Okupansi Hotel di Kalbar Meningkat

Okupansi Hotel di Kalbar Meningkat

  Kamis, 13 September 2018 10:00
HOTEL BARU: Salah satu hotel yang belum lama ini beroperasi di Kota Pontianak. Tingginya potensi peningkatan hunian hotel, membuat tingginya keyakinan investor perhotelan membangun bisnisnya di Kalbar. DOK-SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Tingkat Penghunian Kamar (TPK) atau okupansi hotel di Kalimanta Barat, baik berbintang maupun nonbintang mengalami peningkatan. Kepala Badan Pusat Statistik Kalbar Pitono mengatakan okupansi Hotel Non Bintang di Kalimantan Barat Juli 2018 naik 2,38 poin yaitu dari 38,65 persen pada Juni 2018 menjadi 41,03 persen. 

“Kelompok kamar lebih dari 41 menempati urutan tertinggi dengan TPK 51,05 persen diikuti dengan kelompok kamar 10-24 sebesar 37,69 persen, kemudian kelompok kamar 25-40 mencapai 33,43 persen, sedangkan kelompok kamar kurang dari 10 menempati urutan terendah dengan TPK 29,93 persen,” papar dia, kemarin.

Hal tersebut juga berdampak pada lama menginap di hotel. Rata-rata lama menginap tamu Hotel Bintang di Kalimantan Barat pada Juli 2018, selama 1,97 hari, naik 0,49 hari dibandingkan Juni 2018, 1,48 hari.Secara keseluruhan, rata-rata lama menginap tamu asing Juli 2018 tercatat 2,98 hari, lebih lama 1,04 hari dibandingkan tamu Indonesia 1,95 hari, sedangkan Juni 2018 rata-rata lama menginap tamu asing tercatat 2,76 hari, lebih lama 1,33 hari dibandingkan tamu Indonesia 1,43 hari.

Dilihat dari klasifikasi Hotel Bintang, pada Juli 2018 tamu asing lebih lama menginap di hotel bintang 2 rata-rata selama 4,45 hari, sedangkan untuk tamu domestik/Indonesia lebih lama menginap di hotel bintang 3 rata-rata selama 2,13 hari. Rata-rata lama menginap tamu Hotel Non Bintang di Kalimantan Barat pada Juli 2018 selama 1,44 hari, naik 0,05 hari dibandingkan Juni 2018, 1,39 hari.

Sementara itu, tamu warga negara asing yang menginap pun mengalami peningkatan. Secara keseluruhan, rata-rata lama menginap tamu asing Juli 2018 tercatat 4,85 hari, lebih lama 3,42 hari dibandingkan tamu Indonesia 1,43 hari, sedangkan Juni 2018 rata-rata lama menginap tamu asing tercatat 1,95 hari, lebih lama 0,57 hari dibandingkan tamu Indonesia 1,38 hari.

“Dilihat dari klasifikasi Hotel Non Bintang, pada Juli 2018 tamu asing lebih lama menginap di kelompok kamar 10-24 rata-rata selama 5,85 hari, sedangkan untuk tamu domestik/Indonesia lebih lama menginap di kelompok kamar >41 rata-rata selama 1,79 hari,” papar dia.

Industri perhotelan di Kalbar sendiri terus meningkatkan standar pelayanannya.  Dalam beberapa hari ini, anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kalbar mengikuti sertifikasi  uji kompetensi bagi SDM yang bergerak dalam bidang perhotelan penting dilakukan untuk meningkatkan daya saing industri pariwisata Kalbar. Adapun sektor yang disertifikasi adalah receptionist, room attendant, dan waitress.  “Agar mutu pelayanannya berstandar internasional dan berkelas,” ujar Ketua PHRI Kalbar Yuliardi Qamal.

Dia memaparkan, uji kompetensi tersebut seiring dengan persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Setiap tenaga kerja di bidang pariwisata memiliki standar kompetensi, yang diuji melalui uji kompetensi. Selain itu, setiap usaha pariwisata minimal memiliki 50 persen tenaga kerja yang tersertifikasi kompetensi.

Uji kompetensi tersebut diakui negara ASEAN.  Artinya, setiap tenaga kerja di bidang hotel dan restoran yang memegang sertifikat kompetensi yang dikeluarkan masing-masing lembaga yang ditunjuk negaranya itu, boleh bekerja di semua negara ASEAN. Begitu juga warga negara lain bisa bekerja di Pontianak, bila memiliki sertifikat tersebut.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar Yuliardi Qamal mengatakan, saat ini masih banyak karyawan hotel yang belum bersertifikasi. Padahal, kata dia, sertifikasi karyawan juga merupakan salah satu penilaian dari Kemenpar untuk memberikan status hotel. (ars)

Berita Terkait