Pasang Cincin Pembuluh Darah di Jantung

Pasang Cincin Pembuluh Darah di Jantung

  Kamis, 26 July 2018 10:37
PEMASANGAN : Dokter Infan memperlihatkan rekaman proses pemasangan cincin seorang pasien melalui layar monitor. MARSITA RIANDINI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sejak Desember 2016, Rumah Sakit Kharitas Bhakti menghadirkan fasilitas kateterisasi jantung dan pemasangan stent, biasa disebut ring atau cincin. Sejak itu, rumah sakit yang berada di Jalan Siam itu sudah melayani pemasangan cincin ke hampir 30 pasien. Seperti apa prosesnya?

SIANG itu, Pontianak Post diajak untuk melihat ruang Cath Lab Rumah Sakit Kharitas Bhakti. Di ruangan yang dipenuhi alat-alat medis canggih itulah, Dokter Spesialis Jantung, Infan Ketaren dan timnya melakukan tindakan pemasangan ring atau cincin pada pasien. 

Dokter Infan juga memperlihatkan rekaman sebagian proses pemasangan cincin melalui layar monitor. Menurut Infan, pasang ring di jantung atau dalam bahasa medisnya disebut sebagai stent jantung merupakan sebuah prosedur yang dilakukan untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat di bagian jantung.

Dokter yang sudah mendapatkan lisensi untuk pemasangan stent ini mengatakan ada dua kondisi seseorang memasang cincin di jantungnya. Pertama karena serangan jantung. Berdasarkan standar dunia, kata Infan orang yang terkena serangan jantung harus segera dilakukan pemasangan cincin untuk mencegah percepatan kerusakan di jantung hingga kematian. 

“Terbaik itu kalau bisa dibawah tiga jam setelah mengalami serangan. Bahkan kalau standar dunia itu, kurang dari 90 menit saat terjadi serangan sudah kita kerjakan,” paparnya.

Kedua, karena adanya indikasi penyumbatan di jantung namun bukan karena serangan jantung.Untuk kasus ini, lanjut dia dapat dilakukan tindakan bahkan pasien sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya. “Kalau terkena serangan kita mesti observasi dulu,” paparnya. 

Penyumbatan dapat terjadi di lebih dari satu pembuluh darah. Namun, strategi tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi pasien. Jika ada beberapa pembuluh darah yang tersumbat, maka dokter akan melihat sumbatan mana yang lebih perioritas dan yang akan menyelamatkan pasien.“Biasanya pasang ring itu jika terjadi sumbatan lebih dari 60 sampai 70 persen. Di bawah itu terapi obat-obatan saja,” jelasnya.  

Pemasangan cincin dilakukan melalui kateter lentur yang dimasukkan melewati pembuluh darah di tangan, atau di pangkal paha. Dibantu dengan gambar di monitor dokter akan memandu kateter menuju pembuluh darah yang tersumbat. Stent akan bekerja sebagai penopang untuk menjaga agar pembuluh darah tetap lebar.  

“Ring itu semacam alat yang dimasukkan ke pembuluh  di  jantung. Pertama itu kita masukkan wayar atau kayak relnya untuk memasukkan cincin. Cincinnya itu kayak per pulpen,“ jelasnya. 

Menurut Dokter Infan sumbatan pembuluh darah masing-masing pasien berbeda-beda. Cincin tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pasien. Jika diameter sumbatnya besar, maka menggunakan ring dengan diamater yang besar. Begitu juga dengan ukuran panjang sumbatan. 

“Rata-rata sih penyumbatan itu berdiameter dua setengah sampai tiga milimeter,” paparnya. 

Stent atau cincin tersebut berupa jalinan logam kecil dan berbentuk mirip per pulpen. Dokter Infan mengatakan ada dua jenis cincin yang biasa digunakan, yakni berlapis obat dan yang tidak berlapis obat. Kelebihan yang berlapis obat dapat menjaga pembuluh darah tidak kembali mengalami sumbatan. Sementara yang tidak berlapis obat, mudah terjadi penyumbatan secara perlahan-lahan. Hanya saja ada perbedaan harga dari kedua jenis cincin tersebut.  

Tidak semua pasien bisa dilayani pemasangan cincin yang dipasang seumur hidup ini. Salah satu contohnya, pada pasien yang mengalami masalah pada ginjalnya. Jika kerusakan ginjal yang dialami masih tergolong ringan, maka masih bisa diantisipasi dengan obat-obatan baru dilakukan tindakan. Jika kerusakan cukup parah, maka perlu dilakukan diskusi lebih lanjut kepada keluarga pasien. Termasuk risiko-risiko yang akan terjadi nantinya. “Tetapi 80 persen pasien bisa dilayani,” ungkapnya. 

Lamanya tindakan yang dilakukan bervariasi. Dari satu sampai dua jam bergantung tingkat kerumitan kondisi pasien. Berdasarkan pengalamannya, ada pembuluh darah pasien yang berkelok-kelok, curam, sehingga menyulitkan cincin mencapai daerah yang tersumbat. 

Setelah dipasang ring, risiko serangan jantung karena pembuluh darah tersumbat dapat dihindari. Lantas, apakah pasien akan bebas dari penyempitan maupun penyumbatan pembuluh darah jika sudah pasang ring jantung? Dokter Infan mengatakan penyumbatan bisa saja kembali terjadi,  jika pasien tidak melakukan kontrol rutin dan gaya hidup yang tidak sehat.  

Penyumbatan dapat kembali terjadi, lanjut dia karena otot-otot yang ada di lapisan pembuluh darah bagian dalam mengalami penebalan secara perlahan-lahan. “Banyak faktor bisa penumpukan lemak, elastisitas terganggu misalnya karena penyakit diabetes, kolesterol, makanya orang sudah pasang ring juga harus betul-betul kontrol secara rutin,” ujarnya. 

Krisna Karhianto, Direktur Rumah Sakit Kharitas Bhakti mengatakan tujuan utama membuka layanan ini untuk bisa membantu masyarakat. Ketika ada yang mengalami serangan jantung, bisa cepat diambil tindakan untuk mengurangi risiko kematian. Selama ini kata dia, banyak pasien yang harus berobat ke luar Kota Pontianak hingga ke luar negeri dengan biaya yang cukup besar. 

“Semoga hadirnya layanan ini bisa membantu masyarakat. Meskipun tantangan kami cukup besar untuk menyediakan layanan ini, terutama terkait pendanaannya. Tapi tujuan utama kami untuk bisa membantu masyarakat,” pungkasnya. (*/mrd)

Berita Terkait