Pembalakan Liar Masih Ada, Terkesan Pembiaran

Pembalakan Liar Masih Ada, Terkesan Pembiaran

  Selasa, 31 July 2018 10:00
ILUSTRASI

Berita Terkait

Pasca operasi besar-besaran yang dilakukan Mabes Polri di wilayah selatan Kalbar (Kayong Utara dan Ketapang) pada 2008 silam, rupanya praktik ilegal logging belum berhenti total. Sedangkan untuk hasil hutan diduga dari praktik pembalakan liar, sampai sekarang masih bebas melintasi wilayah Ketapang juga Kayong Utara. Informasi yang diterima, hampir setiap hari kayu jenis belian masuk ke wilayah Kayong Utara melewati sejumlah pos kepolisian. 

DANANG PRASETYO, Sukadana

KAYU-kayu beras yang memiliki harga relatif mahal itu, terendus diangkut menggunakan truk dan pikap dari Sandai, Kabupaten Ketapang, dan bahkan Kalteng. Dikabarkan, kayu baku dari Sandai juga Kalteng tersebut jauh lebih murah, namun dijual harga tinggi setelah di Kayong Utara. 

Dari pantauan lapangan, sejumlah serkel masih beroperasi di wilayah Kayong Utara, termasuk Sukadana dan sekitarnya. Bahkan, tak jarang ditemukan tumpukan kayu ulin yang diduga hasil ilegal logging. 

Menanggapi praktik nakal ini, Ketua Lembaga Pengawal Pelaksana Pembangunan Kabupaten Kayong Utara (LP3KKU) Abdul Rani mendesak aparat hukum segera melakukan tindakan tegas pembalakan kayu yang beraktivitas di Kabupaten Kayong Utara. Bahkan, Rani yakin, aktivitas ini sudah berjalan cukup lama, namun tidak ada tindakan tegas oleh aparat hukum setempat. 

"Ilegal logging ini sudah jelas dilarang undang-undang, tapi nyatanya mereka masih bebas,  ini karena ada oknum-oknum yang melindungi,  bermain. Kalau mau ditangkap, bukan sedikit kayu dari ilegal logging ini,  cuma ada oknum yang bermain, sekaligus melindungi. Kalau ini benar-benar ditegakkan tidak ada yang lolos," jelasnya. 

Dia menyayangkan, untuk tangkapan ilegal logging masih ada yang tidak diproses, salah satunya di Kecamatan Simpang Hilir. "Banyak tangkapan ilegal logging ini yang tidak di proses,  habis-habis begitu saja. Coba lihat di Polsek Simpang Hilir itu, banyak kayu (tangkapan) yang buruk-buruk begitu saja. Belum ada (pelaku) ilegal logging yang masuk penjara," lanjutnya.  

Sebagai warga biasa, dia sangat berharap kasus-kasus seperti ini benar-benar ditangani dengan baik. "Kita masyarakat sangat berharap ada tim (pemberantas ilegal logging) yang sungguh-sungguh untuk penertiban,  jangan tebang pilih!” tandasnya. 

Ia menyarankan, untuk serkel yang ada di Kayong Utara ini agar dilakukan pemeriksaan. Menurut dia, sebaiknya bisa ditanyakan dari mana mereka mendapat bahan-bahan baku. "Banyak serkel yang tidak jelas. Coba dicek, bahan baku mereka dapat dari mana? Sukadana ada berapa serkel, Simpang Hilir ada berapa, Teluk Batang ada berapa, coba dicek. Kayu ini kan rata-rata dari Siduk, Tayap sana," kupasnya. 

Kapolres Kayong Utara, AKBP Arief Kurniawan membantah adanya praktik ilegal logging di wilayah Kabupaten Kayong Utara. Bahkan dirinya sangat memastikan sampai saat ini Kabupaten Kayong Utara bebas dari praktik tersebut. 

Berkitan dengan hal ini, dirinya meminta kepada warga yang mengatakan ilegal logging masih marak, agar dapat membuktikan kepada polisi. "Saya bilang kalau memang ada pembalakan (liar) di Kayong Utara, tunjukkan tempatnya di mana, mari kita bersama kita berantas," tantang Kapolres, Jumat (27/7) di Sukadana.

Namun demikian dirinya tidak memungkiri ada beberapa kayu ilegal yang masuk ke wilayah Kayong Utara. Beberapa di antaranya, dipastikan dia, sudah diamankan di Mapolres Kayong Utara. Begitu pula dengan para pelakunya, dia juga memastikan, sudah diproses hukum. "Kalau ada yang berani nyuri-nyuri (di Taman Nasional Gunung Palung) memang ada, siapa juga yang berani menjamin seratus persen?" ujarnya lagi.

Di kesempatan yang sama, ia keberatan dengan adanya komentar warga yang menyebut polisi tak serius menangani persoalan yang satu ini. Mereka bahkan sudah membuat kesepakatan dengan Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) untuk menggelar patroli bersama. "Cuman kan kadang dalam patroli itu kita temukan satu warga motong satu pohon, masak mau ditindak? Kita kasih pembinaan, kan gitu," pungkasnya.  

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Ketapang Rudi Antono mengungkapkan, sejak 2016 pihaknya hanya sekali menerima pelimpahan kasus kayu dari Polres Kayong Utara. Kasus yang dia maksud adalah kasus kayu jenis durian. Akan tetapi, kasus tersebut kini dipastikan diai sudah berstatus incraht dan disita untuk kemudian dimusnahkan. Adapun kasus kayu jenis durian ini, menurut dia, terjadi pada 2017 lalu. "Kasus tersebut kini sudah incraht dan disita untuk kemudian dimusnahkan," ungkapnya, Jumat (27/7). 

Rudi menanggapi pertanyaan sejumlah awak media terkait berapa banyak pelimpahan kasus kayu yang masuk ke Kejari sejak Polres Kayong Utara berdiri pada 2016 silam. "Jika ada SPDP (Surat Perintah Dimulainya Pemeriksaan) pasti ada di register," katanya. (dan)

Berita Terkait