Pawai Naga Tetap Menghibur

Pawai Naga Tetap Menghibur

  Rabu, 20 February 2019 09:57
CAP GO MEH: Puncak acara Cap Go Meh atau limabelas hari selepas Tahun Baru Imlek 2570 di Pontianak diselenggarakan kemarin siang. Atraksi puluhan naga dan barongsai mengelilingi kota melalui jalur-jalur protokol. Masyarakat tumpah ruah untuk menyaksikan, walaupun cuaca panas terik, tetap tak terusik. MUJADI/ MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Festival Cap Go Meh 2019 telah usai dengan ditutupnya Pasar Kuliner di Jalan Diponegoro, Selasa (19/2) malam. Kegiatan ini menyuguhkan berbagai acara, mulai pekan kuliner, naga buka mata, pemasangan pohon meiwa, pembuatan pagoda berbahan kue keranjang seberat 1 ton, dan pawai Cap Go Meh.

Ketua Panitia Pelaksanaan Cap Go Meh 2019, Dji Sen mengatakan, ada 26 naga dan 42 barongsai yang ikut pawai. Mereka berkeliling mulai pukul 13.00 hingga sore hari. Malanya dilanjutkan dengan naga berkilau, mulai pukul 19.30. “Rutenya mulai Diponegoro dan finish di Jalan Budi Karya,” ujar Dji Sen.

Dji Sen mengaku puas dengan penampilan para tim penampil arakan naga-naga yang berasal dari berbagai yayasan tersebut. Menurutnya, gelaran Cap Go Meh di setiap tahunnya terus mengalami peningkatan, mulai dari jumlah naga sampai konsep yang dibuat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja yang menjadi pembeda, keberadaan tatung yang sudah dilarang oleh pemerintah setempat membuat Cap Go Meh sedikit mengalami perbedaan jika dibandingkan dengan Singkawang.

“Semuanya sudah tampil baik dan maksimal, itu patut diapresiasi. Yang membedakan disini Pontianak dengan Singkawang sebenarnya Cuma tatung karena sekarang kita memang sudah tidak diperbolehkan lagi, tapi selain itu semuanya relatif sama,” terangnya.

Ia mengaku sangat puas dengan antusias masyarakat yang dinilainya terus berdatangan mulai dari pembukaan hingga penutupan. Hal tersebut ditanggapinya dengan masyarakat sangat senang dengan keberadaan even tahunan ini.

“Pastinya tiap tahun meningkat. Hal tersebut membuktikan animo masyarakat terhadap even Cap Go Meh di tiap tahunnya sangat luar biasa,” timpalnya.

Selain pawai naga dan barongsai, berbagai agenda tak kalah menarik juga dihadirkan panitia Cap Go Meh untuk pengunjung yang hadir pada malam penutupan tersebut. Yaitu rebutan kue keranjang seberat satu ton yang digelar di depan panggung pasar kuliner.

“Kita bagikan dan akan akan diperebutkan oleh masyarakat yang hadir. Perebutan kue keranjang seberat 1 ton ini sendiri merupakan penutup dari serangkaian kegiatan cap go meh yang kita laksanakan, sejak dibuka dan berlangsung selama kurang lebih 6 hari ini,” tambahnya.

Adapun harapan Dji Sen untuk Festival Cap Go Meh di tahun mendatang mendatang agar dapat diadakan lebih meriah lagi dari yang saat ini. Mengingat Cap Go Meh merupakan suatu tampilan budaya asli etnis Tionghoa yang bernilai tinggi. Selain untuk menjaga nilai leluhur, juga berpotensi dapat meningkatkan pendapatan daerahdaerah.

Selvi Eka, pengunjung yang menonton festival Cap Go Meh 2019 mengaku terhibur dengan penampilan arakan naga dan barongsai yang disajikan. Akan tetapi, Wanita yang merupakan mahasiswa Untan tersebut menyayangkan sedikitnya kegiatan yang diadakan pada tahun ini jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Cukup terhibur, namun sepertinya tahun ini kurang meriah jika dibanding tahun lalu. Karena kegiatannya sedikit, dan hanya itu-itu saja,” paparnya.

Sementara itu, festival Cap Go Meh tak kalah menarik juga tersaji di Kabupaten Kubu Raya. Yakni dari Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) yang menggelar festival Cap Go Meh yang dipusatkan di Jalan Parit Nomor Dua, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya.

Ketua MABT Kabupaten Kubu Raya, Hamdan mengatakan ada sebanyak 27 tatung turut berpartisipasi pada agenda tahunan yang sudah terlaksana di Kabupaten Kubu Raya sejak 4 tahun silam. Dia menyebut, tatung yang tergabung pada Cap Go Meh tahun ini semuanya berasal dari berbagai yayasan yang ada di Kubu Raya ini beraksi dari pagi, sekitar pukul 08.00 hingga pukul 15.00.

"Untuk kegiatan-kegiatan yang ada hari ini, diawali Festival Tatung dan akan dilanjutkan dengan festival budaya pada malam harinya. Tatungnya ada 27 yang berpartisipasi dari sekitar Kubu raya, tidak ada yang berasal dari luar," ujar Hamdan.

Hamdan menjelaskan, penyelenggaraan atraksi tatung ini sendiri dilatarbelakangi oleh banyaknya tatung yang ada di Kabupaten Kubu Raya. Sementara tujuan penyelenggaraan atraksi tatung ini, dikatakannya untuk melestarikan adat dan budaya Tionghoa.(sig)

 

Berita Terkait