Panen Raya, Tengkawang Tak Terserap

Panen Raya, Tengkawang Tak Terserap

  Sabtu, 16 February 2019 17:42
istimewa

*Buah Tengkawnag Malah Dibuang

PONTIANAK - Panen raya buah tengkawang telah tiba. Sayangnya, petani tidak mendapatkan keuntungan dari panen raya kali ini. Hal itu terjadi lantaran minimnya penyerapan yang diperparah dengan anjloknya harga biji buah yang menjadi maskot Kalimantan Barat (Kalbar) itu. Akhirnya, berton-ton buah pun dibiarkan begitu saja.

Hal ini diakui oleh Djerman, petani tengkawang asal Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. “Bulan Januari ini buah tengkawang melimpah ruah, namun sekarang buahnya sudah keluar daun,” ungkapnya, saat dihubungi Pontianak Post, Selasa (12/1).

Saat ini, di desanya saja panen buah tengkawang sekitar 200-300 ton. Menurutnya masih ada empat desa lainnya di Kecamatan Sajingan Besar yang juga tengah panen. Sebagian besar, diakuinya tidak terserap. Akhirnya, buah tersebut oleh petani dibuang.

Bulan Februari ini, dikatakannya sudah memasuki akhir musim panen. Buah yang dalam kondisi segar pun sudah tidak banyak lagi. “Barangkali sisanya hanya 20-30 persen saja,” sebutnya.

Sebetulnya, sudah ada penawaran yang masuk untuk membeli biji tengkawang. Sayangnya, harga yang dipatok tidak sesuai. Harga beli dari petani, kata dia, hanya Rp3000 per kg. Jika ditotal, untuk ongkos produksi dan biaya pengiriman, menurut perhitungannya tidak sebanding dengan pemasukan yang didapat. Jika pun ada, untungnya sangat sedikit.

“Minimal harganya lima ribu per kg, petani baru dapat untung,” katanya.

Pada panen sebelumnya, sekitar tiga tahun yang lalu, kata dia, buah tengkawang masih diserap oleh pengepul asal Malaysia. Tahun ini, entah mengapa tidak ada. “Ini yang sisa punya saya kalau tidak laku mau saya kubur saja,” pungkasnya.

Direktur Institut Riset dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan (INTAN) Kalbar, Deman Huri mengatakan, saat ini secara umum panen buah tengkawang di wilayah Kalimantan Barat sedang berlangsung. Beberapa daerah, akan panen raya di bulan Februari.

“Tahun ini lebih panen raya lebih banyak kalau dibandingkan dengan panen-penen di tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sayangnya, panen raya kali ini tidak berbanding lurus dengan penyerapannya. Ekspor ke luar negeri sebagai pasar yang paling potensial menyerap biji tengkwang, tidak dapat dilakukan lantaran terganjal Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) 44/M-DAG/PER/7/2012 tentang Barang Dilarang Ekspor. Penyerapan domestik pun saat ini tidak dapat menjadi tumpuan utama, lantaran penyerapannya sangat minim.

“Saat ini cuma ada satu industri besar yang mampu menyerap biji tengkawang, itu pun jumlahnya sangat sedikit. Industri kecil sebenarnya ada, namun penyerapannya mungkin hanya 30-70 ton saja,” jelasnya.  

Keluarnya Permendag 44/M-DAG/PER/7/2012 semestinya dibarengi dengan kesiapan industri hilir untuk produk turunan biji tengkawang. Terlebih potensi pengolahan biji tengkawang yang menghasilkan minya nabati, mengahasilkan produk turunan yang sangat bermanfaat. Jumlahnya di dunia pun, kata Deman, sangat terbatas lantaran hanya bisa di tanam di daratan Kalimantan dan Afrika.

Di sisi lain, adanya aturan tersebut akan mengancam eksistensi tanaman yang menjadi maskot Kalbar itu. Bagaimana tidak, apabila tanaman ini tidak memberikan manfaat ekonomi bagi petani, tidak menutup kemungkinan mereka akan mengganti komoditas lain untuk ditanam. Terlebih saat ini, pohon tengakwang sudah tidak lagi masuk dalam jenis tumbuhan yang dilindungi. Permen LHK Nomor P.20/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, sedikitnya ada 921 jenis tumbuhan dan satwa dilindungi, dan tengkawang tidak masuk dalam daftar itu.

“Ini jadi tidak sinkron, dilarang untuk ekpsor, tapi oleh LHK tanaman ini (tengakwang) tak masuk dalam tanaman yang dilindungi. Nanti akan mudah bagi siapa saja melakukan penebangan pohon tengkawang,” tuturnya.

Karena itu, dia berharap ada solusi dari pemerintah guna mengatasi persoalan ini. Bagaimana pemerintah dengan segala kewenangan dan instrumen yang mereka punya mampu membuat tengkawang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama bagi petani sebagai ujung tombak. Terpenting lagi, kelestarian tanaman khas ini dapat terjaga. (sti)