Nekad Ledakkan Diri Bareng Anak

Nekad Ledakkan Diri Bareng Anak

  Kamis, 14 March 2019 09:06
BOM BUNUH DIRI: Polisi menghalau sejumlah warga yang hendak melihat ledakan bom di sebuah rumah terduga teroris di Sibolga, Sumatra Utara, Rabu (13/3) dinihari. ROMMY PA SARIBU / AFP

Berita Terkait

Istri Terduga Teroris Tak Gubris Rayuan Suami 

JAKARTA – Istri terduga teroris Abu Hamzah alias Husain yang berinisial S dan seorang anaknya yang masih berusia 2 tahun akhirnya tewas setelah meledakkan diri dengan bom pada Rabu dini hari (13/3) di Sibolga, Sumatera Utara, kemarin (13/3). Polisi sudah berjam-jam merayu S untuk menyerah. Namun, imbauan tersebut sama sekali tidak digubris. Polisi menduga S terpapar paham radikalisme dengan sangat kuat.

Saat polisi menggerebek rumah Abu Hamzah pada Selasa (12/3) pukul 14.23, sempat ada bom yang meledak. Ledakan itu mengenai seorang polisi. Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos (Jaringan Pontianak Post), ketika itu polisi membuka pintu rumah Abu Hamzah yang merupakan anggota jaringan terduga teroris RIN alias Putra Syuhada (PS) yang lebih dulu ditangkap di Lampung. Rupanya, ada bom yang meledak. 

Dua orang terluka dalam peristiwa itu. Yaitu, seorang warga yang berdekatan dengan rumah Abu Hamzah dan seorang polisi. Mereka diduga terkena serpihan bom. Kedua korban dilarikan ke RS Metta Medika Sibolga dan selanjutnya dirujuk ke RS FL Tobing.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, setelah ledakan pertama tersebut, polisi bernegosiasi habis-habisan. Sebab, hanya Abu Hamzah yang bisa diamankan. Istri dan anaknya yang masih balita tetap berada di dalam rumah. Polisi khawatir terjadi ledakan susulan. Sebab, disebutkan, di rumah itu banyak bom. Bahkan, agar tidak jatuh korban lagi, polisi melakukan sterilisasi hingga 100 meter dari tempat kejadian perkara (TKP).

Kapolres Sibolga AKBP Edwin Hariandja mengomando sterilisasi itu. ’’Semua menjauh, semua menjauh. Masih ada tersangka dan diduga ada bom aktif yang terdeteksi. Jangan main-main. Ini serius!’’ tegasnya.

Komunikasi dengan istri Abu Hamzah sampai dilakukan dengan menggunakan pengeras suara masjid yang tidak jauh dari TKP. ’’Kami membujuk istri terduga teroris,’’ ujarnya. 

Negosiasi yang dipimpin langsung oleh Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto itu berlangsung lebih dari 10 jam. Awalnya, didatangkan takmir masjid untuk membujuk istri Abu Hamzah. Salah satunya Ustad Zainun Sinaga. Dia terus berupaya meluluhkan hati istri Abu Hamzah. 

’’Menyerahlah. Ingat anakmu. Jangan kau korbankan anakmu. Bicarakan baik-baik kalau ada masalah. Tidak ada agama yang mengajarkan hal yang begitu. Menyerahlah,’’ kata Zainun dengan pengeras suara. Lagi-lagi bujukan itu tidak mempan.

Polisi akhirnya meminta Abu Hamzah yang selama ini bekerja sebagai tukang listrik dan servis handphone merayu istrinya. Apalagi diketahui, S membawa empat bom aktif, sedangkan di sampingnya ada anak yang masih berusia 2 tahun. Abu Hamzah tentu tidak mau anaknya turut menjadi korban. ’’Anak ini yang sangat dikhawatirkan,’’ kata Dedi. 

Melalui pengeras suara masjid, Abu Hamzah juga terus meminta istrinya melunak. Setidaknya, menyerahkan anaknya agar tidak menjadi korban. ’’Namun, tidak ada respons sama sekali,’’ ujarnya.

Dedi menuturkan, sejak awal Abu Hamzah ragu istrinya akan menuruti ajakannya. Sebab, dari penuturan Abu Hamzah, pemahaman istrinya itu lebih keras daripada dirinya. Istrinya sangat percaya dengan ideologi ISIS.

Negosiasi akhirnya mentok. Saat dini hari pukul 01.20, terdengar ledakan dari rumah tersebut. Petugas belum bisa mendekat karena khawatir masih ada ledakan susulan. ’’Ternyata benar, beberapa menit kemudian ledakan kedua terjadi,’’ ungkap Dedi.

Dia menuturkan, petugas baru bisa mendekat dan melakukan evakuasi sekitar pukul 05.00. Di dalam rumah ditemukan dua jenazah, seorang perempuan berusia 30 tahunan dan anak kecil berusia sekitar 2 tahun. ’’Kondisi jasadnya hancur,’’ katanya.

Perlu diketahui, ada perbedaan jumlah anggota keluarga yang masih dipastikan. Menurut Dedi, dari pengakuan Abu Hamzah, anaknya tiga orang. Namun, tetangga menyebutkan, di dalam rumah itu ada dua anak. ’’Tapi, dari olah TKP, hanya satu anak yang ditemukan. Ini masih dipastikan,’’ tuturnya.

Menurut dia, dampak ledakan bom cukup besar. Puluhan rumah di sekitar lokasi rusak berat. Setidaknya 20 kepala keluarga terdampak. ’’Bukan karena high explosive, melainkan bomnya banyak,’’ jelasnya. 

Hingga pukul 15.00 kemarin, sesuai dengan laporan petugas di lapangan diketahui, sterilisasi bom belum selesai. ’’Masih ada kemungkinan bom lain,’’ paparnya.

Dia menjelaskan, saat ini kasus tersebut masih dikembangkan. Bom yang jumlahnya puluhan itu tidak mungkin dirakit sendiri oleh Abu Hamzah. ’’Walau Abu Hamzah memiliki kemampuan itu, tidak bisa sendiri,’’ terangnya. 

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengapresiasi kerja Densus 88 Polri yang kembali membongkar jaringan teroris di Indonesia. Dia menyebutkan, upaya seperti itu sangat diperlukan guna mewujudkan keamanan dan stabilitas negara. ’’Karena sangat berbahaya bagi negara ini, keamanan negara kita, kalau ada teroris-teroris yang menyimpan bom seperti itu,’’ tegasnya di JIExpo, Jakarta, kemarin (13/3).

Jokowi berharap Densus 88 bisa terus mengembangkan pengusutan kasus itu. Dengan demikian, sel-sel yang masih tersisa bisa diungkap dan ditangkap. ’’Sudah disampaikan harus ada sebuah tindakan yang tegas terus-menerus tanpa henti dan kita harapkan segera semua bisa terungkap,’’ imbuhnya.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menambahkan, terorisme di Sibolga tidak berkaitan dengan pemilu. Dia menegaskan, aksi terorisme bisa terjadi kapan saja. ’’Terorisme itu kan bergerak tatkala kita lengah. Terorisme itu bergerak tatkala aparat keamaan kita tidak memonitor mereka,’’ ujarnya.

Karena itu, dia meminta masyarakat tenang. Wiranto menegaskan, seluruh elemen sudah melakukan pengamatan dan menyusun indeks kerawanan sejak jauh hari. (idr/far/c5/git)

Berita Terkait