Parit Jangan lagi Mendangkal

Parit Jangan lagi Mendangkal

  Selasa, 22 March 2016 09:14
BERSIHKAN SAMPAH: Julianto (31) sedang membersihkan sampah diparit di Jalan Gajah Mada, hal ini guna mengurangi meluapnya air saat musim hujan. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Pontianak memiliki 32 aliran parit (drainase) primer yang tersebar di enam kecamatan. Alirannya menyambung ke parit sekunder dan tersier dengan jumlah yang tak sedikit. Tidak semua drainase berfungsi dengan baik. Apalagi musim kemarau, beberapa parit dangkal dipenuhi lumpur. Bagi pemadam kebakaran, parit sumber utama air ketika terjadi kebakaran.

*****

SUDAH setengah jam Eri (32) duduk di tepi barau Parit Jalan Purnama Dua. Matanya terus menatap ke arah joran pancing. Matanya seorang malas berkedip. Sambil menunggu umpan cacing di joran sederhananya di santap ikan, sesekali ia menghisap kretek. Namun, sore itu bukan hari keberuntungan pria berambut panjang itu. Hingga matahari terbenam tak satu pun ikan memakan umpannya.

Sudah beberapa pekan Pontianak tidak diguyur hujan. Parit di sekitaran Jalan Purnama Dua mengering. Pada beberapa titik, dasar parit terlihat. Selain Eri, keadaan ini juga dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk memancing. Lokasi memancing dipilih Eri di parit dangkal, namun masih menyisakan genangan air. Prediksinya bisa saja ikan berkumpul di lokasi itu.

Tak jauh dari lokasi Eri memancing, sebagian paritnya dangkal. Genangan air sudah tidak ada. Yang terlihat hanya tanaman kangkung serta beberapa jenis tumbuhan berdiri subur di tengah parit. Di bagian tepi barau, nampak seperti tak terurus. Parit itu terlihat dangkal berlumpur.

“Waktu saya kecil, parit di sini tidak seperti ini. Kondisinya sedikit baik dari yang sekarang. Kalau sekarang sebagian parit justru dangkal. Bahkan di beberapa tempat aliran parit justru di tumbuhi tumbuhan,” ucapnya.

Semasa masih duduk di bangku sekolah dasar, ia beserta teman kecil kerap mandi di parit yang biasa disebut orang Parit Tokaya. Lokasinya tak jauh dari tempat ia memancing sekarang ini. Seingat dia, kondisi parit dulu jauh lebih baik dari sekarang. Parit lebar seimbang. Tidak seperti sekarang, keadaan parit sebagian dangkal dipenuhi lumpur.

Menurut dia, berdirinya bangunan sampai berjubel turut berdampak bagi keberadaan parit. Pelebaran jalan juga memengaruhi. Parit-parit yang dulu lebar kini kondisinya tidak selebar dulu. Apalagi parit-parit kecil, hanya seadanya saja, bahkan hilang.

Keberadaan drainase, baik primer, sekunder, dan tersier sebenarnya saling terhubung. Kesemuanya itu akan bermuara ke Sungai Kapuas. Namun, apabila parit dipenuhi sampah alirannya akan tersumbat. Akibatnya parit tercemar dan bau. Kesadaran masyarakat penting dalam menjaga parit sesuai fungsinya. “Ketika hujan, parit bisa sebagai resapan tampungan, namun kalau tak ada parit bisa terjadi banjir,” jelasnya.

Selain itu, fungsi parit juga bermanfaat bagi petugas pemadam kebakaran. Beberapa kali ia melihat peristiwa kebakaran di Pontianak. Memang mereka memiliki persediaan air dalam tangki, namun ketika habis sasaran utama adalah mencari sumber air di parit-parit terdekat. 

“Ketika air parit tak ada, cukup sulit bagi petugas pemadam untuk memadamkan api. Makanya keberadaan parit sangat penting,” pungkasnya.

Hal tersebut dibenarkan Ketua Forum Komunikasi Kebakaran Pontianak, Ateng Tanjaya. “Keberadaan parit penting. Air parit merupakan sumber utama bagi petugas pemadam,” jelasnya.

Pontianak dikenal dengan Kota Seribu parit. Dulu ketika kebakaran petugas pemadam tidak kesulitan melakukan pemadaman api. Meski di musim kemarau, tetap saja di parit masih menyimpan air. Namun itu puluhan tahun lalu, paskakemerdekaan. “Waktu itu tidak menggunakan mobil, hanya pakai gerobak dorong. Dari Siantan kami dorong pakai pelampung, namun parit dulu banyak menyimpan air, beda dengan sekarang,” ujarnya.

Sekarang perkembangan kemajuan kota pesat. Pemukiman penduduk serta bangunan tinggi semakin banyak. Ternyata hal tersebut memengaruhi keberadaan parit. Selain parit menyempit, bagi sebagian orang parit dijadikan tempat pembuangan sampah. “Kalau sampah yang dibuang organik mungkin akan jadi tanah, namun sampah plastik ini yang tak tahan! Kadang ikut terbawa di dalam mesin sedot pemadam dan jadi masalah,” ujarnya.

Kondisi parit kecil dan sedang juga semakin dangkal. Banyak tersumbat akibat sampah. Akibatnya terjadi pendangkalan. Ketika musim kemarau, di beberapa wilayah dipastikan parit kering. Sebenarnya lanjut Ateng, normalisasi yang dilakukan pemerintah terhadap parit primer, sekunder dan tersier merupakan program tepat. Dalam upayanya, mereka mengangkut sampah di dalam parit, serta melakukan pengerukan lumpur agar parit tetap berfungsi sebagai mana mestinya.

Dulu pihak swasta juga pernah melakukan pembersihan parit. Daerahnya di sepanjang Jalan Gajah Mada. Dengan menggunakan alat seadanya, mereka membersihkan parit dari sampah-sampah. Sampah bekas buah-buahan banyak ditemukan. “Pernah ketika kebakaran, mesin penyedot  kemasukan sampah. Bukan sampah plastik, namun sampah buah-buahan. Sampah juga masalah bagi kami,” kenangnya.

Dijelaskan dia, memang tiap pemadam kebakaran dibekali persediaan air di dalam tangki pemadam. Rerata satu tangki membawa empat kubik air. Dengan jumlah itu, butuh waktu 15 menit bagi pemadam untuk menghabiskan air. Setelah air habis, petugas mesti mencari sumber air lain. Salah satuya parit. “Biasanya kami juga memanfaatkan sumur. Apabila tidak ada lagi, terpaksa air septic tank juga digunakan,” ucapnya sambil tertawa.

Menurut dia, ada beberapa daerah rawan ketika kebakaran. Daerah tersebut memiliki parit, namun ketika kemarau sebagian parit mengalami kekeringan. Daerah itu ada di sepanjang Jalan Prof. M. Yamin. “Daerah ini minim air. Ketika kebakaran kami kesulitan mendapatkan air,” ujarnya.

Agar kinerja pemadam maksimal, sebenarnya pemerintah dapat membuat hidran. Yaitu pipanisasi dari air leding PDAM yang bisa berfungsi apabila terjadi kebakaran di satu wilayah. Sebenarnya tiap gedung atau tempat pemukiman padat penduduk mesti memiliki hidran. Selain itu penataan parit dan normalisasi terus dilakukan berkelanjutan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak Ismail menuturkan, berdasarkan keputusan Wali Kota Pontianak, nomor 10 tahun 2009 tentang penetapan inventarisasi saluran di Pontianak, jumlah saluran primer di Pontianak ada 32 buah.

Diantaranya, Sungai Nipah Kuning, Sungai Serok, Parit Tengah, Sungai Beliung, Sungai Jawi, Parit Jalan Merdeka-Alianyang-P. Natakusuma, Parit Besar, Parit Tokaya, Parit Bansir, Parit Bangka, Parit Haji Husin, Parit Cahaya Baru, Sungai Raya Dalam, Parit Mayor, Parit Yusuf Karim, Parit Jalan Panglima Aim, Parit Jalan Tani, Sungai Kunyit Baru, Sungai Kunyit, Parit Matua Kacong, Parit Madura, Sungai Belanda, Sungai Sahang, Sungai Selamat, Sungai Putat, Parit Wan Salim, Parit Pekong, Parit Pangeran, Parit Nenas, Parit Makmur, Parit Norman dan Sungai Malaya.

Total panjang jumlah saluran primer 131.870 meter. Sisanya ada saluran sekunder dengan total 127.220 meter dan jumlah saluran tersier yang mencapai 345.715 meter. “Untuk total keseluruhan dari tiga saluran itu mencapai 604.805,” ucapnya.

Kesemua saluran parit lanjut Ismail berfungsi. Sebagian dari parit primer juga telah di turap beton. Itu karena parit primer merupakan tempat parit sekunder dan tersier yang semuanya akan bermuara ke Sungai Kapuas. 

Memang sampah merupakan masalah klasik. Namun, pihaknya tak tinggal diam. Parit itu dibersihkan berkala agar terbebas dari sampah. “Kita ada dana normalisasi. Pembersihan parit dilakukan di tiap kecamatan. Kadang kita bersama pihak kecamatan dan masyarakat bersama membersihkan drainase,” pungkasnya.

Saat ini pihaknya sudah menyelesaikan normalisasi di Parit Bentasan. Untuk di Sungai Malaya tanggung jawabnya pusat dan akan di normalisasi. “Ketika di pantau cukup banyak tumbuhan liar yang ada di atas Sungai Malaya. Nanti akan dibersihkan,” terangnya.

Meski anggaran pusat, pihaknya tak tinggal diam. Dia telah menempatkan dua petugas untuk mengangkat sampah dan kotoran di wilayah itu. Dengan begitu kondisi sungai tetap bersih, terutama dari tanaman liar. Beberapa pekan lalu, pihaknya juga menyelesaikan normalisasi Sungai Jawi. Selain pengerukan, pemungutan sampah juga dilakukan.

“Sebagian parit tersier kita bersihkan tiap hari. Ada petugas yang keliling. Jadi selain penurapan kita tiap hari lakukan pemantauan. Kalau untuk penurapan di muara sudah 80 persen. Itu dilakukan dalam rangka menjaga kedalaman parit primer,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan, ke depan pengelolaan drainase akan di tata. Saat ini wakil rakyat sudah menyusun perda tentang drainase. “Ini bagus. Pemeliharaan drainase dianggap perlu, makanya dewan mengajukan ini sebagai perda,” ucapnya Senin kemarin.

Dengan adanya komitmen pemerintah, DPRD dengan melibatkan masyarakat, tentu fungsi drainase ke depan akan lebih baik. Permasalahan soal drainase lanjutnya mengenai penyempitan dan pendangkalan. Pada umumnnya terjadi penyumbatan disebabkan oleh sampah, penutupan pipa atau jembatan, sehingga menyebabkan drainase sempit dan ak mengalir. “Ini penyebab genangan air. Ini mesti dibenahi,” pungkasnya.

Pantauan dia, sebagian besar parit primer, sekunder dan tersier telah terhubung. Memang ganggaun ada, namun ke depan bisa diselesaikan. Kalau persoalan sampah, rumput dan gulma itu tetap di pantau secara rutin. “Secara keseluruhan kondisi parit primer 80 persen berfungsi. Saat ini tinggal memaksimalkan,” ujarnya. (iza) 

Berita Terkait