Pembelajaran Rasa Hormat di Tarup

Pembelajaran Rasa Hormat di Tarup

  Senin, 5 September 2016 09:35   676

Oleh: Aswandi

DALAM bulan Agustus 2016 ini, penulis menghadiri dua undangan walimah perkawinan di Kabupaten Sambas, tepatnya di Desa Sayang Sedayu Kecamatan Teluk Keramat dan Kecamatan Sambas. Para undangan duduk tertib dan makan saprahan di Tarup atau suatu tempat sementara yang dibangun tidak jauh dari rumah dimana pesta perkawinan itu diselenggarakan.
Dua peristiwa walimah perkawinan tersebut mengingatkan pada perkawinan kakak kandung penulis tiga puluhan tahun lalu yang pada waktu itu dirasakan sebagai sebuah peristiwa ritual perkawinan biasa-biasa saja tanpa makna. Namun sekarang ritual perkawinan yang dikemas dalam budaya Melayu tersebut terbukti memiliki nilai spritual yang sangat tinggi dan mulia.
Ketika tiba di Tarup, penulis diminta oleh penerima tamu untuk duduk di barisan terdepan menemani tamu-tamu lain yang sudah datang lebih dahulu, kemudian setelah tamu lain datang silih berganti, posisi duduk penulis mengalami beberapa kali pindah tempat duduk, sempat membuat penulis bertanya pada diri sendiri, kenapa duduknya sering kali berpindah-pindah. Baru tidak pindah duduknya ketika acara dimulai. Peristiwa tersebut sempat penulis tanyakan kepada tokoh masyarakat yang duduk di sebelah, ternyata hal itu disengaja dilakukan dengan maksud memberikan perhormatan atau memuliakan orang yang lebih dituakan, baik dituakan karena alasan usia, kedudukan atau status dalam masyarakat, tingkat pendidikan maupun alasan lainnya.
Setelah acara “Sarakalan” selesai dilaksanakan, dilanjutkan budaya Melayu lainnya, yakni “Saprahan”, yakni makan bersama-sama para undangan walimah perkawinan dimana satu saprahan terdiri dari enam orang duduk saling berhadap-hadapan. Melalui walimah perkawinan di Tarup itu, selain mengajarkan rasa hormat, juga diajarkan nilai silaturrahmi. Dapat dibayangkan betapa sedihnya kita yang bermukin di sekitar tempat dilaksanakannya pesta walimah perkawinan, namun tidak mendapat undangan untuk menghadiri acara ritual perkawinan itu, demikian sebaliknya. Nilai persaudaraan yang dibangun melalui silaturahmi pada walimah perkawinan di Tarup melebih dari nilai hidangan dan hiburan, sebaik apapun menu dan hiburan yang disajikan oleh akhlul bait.
Sayangnya walimah perkawinan di Tarup yang terbukti memiliki nilai spritual yang sangat mulia, tinggi dan sangat diperlukan dalam membangun karakter bangsa ini sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat, terutama oleh mereka yang tinggal di kota-kota besar.
Dalam pengamatan penulis, setidaknya terdapat dua nilai utama dalam acara walimah perkawinan di Tarup yang secara langsung menjadi pembelajaran bermakna, yakni; pembelajaran rasa hormat dan silaturrahmi.
Memiliki rasa hormat dan silaturrahmi kepada sesama telah diajarkan oleh semua agama. Misalnya, Islam mengajarkan nilai silaturahmi, dan melalui silaturrahmi tersebut, Allah SWT memberikan setidaknya dua nikmat, yakni panjang umur dan murah rezeki.
Peristiwa kebudayaan Melayu walimah perkawinan di Tarup yang sangat baik ini mengingatkan penulis pada kisah suku Roseta yang bermukin di Roma Italia yang dikenal sebagai suku dimana masyarakatnya berumur panjang (rata-rata berusia lebih dari 100 tahun), mengkonsumsi gula dan daging dalam jumlah banyak.
Pakar medis di banyak negara tertarik melakukan penelitian pada suku Roseta karena kebiasaannya yang dinilai dan diyakini aneh atau sangat bertentangan dengan asumsi kesehatan selama ini, yakni mengkonsumsi gula dan daging dalam jumlah banyak tetapi memiliki umur panjang. Keanehan para pakar kesehatan tersebut mengundang hasrat untuk melakukan penelitian mendalam. Akhirnya, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa prediktor utama yang menyebabkan suku Roseta panjang umur sekalipun mengkonsumsi gula dan daging dalam jumlah banyak adalah kebiasaan atau budaya “Rasa Hormat dan Silaturahmi” yang dimiliki masyarakatnya.
Thomas Lichona seorang pakar pendidikan karakter mengatakan hal yang sama, bahwa membangun karakter harus dimulai dari pembiasaan “Rasa hormat dan Tanggung Jawab” yang ditanam ke dalam pikiran dan hati peserta didik dari sejak kecil.
Pendapat para pakar mengenai pembelajaran rasa hormat dan silaturrahmi itu dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan kebudayaan, seperti walimah perkawinan di Tarup yang merupakan satu bentuk kebudayaan suku Melayu di daerah ini. Memperhatikan uraian di atas, penulis sarankan agar kebudayaan walimah perkawinan di Tarup dapat dilestarikan kepada generasi pemilik masa depan agar terbentuk karakter, kepribadian dan akhlak mulai dan terpuji di kalangan masyarakat (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)