Pelatih Beda, Mental Sama

Pelatih Beda, Mental Sama

  Jumat, 30 September 2016 09:57

Berita Terkait

GLASGOW – Bobollah gawang Manchester City secepat-cepatnya. Begitulah kunci bagi siapapun tim yang ingin menghambat laju skuad berjuluk The Citizens tersebut untuk menggapai victory. Seperti itu yang dilakukan Glasgow Celtic ketika berhasil mengakhiri rekor selalu menang City dalam 10 laganya di segala ajang awal musim ini, Kamis dini hari kemarin WIB (29/9). 

Di Celtic Park, Glasgow, Pablo Zabaleta dkk tertahan 3-3 (2-2) dalam lanjutan matchday kedua fase grup C Liga Champions. Dan, The Bhoys – julukan Celtic – yang terlebih dulu leading ketika laga baru berjalan tiga menit melalui gol Moussa Dembele. City bahkan sempat mengalami ketinggalan tiga kali dalam laga ini. 

Setelah Fernandinho menyamakan kedudukan di menit ke-12, Celtic kembali unggul setelah gol bunuh diri dicetak Raheem Sterling delapan menit kemudian. Selang delapan menit kemudian, Sterling menebus kesalahannya dengan gol penyama pada menit ke-28. Namun, lagi-lagi Dembele jadi momok bagi lini pertahanan City dengan golnya pada menit ke-47. 

Untungnya, ada Nolito yang dapat menyelamatkan muka City dengan gol penyama pada menit ke-55. ''Tidak mudah untuk comeback tiga kali. Namun, itu mampu kami tunjukkan. Kami hanya tidak beruntung tidak mampu mencetak gol lagi pada menit-menit akhir,'' ucap Zabaleta seperti yang dikutip Soccerway. 

Agresivitas City dalam 25 menit terakhir justru menurun. Whoscored mencatat, dari 24 kali tim milik Sheikh Mansour itu mengancam gawang lawan, 15 kali atau 62,5 persennya terjadi pada rentang sejam jalannya laga. ''Ini bukan hasil yang kami inginkan. Hanya, ini jadi pengingat bahwa langkah ke depan bakal semakin berat,'' beber bek berkebangsaan Argentina itu. 

Sulit bangkit setelah kebobolan gol lebih dulu ini yang mengingatkan dengan City pada musim lalu. Ketika masih ditangani Manuel Pellegrini. Statistik sejak musim 2015-2016 mencatat dari 21 kali City kebobolan terlebih dulu, hanya 28,5 persen peluang klub semifinalis Liga Champions musim lalu itu mengakhiri laga dengan tiga angka. 

Artinya mentalitas pemain City belum berubah meski tongkat kepelatihan sudah berpindah dari Pellegrini ke tangan Josep Guardiola sejak musim ini. Sekedar diketahui, gol pertama Celtic itu adalah gol paling dini yang menjebol gawang City sepanjang era Guardiola. ''Mental pemain kami terguncang begitu kebobolan satu gol pada dua menit pertama,'' ungkap Guardiola dikutip ESPN. 

Dalam era Guardiola, 10 menit pertama digunakan untuk membangun serangan ke defense klub lawan. Itu yang kemudian dijadikan celah tuan rumah untuk langsung memberikan ancaman ke gawang Claudio Bravo. ''Ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk ke depannya. Kami masih punya sedikit masalah dengan build up serangan kami. Meski, pemain sudah bermain bagus,'' puji entrenador yang di Barcelona sempat menyumbangkan dua trofi Liga Champions itu. 

Sebenarnya, City sudah sering selamat dari lubang jarum setelah tertinggal terlebih dulu. Tetapi, itu lebih sering terjadi di Premier League atau ajang domestik yang lain seperti Piala FA dan Piala Liga. Di Eropa, City lebih sering gagal. Termasuk ketika musim lalu City disingkirkan Real Madrid dari fase empat besar semifinal Liga Champions dengan kekalahan 0-1 di leg kedua di Santiago Bernabeu (5/5).

''(Kompetisi) Eropa itu spesial, tim-tim yang bermain di sini sangat kuat, tidak peduli dari mana tim itu berasal. Apalagi lawan hari ini Celtic, klub dengan sumber daya menakjubkan dan fansnya yang sedemikian fanatiknya. Seperti yang saya bilang, kami belum sempurna,'' tutur Guardiola. Pelajaran ini yang harus diperhatikan penggawa City. 

Apalagi, akhir pekan ini (2/10) mereka sudah kembali menjalani laga yang tidak kalah ketatnya dengan laga dini hari kemarin. City memainkan laga tandang menghadapi Tottenham Hotspur di White Hart Lane, London. ''Kami tidak akan panik. Karena kami memang tidak menang dalam laga ini, tetapi kami tidak kalah,'' lanjutnya. 

Berbicara kepada BBC Sports, Brendan Rodgers sebagai juru taktik Celtic mengakui timnya di laga ini sudah belajar dari kekalahan 0-7 atas Barca dalam matchday pertama Grup C, dua pekan yang lalu (14/9). ''Malam ini (kemarin) kami hanya memberikan sedikit space untuk mereka,'' klaim mantan pelatih Liverpool itu. 

Walaupun tidak menjadi korban keganasan era awal musim Guardiola di City, Rodgers merasa kecewa dengan konsentrasi defense-nya. Terutama setelah mampu mengungguli City. ''Terlepas semua itu, performa tim ini sungguh di luar dugaan. Untuk tampil seperti ini tadi melawan klub yang sehebat Man City, itu penampilan yang fantastis,'' tegasnya. (ren)

Berita Terkait