Para Bocah Penantang Bahaya di Jembatan Kuning, Mataram

Para Bocah Penantang Bahaya di Jembatan Kuning, Mataram

  Minggu, 23 December 2018 08:57

Berita Terkait

Baru Pulang kalau Mendung Gelap di Arah Timur 

Dari atas Jembatan Kuning di Mataram, para bocah dari kampung sekitar mengadu nyali melompat ke sungai yang dipenuhi batu cadas dan pecahan beling. Tapi, mereka terlatih membaca isyarat alam. 

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram 

”RIDHO...Ridho, coba lihatin di sini dalam atau tidak?” pekik bocah itu. 

Dia hilir mudik di atas salah satu rangka jembatan. Sambil melihat ke arah Sungai Jangkuk Dasan Agung di bawahnya. Tanpa pengaman. 

Bocah yang dipanggil Ridho pun mendekati titik air yang terlihat tenang itu. Kakinya tertatih-tatih menginjak dasar sungai yang dipenuhi bebatuan tajam. Dengan sedikit berenang, dia telah sampai ke lokasi yang ditunjuk kawannya. 

”Dalam,” jawabnya dari dasar sungai. 

Arus sungai cukup deras. Setelah mengukur dalamnya titik yang ditunjuk kawannya, dia memilih melanjutkan berenang. Menghanyutkan badan mengikuti arah arus. Lalu, di sisi barat jembatan, bergerak menepi.

Pada Selasa jelang sore di Jembatan Kuning Dasan Agung-Dasan Sari (DADS) itu, para bocah tersebut tengah menikmati ”wahana air”. Itu pemandangan rutin di sana. Apalagi di masa liburan sekolah seperti sekarang. Selalu ramai oleh belasan hingga puluhan anak dari kampung sekitar. 

Bagi masyarakat di sana, jembatan itu telah menyambung asa. Meningkatkan aksesibilitas dan ekonomi. Namun, bagi bocah-bocah pemberani tersebut, Jembatan DADS adalah mainan. Lebih seru dan menegangkan daripada roller coaster dan sejenisnya. 

Wahana air harus diberi tanda kutip karena sesungguhnya permainan yang mereka lakukan berbahaya. Melompat dari jembatan ke arah sungai yang dipenuhi bebatuan cadas. Dengan dasar yang di sana-sini terdapat pecahan beling. 

Itu pula yang membuat si bocah di rangka jembatan tadi tak langsung melompat. Dia harus memastikan bahwa sasaran yang akan dia pilih cukup dalam. 

”Imam...Imam! Coba lihat di sini dalam atau tidak,” pekiknya lagi. 

Seorang bocah telanjang bulat segera berenang ke titik yang sama. Dia terlihat ragu. Seperti menemukan ada bebatuan yang bebahaya di dasar sungai. Tangannya melambai ke arah kawannya di atas jembatan. Seolah mengisyaratkan agar dia tak nekat terjun. 

Tapi, bocah yang bernama Imam itu berubah pikiran. Ketika tubuhnya sudah berenang ke posisi agak tengah. Kakinya sulit menemukan dasar sungai dengan arus air yang lebih tenang. ”Dalam,” sahutnya kemudian. 

Sama dengan Ridho, Imam pun memilih membiarkan tubuhnya hanyut terbawa arus ke barat. Dia baru mengangkat tubuhnya setelah berhasil menjejakkan kakinya ke sisi sungai yang dangkal. 

Byurrrr! Tubuh bocah tengil itu meluncur ke Sungai Jangkuk. Lalu, membelah permukaan sungai hingga dasarnya. Beberapa saat tak muncul, beberapa temannya yang lain memandang dengan penasaran. Mereka terdiam. Menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. 

”Aduh, terantuk batu!” pekik anak itu saat kepalanya menyembul di atas permukaan sungai. 

Di sungai itu, pada September 2017 seorang anak ditemukan tak bernyawa. Tapi, anak-anak punya dunianya sendiri. Sampai kini di tempat yang sama mereka gemar mengadu nyali. Bergembira di wahana seadanya. 

Bahkan, setelah kejadian pada September tahun lalu, tak ada pengawasan berarti dari pihak berwenang. Sekadar imbauan atau larangan untuk bermain lompat dari jembatan juga tak ada. 

Para orang tua dari kampung sekitar pun sesekali saja muncul untuk mencari anak-anak mereka. ”Kadang ada yang kakinya sobek karena kena batu atau beling,” tutur Setuni, warga yang berjualan tak jauh dari Jembatan Kuning DADS, tentang polah anak-anak yang menjadikan jembatan dan sungai itu sebagai wahana.

Bahkan, ketika si teman mengaduh karena terantuk batu, kawan-kawannya hanya menertawakan. ”Lasing aiq kodeq bani kamu nepur! (habisnya air kecil, kamu kok berani terjun),” ujar seorang anak dari pinggir sungai dalam bahasa Sasak sambil menertawai si teman. 

Kadang kala mereka hanyut ke barat terbawa arus kencang. Beruntungnya, bocah-bocah itu terlatih. Menaklukkan derasnya air Sungai Jangkuk.

Mereka baru akan pulang jika dua hal terjadi. Pertama, ayah atau ibu mereka datang dengan wajah garang. Sembari menenteng bilah bambu atau rotan. 

”Disuruh pulang, sebab mandi seharian dan lupa makan,” kata Setuni. 

Lalu, kalau ada bahaya datang. Anak-anak itu terlatih membaca isyarat alam. Jika isyarat itu muncul, tak perlu menunggu ayah atau ibu mereka datang dengan wajah marah. Dengan sendirinya, mereka akan bergegas naik. Menyelamatkan diri sebelum bahaya mencengkeram. 

”Kalau mendung gelap di arah timur, air jernih membesar, lalu perlahan berubah keruh, nah anak-anak pasti berlarian naik dan bergegas pulang,” tuturnya. 

Hujan lebat se-Kota Mataram tak pernah membuat anak-anak itu takut berenang di sungai. Tapi, mendung di arah timur berarti air sudah pasti akan besar dari arah hulu. 

Itu pertanda mereka harus pulang segera dan melanjutkan permainan di halaman-halaman rumahnya. 

”Sejak ada jembatan ini, di sini selalu ramai. Bahkan, banyak remaja yang nongkrong di jembatan, foto selfie-selfie, pokoknya ramai dah,” ujarnya Setuni.

Dia berharap pemerintah bisa memberikan sentuhan lebih banyak lagi pada Jembatan Kuning DADS. Sehingga pada akhirnya nanti bisa jadi salah satu situs wisata favorit di kota. Tentu faktor keselamatan juga harus diperhatikan. Terutama untuk anak-anak yang tiada henti adu nyali di sana. (*/c10/ttg)

Berita Terkait