Nasib Perempuan Masa Kini

Nasib Perempuan Masa Kini

  Sabtu, 21 April 2018 08:01

Berita Terkait

Perempuan rentan berada dalam pusaran kriminalitas. Beberapa alasan perempuan mudah menjadi sasaran tindak kejahatan. Perempuan dianggap lemah daripada laki-laki. Tak hanya jadi korban, banyak pula yang terlibat sebagai pelaku. Dari mencuri, pengedar narkotika, hingga korupsi.

MARSITA, PONTIANAK

---------------------

PEREDARAN narkotika makin meluas dan bertambah setiap tahunnya. Bahkan melibatkan perempuan sebagai jaringan. Hal tersebut setidaknya tergambar dari jumlah narapidana dan tahanan di Indonesia. Lebih dari 90 persen narapidana Lembaga Pemasyarakat Perempuan Kelas II A Pontianak didominasi kasus narkotika. Sementara sisanya terjerat beragam kasus seperti penipuan, pencurian  hingga tindak pidana korupsi.

Tidak sedikit dari napi adalah ibu rumah tangga dan terpaksa meninggalkan anak yang masih belia. Bertahun-tahun harus mendekam di jeruji besi. Sesekali rindu terobati, ketika sanak keluarga datang mengunjungi. Gambaran itu pula yang terlihat saat jam kunjungan dibuka, dari jam sembilan pagi hingga jam 12 siang. Puluhan napi bercengkrama dengan sanak saudara. Sesekali melepas canda dan tawa. Makan siang bersama, menikmati bekal yang dibawa.

Kepala Lapas Perempuan Kelas II A Pontianak, Jaleha Khairan Noor mengatakan narkotika menjadi ancaman bagi bangsa ini. Kadang, sesama pelaku memiliki hubungan kekerabatan. Seperti adik-kakak, anak-ibu, keponakan, paman, bahkan ada juga yang suami istri. “Ada yang istrinya di Lapas Perempuan, suaminya di Lapas Kelas II A Pontianak,” kata dia.

Jaleha bercerita di tahun 2017. Saat itu pihaknya membantu Lapas Kelas II A Pontianak melakukan pemeriksaan terhadap pengunjung perempuan yang membawa balita. Saat digeledah, ditemukan dua  ons narkotika yang disimpan dalam popok anaknya. “Sekarang wanita yang kami razia itu ada di lapas,” tuturnya.

Ini juga yang menjadi tantangan. Disaat pihaknya gencar melakukan razia kepada penguni lapas, disisi lain  pengunjung datang menyelundupkan narkotika dengan berbagai cara. Selain narkotika, pihaknya juga kerap menemukan HP yang disembunyikan. “Hari ini kita razia handphone satu, besok bisa dapat 10. Besok bertambah lagi. Itu menjadi tantangan kami,” ujarnya.

Beragam faktor di balik tindakan kriminal yang dilakukan. Dari kebutuhan sampai gaya hidup.“Kalau narkoba biasanya juga karena pengaruh lingkungan,” tutur dia.

Menyesal saat di Lapas, belum tentu taubat saat keluar. Kebutuhan ekonomi dan tidak ada kerjaan lain membuat sejumlah napi menjadi residivis. “Kepepet, dia menjual lagi, atau mencuri. Kembali lagi. Sebetulnya dia tidak ingin kembali, tetapi diluar begitu,” katanya.

Uniknya, kata dia residivis ini bersikap baik selama di lapas. Selain mereka sudah hapal dengan keadaan lapas, mereka juga tahu hak dan kewajibannya. “Residivis itu biasanya di lapas malah baik. Dia sudah hapal, ini boleh, ini haknya, ini kewajibannya,” katanya.

Perlakuan terhadap napi ini kata dia seperti memperlakukan anak sendiri. Dirangkul, dan dibina untuk mengembalikan keberfungsiannya di masyarakat. Ketika bebas, tidak lagi menjadi pelaku kejahatan. “Kami kan ada program pembinaan, pemberdayaan juga ada.Nanti ini kami akan mengikuti pameran hasil karya narapidana,” kata dia.

Belum lama ini, Kepala Badan Narkotika Nasional Pontianak, AKBP Agus Sudiman mengatakan perempuan rentan menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Sepanjang tahun 2017, kata dia sebanyak 25 orang penggunan yang melapor dan dilakukan perawatan. “Itu yang datang melapor, bagaimana yang tidak melapor? Mungkin jumlahnya bisa lebih banyak dari itu,” ucap dia.

Dia pun berharap, kerjasama semua pihak untuk membrantas peredaran narkotika. Ketika ada keluarga yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, segera lapor. “Sejauh ini ada pengguna yang rawat jalan, ada juga yang rawat inap. Tapi ada juga yang tidak mau di rehabilitasi disini,” pungkasnya. 

Tak hanya narkotika, perempuan juga rentan menjadi korban kasus kejahatan lainnya. Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan Pontianak mencatat, tahun 2017 sudah menangani sebanyak 41 kasus hukum. Kasus hukum yang ditangani masih didominasi oleh tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Lebih banyak kasus perceraian. Karena dalam perceraian itu ada kekerasan fisik, psikis, ekonomi, seksual. Itu mereka korban dari KDRT,” kata Ketua LBH PIK Pontianak, Tuti Suprihatin.

Tuti mengatakan saat ini semakin banyak korban yang berani melapor. Undang-undang KDRT juga telah memberikan larangan bagi setiap orang untuk melakukan kekerasan baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual maupun penelantaran rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya. “Banyak informasi yang didapat dan bantuan lembaga hukum juga semakin banyak, sehingga perempuan mulai berani melapor,” kata dia.

Saat ini program pemberdayaan perempuan, pengarusutamaan gender giat dilaksanakan. Darmanelly, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  Kota Pontianak mengatakan program itu dilakukan karena banyak perempuan menjadi korban kekerasan, termarjinalkan, dan mendapatkan stigma.

“Kenapa seperti itu? Dulu perempuan tidak boleh sekolah tinggi, toh urusannya kasur, dapur, sumur, karena itulah perempuan itu dibawah posisinya. Lelaki jadi superior. Dulu-dulu seperti itu, itulah kita tidak  inginkan, perempuan lebih nerimo diapa-apain, mereka menjadi takut dengan suami, takut membangkang suami meskipun mendapatkan tindak kekerasan,” kata dia.

Menurut Darmanelly, perlu pencegahan dengan cara meningkatkan  kualitas hidup perempuan, baik pendidikannya, kesehatan, maupun ekonomi. “Perempuan juga boleh mencari nafkah, menambah perekonomian keluarga. Kadang-kadang mengapa  terjadi kekerasan? karena masalah ekonomi. Misalnya, suami penghasilan tidak memadai sementara kebutuhan tinggi. Istri menuntut  ini itu, terjadilah cekcok hingga kekerasan dalam rumah tangga,” paparnya. (mrd)

Berita Terkait