Nepotisme dalam Dunia Kerja

Nepotisme dalam Dunia Kerja

  Senin, 20 May 2019 09:28

Berita Terkait

Istilah koneksi atau network bukan hal asing dalam dunia kerja. Pekerjaan atau jabatan mudah diperoleh dengan memiliki teman atau keluarga yang mempunyai kedudukan tinggi di perusahaan. Apakah hal ini nepotisme dan pantas dilakukan?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Psikolog Ghulbuddin Himamy, M.Psi, mengatakan lumrah jika bekerja dengan bantuan koneksi. Namun, harus bisa membedakan apa yang disebut dengan koneksi (network) dan nepotisme.

Bekerja dengan network bisa dilihat ketika seseorang mengetahui informasi baik dari kerabat atau teman bahwa ada perusahaan yang membutuhkan tenaga sesuai dengan profesi kerja seseorang tersebut.

"Akan tetapi, proses perekrutannya tergolong dalam skala kecil," ujarnya.

Jika pekerjaan tersebut dinilai sesuai, yang bersangkutan akan menitipkan lamaran (curiculum vitae). Ketika berkas diterima dan dinyatakan lolos, dia akan menjalani serangkaian tes sesuai bidang keahliannya. Apabila memenuhi kualifikasi, akan diterima untuk bekerja di perusahaan atau instansi terkait. Meski melalui jalur koneksi, tetap merasakan proses bersaing dengan pelamar lainnya.

Menurut pria yang akrab disapa Imam ini, melamar pekerjaan di tempat koneksi belum tentu dikatakan sebagai nepotisme. 

Jika melewati proses seleksi, wawancara, psikotest dan lain sebagainya, bahkan bersaing dengan pelamar lain, maka tidak dapat disebut nepotisme.

Dikatakan nepotisme jika tanpa melalui tahapan proses seleksi. Bahkan, belum tentu dia  memenuhi kualifikasi di bidang pekerjaan tersebut.

Dosen IAIN Pontianak ini menyatakan dari sudut pandang psikologis, orang yang bekerja dengan nepotisme akan merasakan munculnya tekanan dari dalam dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Misalnya, dia akan menjadi rahasia umum di perusahaan itu. Rekan-rekan kerja bisa tak menyukai dirinya.

"Bahkan seringkali juga membicarakan yang bersangkutan diibelakang," tutur Imam.

Ditinjau dari segi kemampuan, orang tersebut tidak memiliki keahlian di bidang pekerjaannya sehingga menganggu produktivitas dan kinerja yang dimiliki. Nantinya dapat memicu munculnya stress dalam diri orang tersebut. 

Dosen Politeknik Negeri ini mengungkapkan ada keuntungan dan kerugian dari perilaku nepotisme. Keuntungannya, perusahaan bisa melakukan penghematan sistem perekrutan yang memakan banyak biaya dan proses penerimaan karyawan menjadi cepat. 

Namun, meskipun dapat menerima karyawan dengan cepat, belum tentu karyawan yang diterima  berkompeten. Dia bisa saja tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik. 

Melalui proses nepotisme, perusahaan juga menutup peluang untuk memperoleh bibit bibit tenaga kerja yang handal dan kompeten di bidangnya. Imam menambahkan bisa saja karyawan yang direkrut dengan jalur nepotisme berkualitas asalkan memenuhi persyaratan dari perusahaan tersebut. 

"Hanya saja dengan proses nepotisme perusahaan menyia-nyiakan peluang untuk mendapatkan tenaga kerja yang lebih baik," tutur Imam. 

Bekerja dengan praktik bisa menyebabkan sikap profesional antartenaga kerja di perusahaan  menjadi hilang. Misalnya, keponakan bos ditempatkan sebagai manager di perusahaan itu.

Namun, dia tidak memiliki kompetensi yang memadai. Seharusnya, karyawan dengan kedudukan lebih tinggi yang dapat mengingatkan keponakan bos tersebut, tapi tidak bisa dilakukan karena rasa sungkan.

"Nepotisme adalah suatu proses yang tidak melibatkan proses seleksi. Padahal, proses seleksi ini penting dalam dunia kerja. Melalui proses seleksi inilah seseorang dapat dinilai sesuai tidaknya untuk bergabung maupun menduduki jabatan tersebut," pungkasnya.**

Berita Terkait