Pedagang Indonesia, Satu Kasir Terima Dua Mata Uang

Pedagang Indonesia, Satu Kasir Terima Dua Mata Uang

  Rabu, 7 September 2016 09:30
PASAR SERIKIN: Suasana Pasar Rakyat Serikin, Malaysia menjadi salah satu tempat destinasi bagi wisatawan manca negara. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Berita Terkait

Mengunjungi Pasar Serikin Malaysia, Perbatasan dengan Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang 

Pasar Rakyat Serikin, yang terletak di Kampung Serikin, Sarawak, Malaysia Timur ini menjadi pasar yang mengiurkan bagi para pedagang di perbatasan. Meskipun berada di wilayah teritorial Malaysia, pasar tradisional ini dipadati oleh pedagang dari Indonesia.

ARIEF NUGROHO, Serikin-Malaysia

Akhir pekan menjadi waktu yang paling ditunggu oleh masyarakat di kedua negara, Indonesia dan Malaysia. Khususnya warga masyarakat perbatasan di Jagoi Babang -Malaysia. 

Ruas jalan utama yang menghubungkan kedua negara ini berubah menjadi pasar dadakan saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Ratusan bahkan ribuan orang Malaysia datang untuk membelanjakan ringgitnya. Mereka rela berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya demi untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan.

Pontianak Post berkesempatan mengunjungi pasar rakyat tersebut. Dengan berbekal surat pengantar dari Kantor Imigrasi Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Minggu (4/9) pagi masuk ke Seriking melalui Pos Lintas Batas di Jagoi Babang. 

Pasar Serikin sendiri terletak di sepadan perbatasan Indonesia-Malaysia atau sekitar 319 Kilometer dari Kota Pontianak. 

Untuk masuk ke wilayah teritorial Malaysia itu memang tidak seketat jika kita masuk melalui PLB lainnya. Selain tidak perlu menggunakan paspor, kita cukup meminta surat pengatar dari Kantor Imigrasi, itu pun jika kunjungan kita terbatas. Misalnya satu hari kunjungan. 

Tapi jika tidak, maka kita disarankan untuk membuat Pas Lintas Batas dengan membayar Rp 200 ribu bagi warga luar. Seperti halnya masyarakat perbatasan yang hanya membekali diri dengan pas Lintas Batas, maka akan bebas keluar masuk ke Serikin.

Akses penjagaan di sana juga tergolong longgar. Hanya satu kali pemeriksaan. Itu pun saat melintasi pos penjagaan tentara Malaysia. Padahal di Jagoi Babang sudah dibangun pos terpadu yang dijaga berbagai instansi, seperti Bea Cukai, Karantina, BKSDA, TNI dan Polri. 

Tak heran jika Jagoi Babang menjadi jalur yang digemari bagi para penyelundup. Sepintas tidak ada yang aneh saat memasuki pasar Serikin. Layaknya pasar kaget atau pasar tradisional lainnya di Indonesia, pasar rakyat ini menjajakan berbagai dagangan, seperti pakaian, aneka kuliner, kerajinan tangan, perabotan rumah tangga, hingga barang antik. Tapi jangan salah, hampir semua pedagang dan produk dagangannya berasal dari Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bogor, dan sebagian besar dari Kalimantan Barat sendiri.

Selain menjajakan barang-barang produk Indonesia, di pasar ini juga memberlakukan dua mata uang, Ringgit dan Rupiah. 

    Menurut Ahua Kadom, tokoh masyarakat Jagoi Babang, setiap akhir pekan, Pasar Serikin menjadi daya tarik tersendiri bagi para pedagang Indonesia, khususnya dari Kalimantan Barat. Alasannya cukup simple, nilai tukar Ringgit yang lebih tinggi dari Rupiah, maka pedagang bisa meraup keuntungan berkali lipat. 

    "Setiap Jumat sore para pedagang mulai datang. Sabtu dan Minggu mereka berjualan di sana," kata Ahua kepada Pontianak Post. 

Secara hitungan angka, kegiatan di Pasar Serikin sangat menguntungkan penduduk Kampung Serikin karena ada sekitar 300 pedagang Indonesia disini. 

    Penghasilan penduduk Serikin dari pasar Serikin terutama bersumber dari penyewaan lokasi berjualan, sewa kamar sebagai tempat penginapan dan penyimpanan barang dagangan dan usaha tempat parkir pengunjung. 

    Pemerintah Malaysia pernah mau menutup pasar ini karena menurut peraturan, orang asing tidak diperbolehkan berdagang di Malaysia tanpa visa kerja. Namun karena mendapat tantangan dari penduduk setempat, akhirnya kegiatan di Pasar Serikin berlangsung sampai sekarang.

    Serikin juga menjadi salah satu destinasi bagi para wisata asing. Lebih dari 50 persen pengunjung Serikin berasal dari Semenanjung Malaysia dan manca Negara.

    Menurut Ahua, pihaknya pernah mengusulkan untuk membangun pasar di perbatasan, atau lebih tepatnya di zona bebas. Seperti halnya pasar di perbatasan Entikong-Tebedu.

    "Kami sudah beberapa kali mengusulkan untuk membangun pasar di perbatasan, khususnya di zona bebas. Sehingga kedua negara diuntungkan. Kalau di Serikin, kan keuntungannya masuk ke kampung Serikin. Kami tidak mau hanya sebatas jadi penonton," katanya.(**)

Berita Terkait