Pasangan Hiperbolis

Pasangan Hiperbolis

  Sabtu, 10 September 2016 09:30

Berita Terkait

Selalu ada permasalahan dalam rumah tangga. Setiap pasangan pun memiliki cara berbeda dalam menyikapi dan menyelesaikannya. Ada yang berusaha meredam agar persoalan tak menjadi besar. Tetapi ada pula yang membesar-besarkan masalah yang seharusnya diselesaikan dengan mudah.

 
 

Oleh : Marsita Riandini

 

KEHIDUPAN setelah menikah tentunya berbeda dengan masa pacaran. Berbagai masalah muncul dan tak dapat dihindari. Tetapi tetap harus diatasi. Apalagi jika sang pasangan terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Masalah kecil pun bisa menjadi bahan pertengkaran hebat. Padahal jika disikapi dengan jernih, solusinya ada di depan mata.

Lantas bagaimana jika itu terjadi pada pasangan Anda? Rika Indarti, M. Psi, Psikolog menyatakan setiap orang memiliki karakter beragam, termasuk dalam menyelesaikan persoalan. Ketika ternyata itu adalah pasangan Anda, ada dua hal yang harus dipahami.

Pertama, apakah berlebihan dalam menyikapi masalah itu menjadi bagian dari karakternya. Sebab ini penting untuk mengetahui kenapa pasangan Anda bersikap demikian. Salah satu Owner Persona Consulting ini mengatakan sebenarnya setiap orang yang melewati masa pacaran sudah bisa mengenal karakter pasangannya. Sebab masa pacaran digunakan untuk saling mengenal satu sama lain. Namun sayangnya, banyak pula yang berhasil menutupi sifap aslinya saat pacaran sehingga pasangannya merasa terkaget-kaget melihat sifat aslinya setelah menikah.

“Selama pacaran ada yang menutupi sifat asli mereka dengan alasan untuk mencari perhatian, memberikan kesan yang baik-baik saja, sehingga sifat jeleknya berhasil ditutup-tutupi. Apalagi memang intensitas bertemu lebih sering dibanding ketika berpacaran,” terang Rika.

Kedua, bisa saja karakter itu muncul ketika sudah menikah. Tentu ada faktor lain penyebabnya. Salah satu faktornya bisa karena itu adalah cara pasangan untuk mencari perhatian. Bisa pula karena dia punya pengalaman-pengalaman buruk yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi maupun dari masalah orang lain.

“Pengalaman itu bisa saja dari orang lain yang membuatnya khawatir berlebihan jika itu terjadi pada keluarganya. Akhirnya dia berusaha prepare, tetapi kesannya malah membesar-besarkan masalah,” ungkapnya.

Orang yang suka berlebihan dalam menyikapi persoalan biasanya adalah orang-orang dengan karakter pencemas, panikan, tidak berusaha berpikir jernih dalam menyikapi persoalan. “Tadinya masalah yang dihadapi itu tak perlu disikapi dengan rasa takut, tetapi karena dia cemas, muncul rasa takut, muncul prasangka jangan-jangan, jangan-jangan, panik, dan sebagainya,” ulasnya.

 

Dia mencontohkan ketika pasangan pulang terlambat. Seseorang yang cemas berlebihan, dia bisa bersikap tidak tenang, mondar-mandir menanti suami pulang. Belum lagi jika berpikir terjadi kecelakaan, atau bahkan mulai berpikir suami singgah ke tempat lain, dan sebagainya. Padahal mungkin sang suami ada kerjaan tambahan di kantor. “Kecemasan-kecemasan itu bisa menimbulkan pemikiran yang bermacam-macam. Tak jarang pula membuat kesimpulan sendiri,” terang dia.

Orang yang berlebihan dalam menyikapi persoalan biasanya juga berpengaruh pada hal-hal lain, tak hanya dalam rumah tangga saja. “Ketika dia mendengar informasi, dia tidak berusaha mencari tahu dan menyikapi persoalan secara jernih, dan berusaha untuk mencernanya dengan berbagai sudut pandang, akhirnya panik dan sebagainya,” pungkasnya. **

Berita Terkait