pemkot Janji Tuntaskan 10 Harapan Anak di Pontianak

Pemkot Janji Tuntaskan 10 Harapan Anak di Pontianak

  Rabu, 7 September 2016 09:32
HARAPAN : Perwakilan Forum Anak Kota Pontianak saat membacakan 10 harapan kepada Pemkot Pontianak. HUMAS FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Forum Anak Kota Pontianak menyampaikan 10 poin harapan kepada pemerintah kota ini, saat puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2016 se-Kota Pontianak yang digelar di Auditorium Untan, Selasa (6/9) pagi. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

SEJAK pukul 07.00, ribuan anak terlihat mulai berdatangan memadati ruangan Auditorium Untan, Selasa (6/9). Kebanyakan dari mereka adalah para pelajar mulai dari tingkat SD hingga SMA. Mereka hadir dalam rangka mengikuti puncak peringatan HAN 2016 se-Kota Pontianak, yang mana rangkaiannya sudah berlangsung tepat saat HAN diperingati pada 23 Juli lalu. 

Dalam kesempatan tersebut anak-anak se-Kota Pontianak, diwakili Forum Anak Kota Pontianak menyampaikan 10 harapan dengan tajuk, “Akhiri Kekerasan pada Anak”, sebagai benang merahnya. 

Pertama meminta fasilitas pendidikan yang merata serta akses yang aman dan nyaman menuju sekolah di seluruh Kota Pontianak. Kedua menginginkan setiap anak Kota Pontianak memperoleh haknya untuk mendapat dan melanjutkan pendidikan, ketiga meminta pemerintah memerangi rokok, penyalahgunaan narkoba, psikotropika dan zat adiktif dan menuntut untuk dibebaskan dari bahaya asap dan iklan rokok. 

Keempat  meminta diterapkannya standar kesehatan yang paling tinggi dan ramah anak yang merata untuk setiap anak Kota Pontianak tanpa terkecuali. Kelima meminta agar seluruh lapisan mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat mengakui hak-hak partisipasi, mendengar aspirasi dan memberikan perlakuan yang ramah pada anak dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat demi terwujudnya Kota Pontianak ramah anak.

Kemudian yang keenam menginginkan peningkatan partisipasi anak dalam Musyawarah Pembangunan Daerah yang berkaitan dan berdampak pada anak. Ketujuh menolak tegas segala bentuk kekerasan, prostitusi dan pelecehan  yang dapat merusak masa depan anak. Kedelapan bersatu untuk tidak melakukan penganiayaan, pembulian dan mengecam pelaku eksploitasi, penganiayaan dan pembulian terhadap anak untuk masa depan Kota Pontianak lebih baik.

Lalu kesembilan, mendukung ditambah dan dipugarnya ruang terbuka hijau dan membutuhkan tempat bermain dan belajar yang aman dan nyaman di ruang terbuka hijau yang ada di Kota Pontianak. Kesepuluh membutuhkan sekretariat tetap yang aman dan nyaman sebagai tempat perkumpulan yang terbuka dan positif anak se-Kota Pontianak.

Menanggapi 10 harapan tersebut, Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengatakan, sebagian besar sudah tuntas dipenuhi pemerintah. Hanya saja, lanjut dia terkait akses aman dan nyaman ke sekolah masih sedikit harus menunggu. Sebab saat ini pemkot tengah menyiapkan tujuh halte untuk 11 unit Rapid Bus Transport (RBT), bantuan dari Pemerintah Pusat. Tidak hanya untuk masyarakat umum, bus tersebut nantinya bisa dimanfaatkan para pelajar untuk berangkat ke sekolah. 

“Hampir semua sudah, kecuali akses aman dan nyaman ke sekolah. Padahal dulu pernah ada bus sekolah, tapi tidak ada yang mau menggunakan, sekarang sudah dilarang dan ditertibkan anak bawah umur yang menggunakan motor ke sekolah, barulah ribut,” katanya.

Sementara terkait tema “Akhiri Kekerasan pada Anak”, dia berharap ke depan tidak ada lagi kasus yang terjadi. Menurutnya anak harus diberi keleluasaan dalam pertumbuhan, sampai mereka mandiri. “Orangtua adalah penanggungjawab terhadap tumbuh kembang anak, karena itu pemenuhan kebutuhan dan ruang mesti disiapkan,” jelasnya.

Jika melihat data kasus kekerasan terhadap anak di kota ini, tahun 2015 lalu terjadi 54 kasus. Sementara hingga Agustus 2016 ini, sudah ada enam kasus yang terjadi. “Pengadilan harus memberikan hukuman yang paling berat, kasusnya harus cepat ditangani, jangan dibiarkan lama,” pinta wali kota yang telah menjabat dua peiode ini.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kota Pontianak Darmanelly menambahkan, hak perlindungan merupakan salah satu pemenuhan hak anak yang harus dipenuhi. Tak dipungkirinya, selain ada kasus kekerasan terhadap anak, ada pula sejumlah anak yang tersangkut permasalahan hukum.

Untuk itu penyelesaiannya harus secara restoratif justice karena penjara bukan solusi bagi anak-anak. “Karena anak-anak sebenarnya berbuat bukan dari pemikirannya sendiri, mungkin ada faktor lain seperti ikut-ikutan orang dewasa,” ucapnya.

Darmanelly pun meminta semua pihak peduli pada hak anak. Dimulai dari rumah tangga di lingkup terkecil. Jangan sampai keluarga menjadi tempat anak mendapat kekerasan. Karena itu dari tahun ke tahun pihaknya terus melakukan sosialisasi dan advokasi kepada stakeholder bahwa Pontianak sudah berkomitmen mewujudkan Kota Layak Anak.

“Mengapa sebagian pelaku kejahatan senang menggunakan anak-anak sebagai alat kejahatannya, ini karena hukuman bagi anak hanya separuh tidak penuh seperti orang dewasa, dari sanalah mereka memanfaatkan, itu yang tidak kami inginkan,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait