Pasukan Anjing K-9 Bea Cukai Penjaga Pintu Masuk Bangsa

Pasukan Anjing K-9 Bea Cukai Penjaga Pintu Masuk Bangsa

  Selasa, 23 April 2019 11:11
ANJING PELACAK: Petugas Bea Cukai bersama personel K-9 saat pemeriksaan oleh anjing pelacak di Pos Lintas Batas Entikong. IST

Berita Terkait

Narkoba merupakan ancaman yang tak kunjung sirna bagi Indonesia. Letak negara yang strategis tidak hanya menimbulkan dampak positif bagi kita, tetapi juga memberi akses bagi para mafia untuk menyelundupkan narkoba ke seluruh penjuru tanah air. 

---------------

SEJARAH mencatat beragam cara yang telah dilakukan demi pemasukan barang haram tersebut ke dalam tubuh rakyat Indonesia. Penyelundupan ini sudah mengalir melalui seluruh celah: jalur darat, laut, dan udara. Kurir berkebangsaan asing maupun warga negara Indonesia, dari bermacam ras dan agama, memenuhi rekam data penyelundup yang berhasil ditangkap selama ini.

Sebagai salah satu instansi pemerintah, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memiliki kewajiban untuk melindungi masyarakat dari bahaya narkoba. Hal ini diwujudkan melalui berbagai usaha pengawasan dan pencegahan terhadap upaya penyelundupan narkoba dari luar negeri.  Salah satu strategi yang telah dilakukan oleh DJBC adalah penggunaan Anjing Pelacak Narkotika (K-9) dalam proses pengawasan lalu lintas orang dan barang yang masuk ke wilayah Indonesia. 

Pembentukan awal unit anjing pelacak pada DJBC dimulai sejak tahun 1978. DJBC mengirimkan satu orang pejabat Bea dan Cukai Indonesia, Untuk mengikuti program pengenalan Anjing Pelacak dari U.S. Customs Service di Washington, USA.  Setelah itu dikirim kembali 4 orang pejabat Bea dan Cukai untuk mengikuti pendidikan mengenai narkotika di USA pada bulan Januari-Februari 1979.  

Langkah pembentukan Unit Anjing Pelacak terus berlanjut. Pada Tahun 1981,  Bea Cukai Australia juga menyumbangkan 6 ekor APN jenis German Sheppard Dogs yang digunakan untuk pelatihan termasuk pelatih yang sudah berpengalaman ke Indonesia. Dan pada Bulan Juni 1981,  secara resmi dilaksanakan pelatihan Anjing Pelacak Narkotika yang pertama kali diselenggarakan oleh DJBC dengan bantuan dari U.S. Customs serta Australian Customs. 

Seiring waktu, unit ini kian berkembang dari Jakarta hingga ke Medan, Batam, Semarang, Surabaya, Balikpapan, Kalimantan, dan Denpasar. Pada Tahun 2017, Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Barat (Kanwil DJBC Kalbagbar) secara resmi memiliki Unit Anjing Pelacak. 

Kanwil DJBC Kalbagbar memiliki enam ekor Anjing Pelacak Narkotika (APN). Beski, Bremen, Awan, Akita, Neo berjenis Labrador Retriever, sedangkan Bravo berjenis Beagle. Seluruh APN tersebut menempati kandang di Jalan Sutoyo Pontianak. 

Beski, Bremen dan Awan termasuk bertipe pasif dimana saat berhasil menemukan narkotika, mereka cenderung tenang dan duduk persis di dekat sumber. Sementara Akita, Neo dan Bravo memiliki tipikalisasi agresif, jika menemukan narkoba, ia lebih reaktif mencakar sumber bau yang ditemukan.

Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Humas Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat Ferdinand Ginting menjelaskan, anjing pelacak narkotika telah menjalani pelatihan panjang untuk dapat mendeteksi keberadaan narkoba menggunakan indera penciumannya. 

Pelatihan ini dijalani secara berkesinambungan demi menjaga kualitas pelacakan anjing selalu optimal. Kedisiplinan anjing pelacak narkotika merupakan hal yang penting sehingga sangat dijaga dengan maksimal. Anjing pelacak narkotika dilatih untuk tidak menggonggong, menjilat, dan menggigit selama sedang bekerja.

“Anjing Pelacak Narkotika Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dalam kondisi lapangan selama bekerja. Hal ini dikarenakan area pengawasan yang luas serta situasi yang berbeda di tiap daerah operasi,” katanya. 

Daerah operasi meliputi : pelacakan penumpang bagasi dan kargo yang datang dari luar negeri pada Bandara Internasional Supadio; pelacakan orang, barang, dan kendaraan yang masuk ke Indonesia melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN); pelacakan barang-barang kiriman dari luar negeri melalui Kantor Pos Lalu Bea Pontianak; dan barang-barang dari luar negeri yang diangkut oleh kapal di Pelabuhan Internasional Dwikora. 

Dalam pelaksanaannya, anjing pelacak narkotika akan memberikan isyarat tertentu untuk menunjukkan adanya indikasi keberadaan narkoba dari objek yang dilacak. 

“Isyarat ini yang menjadi dasar petugas untuk melakukan pemeriksaan mendalam terhadap objek tersebut. Jika setelah pemeriksaan mendalam tidak ditemukan adanya indikasi penyelundupan narkoba, maka petugas akan mengidentifikasi komponen objek yang menyebabkan anjing pelacak narkotika memberikan isyarat,” kata dia. 

Sebagai tindak lanjut, akan dilakukan pelatihan lebih lanjut untuk meningkatkan akurasi pelacakan sehingga kemungkinan respon terhadap objek selain narkoba dapat dikurangi.

Penggunaan anjing oleh aparat penegak hukum dalam bekerja bukan merupakan hal yang asing. Namun demikian, masih banyak masyarakat di Indonesia terutama Provinsi Kalimantan Barat yang belum terbiasa dengan hal ini. 

Keberadaan anjing pelacak narkotika di daerah operasi Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Barat mendapatkan baik respon positif maupun respon negatif. Banyak apresiasi yang diterima dan keluhan yang disampaikan. 

“Pada dasarnya tujuan dari penggunaan anjing pelacak narkotika pada pengawasan DJBC adalah demi mencegah upaya masuknya narkoba ke Indonesia. Indonesia sudah masuk kategori darurat narkoba, karena itu unit anjing pelacak Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Barat perlu dukungan masyarakat untuk menjalankan tugas dan fungsinya dalam mengawasi orang dan barang yang masuk dari luar negeri demi mencegah terjadinya penyelundupan narkoba ke Indonesia,” beber Ginting. (r/*)

 

Berita Terkait