Pemkab Klaim Ditemukan 680 Orgil

Pemkab Klaim Ditemukan 680 Orgil

  Kamis, 26 July 2018 10:11
ORANG GILA: Pemkab Kapuas Hulu mencatat ada kurang lebih 680 orang gila baik yang dirumahkan maupun yang berkeliaran di jalanan di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. MUSTA'AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas Hulu mengklaim tak kurang 680 warga di Kapuas Hulu mengalami gangguan jiwa. Banyaknya penderita gangguan jiwa di Bumi Uncak Kapuas tersebut, membuat Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DSP2AP2KB) kebingungan serta kesulitan dalam penanganannya. 

“Ada tiga hal yang membuat kami kesulitan menangani penderita gangguan jiwa, yakni masalah dana, tempat, dan petugas,” kata Mat Juani, kepala Seksi Rehabilitasi dan Pemberdayaan Sosial DSP2AP2KB Kabupaten Kapuas Hulu, Rabu (25/7) di Putussibau. 

Mat Juani mengungkapkan, untuk penanganan sementara terhadap penderita gangguan jiwa yang berkeliaran di jalan dan mengancam keselamatan masyarakat, pihaknya langsung menertiban yang bersangkutan dan langsung mengirimnya ke RSJ Singkawang. “Itu kalau penderita yang mengancam dan mengganggu masyarakat, kalau tidak menganggu, kami biarkan saja dahulu,” ujarnya. 

Mat Juani mengungkapkan, tahun ini saja pihaknya sudah mengirim delapan penderita gangguan jiwa ke Singkawang. Sementara untuk penderita ganggua jiwa yang masih dalam proses penyembuhan, menurutnya, masih terdapat 35 orang. 

“Adapun pasien yang sudah pulang dari Singkawang biasanya belum sembuh total, karena mereka semuanya tergantung obat. Jika obat mereka habis, maka penyakitnya akan kambuh lagi," jelasnya. 

Lanjut Mat Juani, dalam penanganan penderita gangguan jiwa, pihaknya sudah membentuk tim untuk penertiban penderita gangguan jiwa yang berada di dalam Kota Putussibau. Dirinya hanya berharaap kepada pemerintah setempat, agar dalam penanganan penderita gangguan jiwa ini, dana di bidangnya dapat ditambah. Dengan demikian, harapan dia, penanganan penderita gangguan jiwa lebih optimal. 

“Kami hanya diberikan Rp3 juta perorang dalam penangan penderita gangguan jiwa. Itu pun jumlahnya dibatasi yakni hanya untuk 10 orang,” pungkasnya. (aan)

Berita Terkait