Pemimpin Perubahan

Pemimpin Perubahan

Senin, 5 February 2018 09:34   553

SETIAP kali pilkada dan pemilu, calon pemimpin (presiden, gubernur, bupati dan wali kota) selalu mengusung tema “Perubahan”. Jika terpilih, mereka ingin menjadi pemimpin perubahan sejati. Keinginan tersebut adalah suatu kewajaran dan masuk akal karena segala hal bangkit dan jatuh ditentukan oleh kepemimpinan, dikutip dari; Ken Blanchard dan Mark Miller (2005) dalam bukunya “The Secret”. Oleh karena itu, disarankan, jika institusi dan organisasi apapun namanya, tidak ada kemajuan, maka gantilah pemimpinnya.

Kotter (1997) dalam bukunya “Leading Change” mengatakan bahwa “perubahan yang sukses melibatkan antara 70% hingga 90% kepemimpinan. Kurangnya kepemimpinan membuat tidak adanya kekuatan di dalam organisasi untuk mengatasi berbagai kekacawan dan ketidakpastian”. 

Larry Greiner, penggagas Dynamic Model of Organizational Social Structure dalam sebuah artikelnya berjudul “Evolution and Revolution as Organizations Grow” sebagaimana dikutip dari Harvard Business Review, Edisi 1991 bertema “Management of Change”, mengatakan bahwa “pada setiap perubahan organisasi selalu mengalami lima tahapan perubahan yang bersifat konstan, keberhasilan perubahan pada tahapan awal atau fase ke-1 mempengaruhi perubahan pada tahapan berikutnya. Selain itu, setiap tahapan perubahan memiliki ciri atau karakteristik perubahan tersendiri dan menghadapi krisis yang berbeda. Namun di setiap tahapan perubahan, terutama tahapan pertama perubahan memerlukan kepemimpinan inovatif dan kreatif. Mitchel and Larson (1987) dalam bukunya “People in Organization” menyatakan hal yang sama, bahwa “perubahan atau pertumbuhan organisasi sangat ditentukaan oleh perilaku anggota kelompoknya. Faktor kepemimpinan merupakan inisiator bagi perubahan perilaku kelompok. 

Joh R. Ketzenbach (1998) dalam bukunya “Real Change Leaders”  mengemukakan ciri utama atau terpenting dari pemimpin perubahan sejati adalah, seorang pemimpin yang rela, mampu bertahan hidup dan menang di “Masa Delta”. Semua cobaan, fitnah, tantangan dan sejenisnya harus diasumsikan dan diyakini oleh setiap pemimpin perubahan sejati sebagai malaikat yang menjemput si pemimpin perubahan sejati agar ia menjadi lebih kuat, kokoh, bersinar, dan bersayap, dan jangan sebaliknya, berfikir negatif atas kedatangannya. 

Pemimpin perubahan sejati adalah seseorang pemimpin yang mau dan mampu menahan keinginan jangka pendek untuk dirinya demi kebaikan jangan panjang pengikutnya. Jika ada pemimpin yang tidak siap untuk miskin demi rakyatnya, maka jangan berharap banyak kepada pemimpin tersebut dapat membuat perubahan bermakna bagi rakyatnya. Rakyat perlu program kerja yang jelas dan dapat menjawab permasalahan yang dihadapi rakyatnya dan memiliki bukti atas prestasi yang telah dicapai oleh calon pemimpinnya. Jangan sebatas bicara penuh semangat karena penjual kecap, bahkan orang gilapun pandai bicara. 

Penulis takut jika menemukan sebuah jawaban, setiap ingin menjadi pemimpin karena alasan ingin memperoleh sebuah prestise dan disebut orang penting, menjadi kaya, dan membangun dinasti dan oligarchi sehingga teritorial wilayah negara dan daerah yang dipimpinnya dirasakan sebagai milik pribadi dan keluarganya atau menjadi mitos kepemimpinan yang paling merusak, mereka sulit digantikan oleh pemimpin yang bukan kroninya, tetap ingin menjadi pemimpin untuk selama-lamanya. Jika ada pihak lain, berbicara tentang “Suksesi Kepemimpinan”, akan dijadikan musuhnya dan mesti dibumi hanguskannya. Jangan sampai dosa masa lalu terulang kembali di negeri ini. Biarlah semua orang berhak dan berkesempatan menjadi pemimpin selama mereka memiliki kekuatan dan dapat dipercaya.

Calon pemimpin perubahan, tidak sekedar mengetahui ciri-ciri perubahan, melainkan mampu mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup di era perubahan tersebut. antara lain bercirikan: semakin cepat, semakin kompleks, saling tergantung atau interdependensi, tidak menentu atau tidak pasti dan disruptif.

Leroy Eims mengatakan, “Seseorang pemimpin adalah seseorang yang melihat “lebih banyak” dari pada yang dilihat orang lain, yang melihat “lebih jauh” dari pada yang dilihat orang lain, dan yang “melihat sebelum” yang lainnya melihat”.

Jeffrey H. Dyer, Hal B. Gregersen, and Clyton M. Christensen (2015) The Innovator’s DNA mengatakan bahwa inovatif dan kreatifitas merupakan kompetensi kepemimpinan nomor satu masa depan. Lima keterampilan seorang pemimpin inovator (Discovery Skill of True Innovator) yang mampu melakukan perubahan di masa yang akan datang, yakni pemimpin yang memiliki ketrampilan dalam: associating, questioning, observing, experimenting, and networking.

Kouzes dan Posner (1996) dalam bukunya “Credibility” dan Stephen M.R. Covey (2010) dalam bukunya “The Speed of Trust” mengemukakan bahwa pengaruh seorang pemimpin diawali dari adanya kepercayaan atau kredibilitas, dibangun mulai dari: (1) kepercayaan diri; (2) kepercayaan dalam hubungan; (3) kepercayaan dalam organisasi; (4) kepercayaan pasar; dan (5) kepercayaan masyarakat, artinya membangun kepercayaan masyarakat itu perlu proses panjang melalui bukti-bukti dari calon pemimpinnya, antara lain: (1) integritas atau kejujuran; (2) visioner atau memiliki wawasan jauh ke depan; (3) memberi inspirasi; dan (4) cakap. Jika calon pemimpin tidak memiliki rekam jejak (trade record) yang lengkap dan jelas karena kurang perjalanannya dalam samudera kepemimpinan dimana kepemimpinan itu berkembang setiap hari, bukan dalam sehari, maka masyarakat tentu saja sulit memahami kredibilitas seorang calon pemimpinnya. Jika semangat priomordinalisme: mengedepankan politik identitas, keyakinan dan pola pikir (mindset) nya telah tersadra sehingga akal sehat dikalahkan, disanalah sering terjadi memilih pemimpin ibarat memilih kucing dalam karung, akibatnya semua kita merugi, rakyat menjadi sengsara dan menderita. 

Sekarang ini, para calon pemimpin mengharapkan dukungan dan doa restu dari konstituennya agar dipilih menjadi seorang pemimpin. Namun sayangnya mereka serig lupa hokum kepemimpinan yang menyatakan bahwa, “ Seorang pemimpin akan terlebih dulu menyentuh hati baru minta tolong”. Pertanyaannya, sudah seberapa banyak mereka menyentuh hati pemilihnya, dan apa yang sudah mereka perbuat selama ini?. 

John P. Kotter dan Dan S. Cohen (2014) dalam bukunya “The Heart of Change” memperkuat asumsi di atas, bahwa jantung perubahan bukan berada dalam pikiran, melainkan pada “Sikap atau Perasaan”. 

Tantangan tunggal terbesar dalam setiap kalimelakukan perubahan adalah mengubah sikap. Kunci dan pergeseran sikap tersebut tampak jelas dalam transformasi yang sukses, tidak terlalu banyak kaitannya dengan analisis dan pertimbangan. Perasaan itu mengubah sikap kita. Orang dapat bergerak melewati setiap fase atau tahapan perubahan kendati mereka sering kali dihadapkan pada berbagai kesulitan yang sangat besar.  

Secara singkat ia mengatakan tiga kata kunci; “Melihat (yang benar dan dengan cara benar), Merasakan, dan Perubahan”.

Penulis mengutip sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa memilih seseorang pemimpin masyarakat, sedangkan ia mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih layak dari yang dipilihnya, maka ia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum muslimin”, dikutip dari M. Quraish Shihab (1994) dalam bukunya “Lentera Hati”. 

Sejalan dengan sabda tersebut di atas, Charles Maurice de Telleyrand, seorang diplomat Prancis mengatakan, “Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan lebih berbahaya atau lebih menakutkan dari pada seratus singa yang dipimpin seekor kambing”, artinya seorang pemimpin haruslah seorang yang lebih kuat dan terpercaya dari yang lainnya.

 (Penulis: Dosen FKIP UNTAN).
 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019