Nyaman karena Bisa Sharing dan Tertawa Bareng Teman

Nyaman karena Bisa Sharing dan Tertawa Bareng Teman

  Minggu, 5 June 2016 10:09
KEBERSAMAAN: Para anggota Komunitas Hamur saat ditemui di Fakultas Kehutanan UGM, Jumat (27/5). SEKARING RATRI/JAWA POS

Berita Terkait

Di Komunitas Hamur, anak-anak muda produk keluarga broken home saling menguatkan agar tak terjerembap ke tindakan negatif. Berawal dari pengalaman pahit inisiatornya yang bahkan hampir memilih mengakhiri hidup. 

SEKARING RATRI ADANINGGAR, Jogjakarta

TIAP kali dampratan sang ayah sudah tak tertanggungkan lagi, tak ada jalan lain bagi Hadaridho Ridwanto. Pemuda yang akrab disapa Hadar itu merekam jejak kekerasan verbal tersebut, lalu mengirimkannya ke grup rekan-rekannya di Komunitas Hamur. 

”Saya cuma ingin teman-teman tahu gimana jahatnya bapak saya. Dengan begitu, saya bisa lebih plong,” kata mahasiswa Jurusan Teknik Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu.

Fatma Zora juga merasa seperti menemukan kedamaian di komunitas yang sama di tengah belitan persoalan keluarga gara-gara ayahnya yang doyan selingkuh. ”Aku lebih bahagia karena ada komunitas ini. Aku jadi nggak mikir ayah, lebih mikir aku harus cepat sukses biar bisa biayain adik-adikku sampai kuliah,” kata gadis 19 tahun itu.

Rumah nyaman yang bernama Komunitas Hamur tersebut memang didirikan untuk tempat berkumpulnya anak-anak muda seperti Hadar dan Zora. Anak-anak muda yang berasal dari keluarga broken home. Mereka yang nyaris terjerembap dalam keputusasaan, tapi berupaya bangkit dan akhirnya menemukan kekuatan dari rekan-rekan senasib sepenanggungan di Hamur. 

”Hamur itu kalau dibalik jadinya kan rumah. Komunitas ini setidaknya bisa jadi rumah buat orang-orang seperti kami ini, yang berasal dari keluarga berantakan,” kata Dian Yuanita Wulandari, yang menginisiatori pendirian komunitas tersebut pada Februari 2015.

Ide awalnya berasal dari pengalaman pahit Dian sendiri. Menjadi produk dari keluarga broken home gara-gara perpisahan orang tua saat dirinya masih duduk di bangku SD, dara 21 tahun itu sering merasa kesepian. Dia juga mudah tertekan dengan banyak hal. 

Karena saking depresinya, mahasiswi Fakultas Kehutanan UGM itu mengaku pernah berusaha mengakhiri hidup. Salah satunya dilakukan dengan menyayat pergelangan tangan. ”Tapi, begitu darahnya ngucur, aku takut sendiri, hahaha,” kenang dia tentang pengalaman pahit itu ketika ditemui Jawa Pos di sekitar kampus UGM Jumat lalu (27/5). 

Karena kerap merasa tertekan, perempuan kelahiran 4 September itu jadi terbiasa curhat kepada teman-temannya di kampus. Ternyata beberapa di antara mereka juga memiliki pengalaman yang tidak jauh berbeda. Bahkan, ada yang jauh lebih mengerikan daripada kisahnya. 

Dari situ, dia punya pikiran untuk menyatukan anak-anak korban keluarga broken home tersebut dalam suatu komunitas. Akhirnya, dengan dibantu rekannya, Abdul Djalil, mahasiswa Fakultas Psikologi UGM, dan Nofendianto Rahmaan yang sefakultas dengannya, Dian mulai menyusun grand design. Dia bahkan sempat berkonsultasi dengan para dosen dan psikolog soal komunitas tersebut. 

Begitu konsep matang, mereka meluncurkan Komunitas Hamur pada Agustus 2015. Mereka mempromosikan komunitas tersebut melalui berbagai platform media sosial. Misalnya Twitter, Facebook, Instagram, dan Path. Kegiatan pertama komunitas itu diberi tajuk Yo Rujakan, Call for Survivor. 

Ternyata responsnya lumayan. Belasan mahasiswa dari berbagai fakultas tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut. Begitu berkumpul, mereka berbagi kisah pahit yang dialami, khususnya yang terkait dengan keluarga. 

”Kalau bercerita sama orang yang punya pengalaman sama, rasanya lebih sreg. Kadang kalau yang nggak paham malah nganggap kita durhaka sama orang tua,” kata Dian.

Membicarakan orang tua tak terhindarkan bagi mereka. Sebab, pemicu utama broken home adalah kegagalan hubungan ibu dan bapak. Tak selalu pemicunya bapak. Adistya Noventi, misalnya, mendapati sendiri perselingkuhan yang dilakukan sang ibu. 

”Mama sering telepon malem-malem sama orang dan mesra. Selain itu, aku juga pernah nemu foto-foto mesra mamaku sama temennya mama yang aku panggil om itu. Wes, rasanya nggak keruan waktu itu pikiranku,” kenang Adis ketika ditemui di tempat yang sama dengan Dian.

Nilai sekolah Adis pun sempat anjlok sewaktu duduk di kelas VI SD dan kelas I SMP. ”Aku masih ingat, waktu itu aku pulang dari Jambore Nasional, dipanggil pengadilan untuk ngurus hak asuh dan aku ikut mamaku,” ujar Adis.

Dia baru mulai memiliki kekuatan untuk menghadapi persoalan keluarga sewaktu duduk di bangku SMA. Interaksi dengan Komunitas Hamur membuat dia semakin kuat. ”Aku jadi lebih betah di sini daripada di rumah. Bisa ketawa-ketawa sama temen-temen,” ujar dia, lalu tersenyum.

Kegiatan pertama Komunitas Hamur pada Agustus 2015 kemudian dilanjutkan dengan beragam aktivitas lain. Mulai public speaking training sampai leadership training. Mereka juga mengunggah seluruh kegiatan tersebut di media sosial. 

Buntutnya, jumlah anggota terus bertambah dan kini menembus 64 orang. Bahkan mulai merambah kampus-kampus lain di Jogja dan sekitarnya sampai Jakarta. ”Sekarang ada yang dari UNS (Universitas Sebelas Maret), UII (Universitas Islam Indonesia), dan UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Ada juga yang dari Binus, UI (Universitas Indonesia), dan UPN (Universitas Pembangunan Nasional),” terang Dian.

Untuk yang tinggal atau berkuliah di luar Jogjakarta, komunikasi dilakukan lewat Line. ”Jadi, mau curhat atau sharing apa pun bisa di situ. Sementara untuk yang di sekitar Jogja, kami bisa rutin ketemu dan menggelar kegiatan,” urai Dian.

Melalui grup percakapan dan ragam kegiatan itu, mereka saling menguatkan. Dari rekan-rekan senasib sepenanggungan itu pula, mereka yang selama ini berada di jalan yang salah seperti dingatkan. Icang contohnya. 

Akibat rumah tangga orang tuanya yang terpaksa dipertahankan semata demi citra sang ibu di mata masyarakat, Icang dan adik-adiknya yang akhirnya menjadi korban. Icang pun akhirnya memilih untuk melampiaskan frustrasi dengan berteman alkohol. 

”Tapi, alhamdulillah, sekarang sudah ketemu sama temen-temen yang baik (di Komunitas Hamur, Red). Hidup saya jadi lebih baik,” kata mahasiswa Sastra Jepang UGM tersebut.

Rekan sekomunitas Icang, Nabilla, pun demikian. Perasaan senasib membuat dia selalu bisa curhat tentang apa saja. ”Semoga makin banyak teman produk broken home yang gabung sama kami. Sehingga mereka nggak perlu terjerumus ke hal-hal yang nggak bener,” ujarnya. (*/c11/ttg)

Berita Terkait