Pagar Tanaman Itu Kini Menangi Kontes Internasional

Pagar Tanaman Itu Kini Menangi Kontes Internasional

  Kamis, 9 June 2016 09:30
KEMBALI KE ALAM: Ayi Sutedja mengecek pengeringan kopi yang diproses secara semi wash di Desa Cimaung, Kabupaten Bandung. Foto: Gunawan Sutanto/Jawa Pos

Berita Terkait

Cintanya pada alam telah membelokkan jalan hidup Ayi Sutedja. Dari kontraktor listrik menjadi petani kopi. Di tangannya, biji arabika di tanah Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, menjadi kampiun pameran kopi dunia.

Gunawan Sutanto, Bandung  

Perhelatan Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS), April 2016 kian menahbiskan Indonesia sebagai negeri kopi. Di perhelatan itu kopi-kopi Indonesia kembali berjaya. Termasuk arabika dari Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang keluar sebagai juara.

Siapa sangka, biji kopi sang juara selama ini justru merupakan tanaman yang terabaikan. Di daerah asalnya, lereng Gunung Puntang, kopi itu hanya dimanfaatkan warga sebagai pembatas kebun sayuran.

Di tangan Ayi Sutedja, kopi di lereng Gunung Puntang tersebut berangsur naik kasta. Menjadi kopi organik dan punya skor tertinggi di beberapa ajang penilaian kopi. Demi meninggikan kasta itu, Ayi rela meninggalkan keramaian Kota Bandung menuju sunyinya lereng Gunung Puntang.

Di sana pria yang akrab disapa Pak Haji tersebut membangun saung di tengah persawahan Desa Cimaung. Bangunan semipermanen dibalut kayu dan bambu itu yang sehari-hari menemaninya mengolah biji kopi. Mulai mengecek tanaman, memanen, hingga memprosesnya menjadi green bean atau biji mentah siap sangrai.

Ayi datang ke Gunung Puntang pada 2011 sejatinya hanya untuk kegiatan pelestarian alam, yakni penanaman kembali hutan. ”Saya punya kenangan dengan Gunung Puntang. Dulu waktu muda sering melakukan kegiatan pencinta alam di sini,” ujar pria 51 tahun itu.

Di sebuah siang yang sejuk (28/5), Jawa Pos berkesempatan melihat Ayi memproses biji kopinya yang mendunia. Kebetulan, siang itu Ayi tengah menjemur kopi yang baru dipetik lima hari sebelumnya. Penjemuran tersebut dilakukan di bangunan semipermanen beratap terpal bening. Tak jauh dari Saung yang dibangun Ayi.

Ayi memutuskan kembali ke alam setelah memilih berhenti dari perusahaan kontraktor di Bekasi. Saat datang kembali ke Gunung Puntang, sarjana pendidikan luar sekolah (PLS) IKIP Bandung tersebut miris melihat kondisi hutan di sekitar Gunung Puntang. Kerusakan lereng terjadi di banyak titik. Erosi dan longsor juga kerap terjadi.

Salah satu penyebab rusaknya kawasan hutan itu tak lain pola tanam keliru yang dilakukan warga. Kawasan hutan produksi yang seharusnya ditanami tanaman keras banyak dimanfaatkan sebagai kebun sayuran. ”Ada beberapa pohon kopi sebenarnya. Tapi hanya sebagai pagar dari kebun sayur,” ujarnya.

Kegelisahan itu mempertemukan Ayi dengan Mamat, penduduk asli Gunung Puntang yang selama ini membibit kopi arabika. Keinginan Mamat dan Ayi klop. Keduanya sama-sama ingin melestarikan hutan di Gunung Puntang. Dari situ dipilihlah penanaman kopi.

Niat baik Ayi juga didukung Koperasi Sunda Hejo. Dia diberi bibit salah satu kopi arabika tertua dari Gunung Guntur, Garut. Dengan telaten bibit tersebut disemai hingga terakhir telah menghasilkan total 10 ribu pohon.

Sebanyak seribu bibit kopi ditanam sendiri oleh Ayi dan kelompok taninya. Dia menanam di lahan seluas 2 hektare milik Perhutani dengan sistem pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Sisanya dia bagi-bagikan sendiri kepada masyarakat.

”Awalnya saya tak punya niat untuk expert di pengolahan kopi. Tapi, ternyata kopi itu tidak cukup sekadar ditanam. Harus dipelihara dan diolah dengan baik. Ya akhirnya sekalian saja,” cerita pria yang menanam kopi dengan metode organik tersebut.

Ketika kopi yang ditanam di ketinggian 1.220–1.470 mdpl itu mulai panen, Ayi mulai kebingungan. ”Mau diapain ini kopi yang dipanen? Masak hanya dijual Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu per kilo?” ujar bapak empat anak tersebut.

Selama ini masyarakat sekitar Gunung Puntang yang menanam kopi ala kadarnya memang hanya menjual gelondongan dalam bentuk cherry (istilah buah kopi). Di tangan para tengkulak, buah kopi arabika itu dijual supermurah.

Melihat kondisi tersebut, Ayi berpikir membuat rumah kopi. Tak jauh dari kebun di Gunung Puntang. Rumah itu dibuat sebagai tempat pengolahan kopi hingga menjadi kemasan bubuk. Dia belajar secara otodidak. Niatnya tidak sekadar meningkatkan harga jual, tapi juga mendongkrak nilai jual kopi yang ditanam para petani.

Awalnya Ayi menguji coba dengan membeli hasil panen masyarakat. Untuk membangkitkan gairah masyarakat menanam kopi, Ayi berani membeli cherry dua kali dari harga tengkulak. Dari Rp 2 ribu per kilogram dibeli Ayi Rp 4 ribu per kilo. ”Uang saya saat itu hanya cukup untuk membeli 4 ton dari petani. Saya nekat membeli lebih mahal agar masyarakat semangat menanam kopi,” kenangnya.

Buah kopi 4 ton itu diolah sendiri hingga menjadi bubuk. Di-branding sendiri dengan label Kopi Gunung Puntang. Kopi-kopi itu coba dia pasarkan di sekitar Bandung. ”Pada produksi pertama, itu kopi memang habis terjual, tapi tidak ada untungnya. Tapi tak masalah. Memang saya niatkan untuk branding dulu,” terangnya.

Upaya Ayi membudidayakan kopi di Gunung Puntang tersebut ternyata sampai ke telinga para pengurus Asosiasi Organik Indonesia (AOI). Dia diundang mengikuti seminar tentang kopi di Kedutaan Belanda di Jakarta. 

Singkat cerita, pergulatan Ayi di dunia perkopian membawanya bergabung dengan Sustainable Coffee Platform of Indonesia (Scopi). Lembaga nirlaba yang berkedudukan di Jakarta itu dengan berbagai cara mengembangkan bisnis budi daya kopi anggotanya. Salah satunya melalui lomba uji cita rasa kopi (cupping test).

Nah, cita rasa kopi hasil budi daya Ayi kali pertama diuji saat Scopi menyelenggarakan pameran November 2015. Ketika itu kopi-kopi olahannya mendapatkan nilai terbaik. Ayi mengelola kopinya dalam tiga cara, yakni semi wash (honey), natural, dan full wash.

Selama ini dalam perkopian dikenal tiga jenis pengolahan buah kopi hingga menjadi biji. Tiga proses itu adalah natural (petik buah yang merah, dicuci langsung dijemur), semi wash atau honey (petik, cuci, dikuliti atau pulper, dan dijemur), serta full wash (petik, cuci, dikuliti, difermentasi, lalu dijemur). Kopi yang diolah secara semi wash atau honey mendapatkan skor 85,3. Selanjutnya, kopi yang diolah secara full wash mendapatkan nilai 83,5 dan yang diolah secara natural mendapatkan poin 81. 

Sebagaimana diketahui, sebuah kopi mesti mendapat skor di atas 80 untuk masuk kategori specialty. Mereka yang melakukan penilaian adalah orang-orang yang memang punya sertifikasi sebagai Q-grader (sertifikasi pencicip kopi).

Dari hasil kejuaraan di Jakarta itu, kopi milik Ayi mulai dikenal masyarakat luas, terutama para pemilik coffee shop. ”Mereka banyak yang berdatangan. Tapi, produksi saya kan belum banyak. Akhirnya mereka beli hanya untuk sekadar keperluan cupping test saja,” terangnya.

Kesuksesan Ayi berlanjut pada awal 2016. Kementerian Perdagangan bersama Caswells Coffee (perusahaan kopi di Indonesia yang punya sertifikat standar SCAA) menyeleksi kualitas kopi dari berbagai daerah. Kopi-kopi itu diikutkan uji rasa dalam SCAA Expo 14–17 April lalu di Atlanta, Georgia, AS.

Dalam seleksi itu Indonesia membawa 20 sampel kopi. Semuanya diikutkan dalam SCAA Expo 2016. Kopi yang terpilih antara lain Gunung Puntang, Mekar Wangi, Manggarai, Malabar Honey, Atulintang, Bluemoon Organic, Java Cibeber, Catur Washed, West Java Pasundan Honey, Pantan Raya, Golawa, Redelong, Andungsari, Ende, Catur Hinay, dan Temanggung. Ikut pula dibawa kopi-kopi yang selama ini namanya sudah sangat mendunia. Yakni Toraja Sapan, Gayo Organic, Arabica Specialty Gayo, dan Arabica Toraja. 

Tanpa pernah diduga, Kopi Gunung Puntang justru yang mendapatkan peringkat teratas di SCAA Expo. Nilainya 86,25 poin. Sayang, Ayi tak bisa menyaksikan langsung saat kopinya didapuk sebagai kampiun di kejuaraan internasional. ”Sayangnya, saya tak punya ongkos ke sana,” candanya.

Mendapatkan skor tertinggi pada berbagai event malah membuat Ayi khawatir. Dia takut belum bisa mempertahankan kualitas kopinya. Maklum, kopi-kopi yang dilombakan itu termasuk panen perdana. ”Saya bingung karena makin banyak yang nyari. Apalagi, yang dicari kebanyakan natural process (yang hanya mendapatkan skor 81, Red),” jelasnya.

Ayi selama ini membanderol kopinya Rp 300 ribu per kilo, dalam bentuk green bean. Dia berharap masyarakat sekitar Gunung Puntang termotivasi dan meniru yang dilakukan kelompok taninya. Yakni mengelola kopi secara benar dan tak menjualnya dalam bentuk buah gelondongan atau cherry.

Sejak Ayi mengenalkan cara tanam kopi secara organik ke masyarakat, harga kopi di Gunung Puntang yang ditanam masyarakat memang mulai naik. Dari awalnya harga cherry Rp 2 ribu–Rp 3 ribu per kilogram, kini tembus Rp 8 ribu–Rp 10 ribu per kilogram.

”Saya inginnya nanti semua masyarakat di sini bisa menjual dalam bentuk biji. Jadi, yang naik bukan harga jualnya saja, tapi juga nilai jualnya,” tutur Ayi. Saung yang didirikan untuk mengelola kopi saat ini diharapkan bisa menjadi tempat belajar semua petani di Gunung Puntang.

Ayi selama ini rajin mendatangkan beberapa orang ke saungnya untuk ikut memberikan edukasi ke petani. Terakhir, sebelum Jawa Pos datang ke saung, Ayi baru saja mendatangkan orang dari sebuah bank BUMN. Mereka diminta berbagi mengenai pendanaan untuk para petani. 

Selain terus mengembangkan kopi di Gunung Puntang, Ayi kini tengah menguji coba kulit kopi sebagai teh. Jawa Pos sempat mencoba teh tersebut. Sepintas rasa seduhan teh kulit kopi itu seperti bunga rosela. ”Saya ingin zero wash. Semua dari kopi bisa termanfaatkan,” ujar pria yang mengaku menjadi peminum kopi sejak SD tersebut.

Sejak kopinya berjaya di berbagai ajang dan banyak dicari masyarakat, Ayi benar-benar menghabiskan waktunya di Gunung Puntang. Praktis, dia turun ke Kota Bandung hanya pada Jumat dan Minggu. Hari Jumat biasanya dia gunakan bertemu beberapa orang yang berkaitan dengan kopi. Sabtu dia kembali ke Gunung Puntang. Minggu pagi dia turun kembali ke Kota Bandung untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Meski butuh waktu dua jam untuk ke pusat kota, Ayi rela hilir mudik seperti itu. ”Bagaimana lagi, kalau di Bandung saya kan hanya mengurusi empat anak. Lha di sini saya punya seribu anak (para petani kopi, Red),” gurau pria kelahiran 12 Januari 1965 tersebut. (*/c9/sof)

Berita Terkait