Nasib Jalan Badau – Nanga Kantuk, Tak Kunjung Ada Perbaikan

Nasib Jalan Badau – Nanga Kantuk, Tak Kunjung Ada Perbaikan

  Senin, 14 May 2018 10:00
RUSAK BERAT: Inilah kondisi ruas jalan dan jembatan pemerintah dari kecamatan Badau menuju Nanga Kantuk kecamatan Empanang, Minggu (13/5). Nyaris 80 persen jalan maupun jembatan kawasan ini rusak parah. MUSTA'AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU--Masyarakat daerah perbatasan kecamatan Empanang mempertanyakan kapan realisasi pembangunan ruas jalan dari kecamatan Badau menuju Nanga Kantuk hingga kecamatan Puring Kencana dilakukan oleh pemerintah. Pasalnya sampai saat ini akses masyarakat masih terkendala.

“Kita bingung apakah ruas jalan Badau – Nanga Kantuk statusnya masuk jalan kabupaten, provinsi atau pusat?” tanya Iskandar Abe, warga perbatasan kecamatan Empanang, Minggu (13/5)

Dikatakan Iskandar, sebelum ada jalan perusahaan perkebunan sawit di daerah mereka, jalan tersebut merupakan akses utama penghubung tiga kecamatan di perbatasan. Untuk itu dia mengganggap ruas jalan tersebut seakan di abaikan.

“Saya bingung dan sangat bingung sekali, karena sebuah jalan yang sudah lama dipergunakan dan satunya akses penghubung masyarakat kecamatan Badau, Empanang dan Puring Kencana dulunya, sebelum ada jalan sawit,”kata dia.

Menurut  Iskandar, sudah hampir dua puluh tahun dihitung mundur dari sekarang, ruas jalan Badau – Nanga Kantuk itu tidak pernah di perhatikan keberadaanya dengan sentuhan perbaikan, sementara tutur dia lagi, kondisi jalan maupun jembatannya hampir 80 persen rusak parah. 

“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan berbahaya sekali bagi pengguna jalan tersebut,” tuturnya. Sebagai masyarakat, Iskandar berharap kepada pemerintah yang berwenang agar bisa memperhatikan jalan itu, karna kata dia jalan tersebut sampai sekarang masih menjadi akses masyarakat.

“Karena kalau melewati jalan sawit sangat jauh, berdebu dan tingkat kerawanan kecelakaan sangat tinggi. Taulah kita jalan perusahaan, kendaraan mereka sangat ramai,baik itu kendaraan angkutan buah sawit, pengangkut CPO, bahkan alat–alat berat mereka juga gunakan jalan itu,” papar pria asal Boyan Tanjung ini.

Untuk saat ini kata Iskandar, masyarakat pelintas jalan yang statusnya menumpang jalan perusahaan harus berhati hati, bahkan kata dia tidak jarang mereka harus berkorban perasaan karena ulah pengendara – pengendara alat dari prusahaan. “Resiko itu harus di terima dengan lapang dada, karna kita statusnya numpang akses jalan milik perusahaan,”ucap dia.(aan)

Berita Terkait