Pemkot Gandeng Perusahaan Tiongkok Olah Sampah Jadi Listrik

Pemkot Gandeng Perusahaan Tiongkok Olah Sampah Jadi Listrik

  Senin, 26 September 2016 10:00
MASALAH: Sampah masih menjadi musuh utama terhadap kemajuan perkotaan. dok.Pontianak

Berita Terkait

Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak akan bekerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok-China dalam pembangunan Pusat Listrik Tenaga Sampah (PLTS). Nantinya PLTS ini akan berdiri di Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPAS), Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara. 

Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan, diperkirakan PLTS tersebut bisa menghasilkan listrik dengan kapasitas delapan megawatt. “Sampah di tempat kita kan lebih dominan basah atau organik. Selasa (27/9) besok kami akan MoU dengan perusahaan China tersebut. Pembangunannya diperkirakan memakan waktu 1,5 tahun,” ujarnya, Minggu (25/9) pagi.

Lebih lanjut dijelaskan, PLTS tersebut membutuhkan 600 ton sampai 1000 ton sampah per hari. Sementara saat ini warga Kota Pontianak dalam sehari hanya menghasilkan 320-350 ton sampah. Kekurangan kebutuhan sampah itu nantinya akan ditutupi dari limbah cangkang kepala sawit dan sampah di daerah sekitar.

Tak hanya, perusahaan China tersebut, Edi mengatakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menawarkan hal serupa. Jika keduanya terealisasi, dia pun yakin permasalahan pengelolaan sampah di Ibu Kota Kalbar ini berhasil dituntaskan. Nantinya Pemkot hanya tinggal mengurusi manajerial angkutan sampah dari rumah hingga ke PLTS saja. “Harapan kami bisa benar terwujud, selain PLTS menghasilkan listrik, juga pengelolaan sampahnya,” ucapnya.

Hingga kini, Pemkot terus mengoptimalkan pembangunan TPAS Batu Layang tersebut. Untuk 2016 ini, anggaran Rp2,7 miliar disiapkan dalam pembangunan sejumlah infrastruktur. Di antaranya, jalan masuk dan saluran drainase. Pembangunannya sendiri saat ini sudah mencapai 70 persen.  “Diperkirakan bisa selesai awal Desember. Kemarin sudah dicoba difungsikan semaksimal mungkin, terutama jalan masuk. Di sana gambutnya dalam, antara enam meter sampai 11 meter, jalan masuk sudah dilebarkan dan dirapikan. Dibikin sell baru, termasuk dikelola bak maturasinya, agar air limbah tidak mencemari lingkungan,” terangnya.

Edi menambahkan, TPAS Batu Layang kini masih menggunakan sistem open dumping, karena berada di lahan gambut. Dengan jumlah sampah yang masuk antara 320 ton sampai 360 ton per hari, sejumlah kendala pun harus dihadapi. Terutama mengenai peralatan yang rusak dan terbatas.

“Bulldozer kami sewa dan ekskavator-nya juga sudah uzur, umurnya maksimum lima tahun. Karena sekali kerja per hari minimal 14 jam. Mekanismenya, sampah dumtruk menumpahkan, lalu diratakan dan susun, sehingga kerja ekskavator sangat berat dengan volume sampah demikian besar,” imbuhnya.

Dengan adanya hal ini, Edi berharap pengelolaan sampah akan semakin baik. TPAS juga akan diubah, tak sekadar tempat sampah, tapi juga sarana edukasi dengan tersedianya ruang terbuka hijau. “Tidak berbau dan jauh dari kesan kumuh. Penataannya juga akan meliputi lingkungan sekitar, berkombinasi dengan kantor dan tempat parkir,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Lurah Batu Layang, Hendra Feilani mengatakan dulunya, sejumlah warga sempat mempertanyakan kelanjutan pembangunan TPAS tersebut. Namun setelah dia berkoordinasi dengan Wakil Wali Kota dan diadakan tatap muka dengan warga, akhirnya semua sepakat mendukung. “Sudah diberikan pengertian, mereka pun paham dan mengerti bahwa niat baik Pemkot adalah untuk kepentingan bersama,” katanya. 

Menurutnya hampir 30 persen masyarakat sekitar TPAS berpenghasilan dari sampah. Mereka memanfaatkan semua jenis sampah, baik organik atau non organik. “Masyarakat sangat mendukung bahkan proaktif berpartisipasi, sampai mereka membuat pernyataan mendukung semua program Pemkot di sana,” pungkas Edi.(bar) 

Berita Terkait