No Gadget, No Happiness?

No Gadget, No Happiness?

  Jumat, 30 November 2018 10:44

Berita Terkait

NOMOPHOBIA adalah rasa takut berlebih ketika nggak dapat berhubungan dengan ponsel. Bisa dikatakan, nomophobia adalah perilaku addict seseorang terhadap gadget-nya. Perilaku addict adalah kondisi dimana seseorang nggak bisa mengendalikan diri karena kontrol dirinya atas sesuatu telah hilang dan berkurang. 

Semua tindakan yang dilakukan sudah terstimulasi langsung dari otak. Misalnya, ketika paket internet habis, ia akan langsung mencari tempat dengan fasilitas wifi, atau membeli paket internet. Tindakan langsung ini disebabkan karena ada rasa nyaman yang didapatkannya dari penggunaan gadget.

Ada keinginan dirinya untuk terus menerus mengulangi hal tersebut, seperti halnya bermain gadget. Baik main game atau berselancar ria di media sosial. Hal ini lumrah terjadi, karena ketika seseorang sudah mendapatkan kenyamanan terhadap sesuatu, bukan hal yang mustahil bagi dirinya untuk nggak mengulangi hal tersebut. 

Psikolog Agus Handini, S.Psi, M.Psi menuturkan seseorang nggak bisa mengendalikan diri dikarenakan gadget telah memberikan kenyamanan secara fisik dan psikologis pada dirinya. Karena rasa nyaman inilah, ia melakukan secara berulang kali. Seseorang perlu menyikapi dengan bijak jika sudah mengarah pada nomophobia.

Perilaku addict ini muncul dikarenakan kurang bisa mengendalikan diri dan nggak memiliki tujuan yang jelas. Serta, remaja tersebut diberikan sesuatu oleh orang tua dan lingkungan secara instan. Sehingga, nggak ada kendali diri untuk menahan apa yang ingin dikatakan, diucapkan, dilakukan, dan dipikirkan. 

“Anak ingin selalu semua serba instan, tanpa belajar untuk berhenti sebentar dan baru melanjutkan,” ujarnya. 

Dosen psikologi IAIN Pontianak ini menuturkan, addict yang dialami disebabkan karena adanya perubahan fase transisi dari anak-anak menuju remaja. Baginya yang sulit berinteraksi, gadget membuatnya mendapatkan seorang teman. Ia merasa teman yang ditemuinya ini sejalan dengan hobi dan pemikirannya. 

Ia lebih merasa bahagia karena ada permainan yang bisa dilakukan bersama dengan hobi dan pola pikir yang sama meski terpisahkan oleh jarak. Meski terlihat berdampak buruk, tapi ada sisi lain yang bisa diambil, dimana remaja bisa bersosialisasi meski jauh dan kurang efektif.

Jika merasa khawatir akan perubahan yang dialami anak, orang tua bisa mencoba mencari cara yang tepat untuk mengendalikan nomophobia. Karena kesalahan yang terjadi bukan disebabkan pada apanya, tapi salah pada bagaimananya? Cara menyikapi yang masih keliru dan tak dapat diberikan kendali diri.

“Jika sudah terlalu addict, harus ada pembenahan diri pada psikologisnya. Biasanya akan diberi terapi semacam pencucian otak (format ulang) untuk mengubah kebiasaan dan cara berpikirnya. Orang tua juga perlu membiasakan anak untuk keluar dari zona aman dan nyaman,” sarannya. (ghe)

Berita Terkait