Para Eksekutor Dimas Kanjeng Pecatan Tentara, Ketua Tim Pembunuhan Berpangkat Letkol

Para Eksekutor Dimas Kanjeng Pecatan Tentara, Ketua Tim Pembunuhan Berpangkat Letkol

  Jumat, 30 September 2016 08:43
FOTO GALIH COKRO/JAWA POS

Berita Terkait

DIMAS Kanjeng Taat Pribadi tidak main-main dalam mengamankan aset dan padepokannya. Dia merekrut pecatan tentara dengan berbagai pangkat. Dua orang berpangkat terakhir letkol. Satu di antaranya adalah ketua tim perencana pembunuhan Abdul Gani. Pecatan tentara itu menyusun mulai eksekutor hingga penghilangan jejak 

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos Group, tentara yang terlibat total enam orang. Lima di antaranya sudah tidak lagi aktif. Sementara itu, seorang anggota aktif sudah diserahkan ke kesatuannya untuk diproses hukum. Dua di antara lima tentara yang tidak aktif masih buron. Tiga lainnya sudah tertangkap. 

Mereka adalah Ahmad Suyono (pangkat terakhir kapten), Wahyu Wijaya (pangkat terakhir letkol), dan Wahyudi (pangkat terakhir letkol). Mereka berperan sebagai tim pelindung. Tugasnya, melindungi Dimas Kanjeng dan keberlangsungan aktivitas padepokan.

Wahyu diangkat sebagai ketua tim pelindung sekaligus ditunjuk sebagai penyusun rencana pembunuhan Gani. Pecatan tentara lainnya hanya menjadi eksekutor atau anak buah Wahyu. 

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Taufik Herdiansyah mengatakan, dalam kasus pembunuhan Gani, pihaknya baru menangkap empat tersangka. Selain tiga pelaku di atas, ada seorang bernama Kurniadi. "Hari ini (kemarin, Red) kami limpahkan ke kejaksaan," katanya.

Menurut dia, berkas empat tersangka itu sudah dianggap sempurna. Karena itulah, kasus mereka disidangkan terlebih da­hulu. Sebenarnya Dimas Kanjeng juga masuk daftar yang terlibat pembunuhan Gani. Hanya, berkasnya masih dilengkapi.

Dari pengakuan pelaku, kata Taufik, Gani dibunuh karena menyelewengkan banyak uang dan tidak sejalan dengan program padepokan. Dia juga dianggap memprovokasi pengikut lain agar tidak percaya kepada Dimas Kanjeng dengan mau menjadi saksi atas laporan penipuan di Mabes Polri. 

Karena itu, disusunlah rencana untuk menghabisi Gani. Penyusunan rencana tersebut dipimpin Wahyu Wijaya (seorang tentara dengan pangkat terakhir Letkol). Caranya, korban diminta datang ke salah satu rumah di padepokan. "Alasannya, mau dipinjami uang," ucapnya. 

Korban yang datang dengan naik mobil tidak curiga. Ketika masuk ke rumah tersebut, hanya ada satu orang yang menemui. Saat Gani berbincang-bincang, satu pelaku muncul dari belakang dan memukulkan besi ke tengkuknya hingga terjatuh. Setelah itu, muncul satu pelaku lagi yang menjeratnya dengan tali.

Ketika sudah tidak berdaya, korban ditelanjangi. Wajahnya dilakban dan kepalanya dibungkus plastik. Tubuh Gani kemu­dian dimasukkan ke kontainer yang sudah disiapkan. Tugas selanjutnya diteruskan anggota lain. 

Mereka sudah siap di depan rumah tersebut dengan dua mobil. Dengan dua kendaraan itu, pelaku membawa jasad Gani ke Waduk Gajah Mungkur, Wo­nogiri, Jateng.

Di salah satu jembatan tidak jauh dari waduk, tubuh korban dikeluarkan dari mobil dan dilemparkan ke sungai. Pelaku ke­mudian berbalik ke padepokan. Dalam waktu bersamaan, ada pelaku yang bertugas membuang mobil pelaku di Jateng. "Mobil itu sudah ditemukan," ucapnya. (eko/c10/nw)

Berita Terkait