Pelajaran dari China

Pelajaran dari China

Senin, 18 December 2017 09:09   278

KETIKA berada di provinsi Xi/an China, tepatnya 10-14 Desember 2017 lalu,  setidaknya penulis memperoleh tiga pembelajaran bermakna, yakni: (1) keinganan banga China menguasai dunia melalui bahasa; (2) Makna dari monument sejarah Tera Kota; dan (3) penduduk dan pemukiman Muslim di negara komunis.

Mandarin adalah bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan saat ini bahasa mandarin adalah bahasa yang paling cepat mengalami perkembangan, dan masyarakat dunia ingin memiliki ketrampilan berbahasa mandarin tersebut.

Samuel Hatington, selaku penasehat presiden AS dalam bukunya berjudul “Benturan Peradaban” mengatakan bahwa bahasa mandarin adalah bahasa yang paling cepat mengalami perkembangan dan dari waktu ke waktu bahasa mandarin digunakan oleh masyarakat dunia semakin meluas. Kemudian diikuti perkembangan bahasa asing lainnya, yakni bahasa Arab dan Bahasa Inggris. 

Diantara alasan kemajuan atau perkembangan bahasa mandarin yang sangat cepat itu karena terdapat hubungan simbiotik matualistik antara bahasa dan ekonomi dimana pada saat kiblat ekonomi dan industri telah bergeser dari barat ke timur, dikenal “New Industry Country”.

Pada tahun 2010 di China Convention Center Beijing penulis untuk pertama kalinya mengikuti Konfrensi Internasional Bahasa Mandarin, diikuti oleh 1.532 delegasi (pimpinan perguruan tinggi se dunia). Delegasi Indonesia dihadiri oleh pusat bahasa mandarin Universitas Al-Azhar Jakarta, Universitas Maranatha Bandung, Universitas Negeri Malang, UNESA Surabaya, Universitas Hasanuddin Makasar, dan  Universitas Tanjungpura Pontianak.

Konfrensi tersebut mengeluarkan rekomendasi yang dikenal “Beijing Recomendation 2010” yakni sebagai berikut: “Jika ingin menguasai dunia, kuasailah ekonominya. Jika ingin menguasai ekonominya, kuasailah komunikasinya. Jika ingin menguasai komunikasinya, kuasailah bahasanya. Jika ingin menguasai bahasanya, kuasailah bahasa mandarin. Dan jika ingin menguasai bahasa mandarin, maka pelajari dan pahamilah budaya China”.

Setelah itu, beberapa pertemuan ilmiah bahasa mandarin, baik di dalam maupun di luar negeri penulis ikuti, seperti di Naning Quanxy China dan Vientiance Laos. Terakhir, tepat tanggal 12-13 Desember 2017, penulis bersama bapak Dr. H. Martono selaku Dekan FKIP UNTAN dan Lily Thamrin, PhD selaku pimpinan Pusat Bahasa Mandarin UNTAN bersama lima universitas di Indonesia tersebut diundang kembali oleh Hamban Bejing China menghadiri Konfrensi Internasional Bahasa Mandarin ke-12 di Xi’an China yang dihadiri oleh 1.500 rektor atau pimpinan perguruan tinggi se dunia disertai anggota delegasi minimal tiga orang setiap perguruan tinggi, berarti sekitar 5.000 anggota delegasi hadir pada konferensi ke-12 tersebut. 

Konferensi Internasional Bahasa Mandarin dilaksanakan setiap tahunnya dan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah China, tentu saja tidak sedikit Yuan (mata uang China) dihabiskan untuk mensukseskan kegiatan internasionalisasi bahasa tersebut. 

Keinginan bangsa China menguasai dunia dilakukan dengan sungguh-sungguh di semua bidang kehidupan, seperti ekonomi, politik dan kebudayaan/bahasa, Melalui bahasa mandarin, negeri tirai bambu sangat optimis mampu mengendalikan, bahkan menguasai dunia dimasa yang akan datang dan tanda-tandanya sudah kelihatan hari ini, misalnya kemanapun kita belanja di seantero dunia ini selalu menemukan banyaknya produk China yang dijual di supermarket, penulis saat berada di Paris Prancis sempat mengembalikan barang yang sudah dibeli di sebuah supermarket, setelah diketahui barang yang sama banyak dijual di parar Tanah Abang Jakarta. 

Bagi penulis keinginan bangsa China untuk mengendalikan dan menguasai dunia melalui bahasa mandarin tersebut mudah dipahami, asumsi teoretik antara lain menyatakan bahwa pembelajaran bahasa mandarin harus disertai pemahamaan budaya China. Semua pakar pendidikan karakter sependapat bahwa mindset dan perilaku seorang`dapat dibentuk dari kesadaran budaya yang tinggi.          

Disela-sela waktu, penulis, bapak Dr. Martono, ibu Lily Thamrin, PhD dan banyak delegasi dari berbagai belahan dunia lainnya mengunjungi objek wisata: Tera Kota dan pemukiman atau perkampungan Muslim di provinsi Xi’an China.

Tera Kota adalah objek wisata sejarah yang berada di provinsi Xi’an China. Di sana terdapat 6.000 patung kaisar China dan banyak patung binatang, seperti kuda tersimpan di tiga tempat. Kami sempat bertemu atau bersilaturrahmi dengan seorang petani penemu patung-putung itu. 6.000 patung yang terbuat dari batu itu digali dari perut bumi yang menurut ahli arkeologi telah berusia 2.000. Luar biasa patung yang sangat antik, unik dan bernilai sejarah tinggi tersebut telah dibuat oleh masyarakat China jauh sebelum tahun masehi dengan tujuan agar kaisar yang berkuasa pada waktu itu terdokumentasi karena pada waktu itu belum ditemukan alat yang dapat digunakan untuk mendekomentasikan peristiwa sejarah pada monument mati, seperti kamera.

Ketika asik menyaksikan patung-patung itu, penulis teringat pada sosok seorang pemimpin Asia, yakni almarhum Lie Kwan You, mantan pemimpin negeri Singapura. Beliau tidak sependapat peristiwa sejarah diabadikan dalam bentuk patung-patung yang menurut beliau patung adalah monument mati. Menurut beliau semestinya, sejarah yang ditinggalkan oleh para pendahulunya haruslah berupa monument hidup yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, seperti sarana pendidikan yang berkualitas, system ekonomi yng mensejahterakan rakyatnya dan infrastruktur yang memudahkan masyarakat dalam beraktifitas. Lie Kwan You menegaskan bahwa setiap negara yang memuja dan mendewakan patung adalah negara yang kurang berkembang atau bukan negara maju.     

Tempat lain sempat kami kunjungi adalah perkampungan dimana penduduknya mayoritas Muslim (beragama Islam) di Provinsi Xi’an China.

Ketika memasuki lokasi tersebut, mulai terasa dan telihat banyak toko/warung yang menjual makanan muslim, di sepanjang jalan dipadati pengunjung entah dari mana saja guna menikmati suasana dan masakan/minuman khas muslim.

Bagunan sebagian besar, termasuk masjid dan rumah ibadah lainnya menggunakan ornament layaknya kelenteng di Indonesia. 

Orang muslim yang sempat berada di lokasi dan shalat di masjid berornamen kelenteng tersebut sangat terkesan, merasa shalatnya sangat khusu’.

Penulis, sejak lama berpikir dalam rangka implementasi pendidikan lintas budaya (multicultural education), perlu dicoba ada bangunan yang menggambarkan lintas budaya tersebut, misalnya pintu gerbang atau pagar bangunan/rumah yng memadukan tiga etnis besar (Melayu, Dayak dan China) di Kalimantan Barat, pada waktu itu gagasan atau usul penulis ditolak. Ketika berada di perkampungan Muslim Xi’an kembali muncul dalam pikiran penulis, kenapa masjid seperti yang ada di Xi’an ini, tidak ada di Kota Singkawang?

Sementara masjid dengan sebuah atau beberapa kubah yang menggambarkan api atau obor yang menurut para ahli peradaban berasal dari keyakinan pemujaan api oleh penganut agama primitif/animisme dan tentu saja bukan berasal dari keyakinan Islam. Anehnya, kubah masjid dengan lambang api dan obor diterima oleh masyarakat Muslim , bahkan ada yang berpandangan setiap masjid wajib berkubah api seperti itu. Para pembaca dapat membantu penulis menjelaskan fenomena dan hakikat dari “Penerimaan” dan “Penolakan” ornament masjid tersebut agar kita tidak digolongkan sebagai penganut jumud dalam beragama. (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019