Pedagang Mengeluh, Omset Terus Menurun

Pedagang Mengeluh, Omset Terus Menurun

  Selasa, 12 June 2018 10:00
SEPI: Kondisi Pasar Pagi di Kota Putussibau. Tak banyak pembeli yang mengunjungi pasar tersebut. Kondisi ini sudah berlangsung beberapa tahun ini sehingga membuat pedagang pakaian mengeluh. FOTO MUSTA'AN

Berita Terkait

Anjloknya Harga Karet Berdampak Ekonomi 

Sudah beberapa tahun ini pedagang pakaian di pasar pagi Putussibau Kelurahan Putussibau terus mengeluh sepinya pembeli. Sepinya pembeli ini membuat mereka pasrah menerima keadaan. Menjelang hari raya Idul Fitri 1439 H ini pun, tak banyak pembeli yang berkunjung dipasar tersebut. 

Musta’an, PUTUSSIBAU

IDUL Fitri 1439 H tinggal menghitung hari, seperti biasanya pedagang pakaian di pasar pagi Putussibau Subuh hari sudah membuka tokonya. Menjelang lebaran ini, pedagang tentunya berharap barang dagangnnya laku keras. Namun apa daya, hingga kini tak banyak pengunjung yang datang ke pasar tersebut. 

Seperti yang diungkapkan Rojikan pedagang pakaian asal Jawa Tengah, menurutnya pedagang pakaian yang berjualan dipasar ini semuanya mengeluh karena sepinya pembeli. Sepinya pembeli ini pun sudah berlangsung beberapa tahun belakangan ini.

"Sekarang memang ekonomi lagi merosot, karet murah, kerjaan lain juga sulit. Ditambah lagi pedagang pakaian ini tidak kumpul jadi satu," katanya, Senin (11/6). 

Pria berusia 43 tahun ini mengatakan, menjelang lebaran seperti ini paling pakaian yang laku itu 5-10 potong pakaian saja. Jika dihari biasa jarang sekali ada pembeli. 

"Syukur-syukur kalau ada pembeli, tapi kebanyakan tidak ada pembeli," ucapnya. 

Rojikan yang sudah berjualan dari tahun 96 ini mengungkapkan, jika dulu 15 hari sebelum lebaran, pengunjung sudah ramai kepasar ini untuk berbelanja. Berbanding terbalik dengan lebaran beberapa tahun belakangan ini. 

"Lihat saja sendiri, empat hari mau lebaran pembeli masih sepi," tuturnya. 

Pedagang pakaian lainnya Suryani mengeluhkan hal serupa, dirinya mengaku sudah malas berjualan disini karena sepi pembeli.

"Tiap tahun kita disini begini terus, tak ada kemajuan. Sementara kami harus bayar sewa toko setiap tahunnya," ucapnya. 

Suryani mengenang, dimasa tahun 90 an hingga 2000, dimana pasar ini begitu ramai dikunjungi masyarakat untuk berbelanja. Namun kini kenangan tersebut sudah tak akan kembali lagi dikarenakan ekonomi saat ini mulai goyang membuat masyarakat harus berpikir lebih jauh untuk membeli kebutuhan mereka. 

Maka dari itu ia mengaku bingung harus bagaimana menarik pembeli jika sepi seperti ini, sementara harga barang yang ditawarkannya kepada pembeli cukup relatif murah. 

Ia menduga sepinya pembeli dipasar ini dikarenakan, ekonomi saat ini yang lagi melorot. Sehingga membuat pengunjung berkurang dipasar ini. "Sekarang masyarakat pada mengeluh sulitnya mendapatkan pekerjaan," ucapnya. 

Ia berharap kondisi ekonomi saat ini tak berlangsung lama, sehingga mereka pun sebagai pedagang dapat merasakan dampaknya. 

"Jika ekonomi baik, kami pasti kena dampaknya, paling tidak masyarakat pun banyak berbelanja kesini," pungkasnya.(*)

Berita Terkait