Napi Atur Pasar Sabu

Napi Atur Pasar Sabu

  Selasa, 19 September 2017 10:00

Berita Terkait

Polisi Pastikan Obat Jenis PCC Belum Beredar

PONTIANAK - Badan Narkotika Nasional Kalbar kembali mengungkap peredaran narkotika. Kali ini dua kilogram sabu disita dan lima  pelaku berhasil ditangkap. Tiga pelaku, yakni Hp, Am dan Rn ditangkap di depan masjid Nurul Huda, Jalan Pararel, Kelurahan Tanjung Hilir, Pontianak Timur. Hasil pemeriksaan terhadap ketiga pelaku, anggota BNN mendapatkan data tambahan, jika barang haram tersebut adalah milik dua orang narapidana di Lapas Kelas II A Pontianak, yakni Bn dan Dk.

Kepala BNN Kalbar, Brigjen Nasrullah mengatakan, pengungkapan sindikat narkotika yang melibatkan dua narapidana itu berlangsung pada Kamis, 14 September 2017.

Dua orang pengendara sepeda motor dengan nomor kendaraan KB 5686 NB, dibuntuti anggota. Tiba di tempat depan masjid Nurul Huda, Jalan Pararel, keduanya membuang barang mencurigakan ke dalam tong sampah.

Tidak lama kemudian, lanjut dia, datang pelaku lainnya, yakni Rn yang mengambil barang haram di dalam tong sampah. Oleh anggota dilakukan penangkapan dan ketiganya berhasil diamankan. 

"Setelah ketiganya berada di tempat transaksi, anggota langsung melakukan penggerebekan. Hasil penggeledahan ditemukan dua paket sabu masing-masing seberat satu kilogram. Paket dibungkus plastik lalu dilakban warna cokelat," kata Nasrullah di kantor BNN Kalbar, Senin (18/9).

Nasrullah menjelaskan, modus pelaku sudah berkomunikasi bahwa sabu akan dibuang ke dalam tong sampah. "Sudah dibuntuti anggota. Hp dan Am ini bawa sabu dari Malaysia. Lalu dibawa ke Pontianak dan akan diambil kurir lainnya," ucapnya.

Dari hasil pengembangan terhadap Hp, dia menambahkan, sabu tersebut adalah milik warga binaan di Lapas Kelas II A Pontianak. "Berdasarkan pengakuan kedua pelaku, kami berkoordinasi dengan Kemenkuham untuk melakukan penangkapan terhadap warga binaannya," tuturnya.

Nasrullah menyatakan, kedua warga binaan itu, yakni Bn dan Dk akhirnya ditangkap dengan barang bukti satu unit telepon genggam yang berisi komunikasinya dan sabu yang disita dari tangan kurir. "Kedua warga binaan ini yang mengendalikan sabu, tiga orang lainnnya hanya kurir yang ditugaskan mengambil barang," sambungnya.

Kepala Kemenkuham Kalbar, Rochmat Iman Santoso membenarkan jika ada dua warga binaan Lapas ditangkap pihak BNN. Dia menuturkan, bahwa kedua narapidana yang ditangkap BNN adalah narapidana kasus narkotika yang berasal dari Tanggerang. "Kami akan memperketat pengawasan aktivitas warga binaan," janjinya

Menurut dia, terkait adanya temuan alat komunikasi, pihaknya sudah berupaya untuk melakukan razia. Namun, sering tidak ditemukan. "Setiap kali kami razia, alat komunikasi yang ditemukan sudah rusak atau sudah pecah. Warga binaan ini cukup lihai mengelabui petugas," kata Rochmat.

Sementara itu, polisi memastikan obat bertuliskan PCC (paracetamol caffein carisoprodol), yang masuk golongan G tersebut tidak beredar di Pontianak. Meski demikian, polisi telah melakukan penyelidikan  dan melakukan sosialisasi untuk mengantisipasi penggunaannya oleh masyarakat. 

Kasat Narkoba Polresta Pontianak, AKP Muslimin mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan adanya peredaran obat PCC tersebut. “Kami sudah berkoordinasi dengan BPPOM, dan memang sampai saat ini belum ditemukan ada apotik atau toko obat yang menjualnya,” kata Muslimin, Senin (18/9). 

Muslimin menyatakan, upaya antisipasi penyalahgunaan obat PCC tersebut sudah dilaksanakan, yakni dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya penggunaan obat itu. 

“Di masyarakat, kami sampaikan juga untuk bekerjasama mencegah peredaran PCC. Jika melihat dan mengetahui ada orang yang menjual, masyarakat diminta untuk segera melapor ke pihak berwajib,” ucapnya. 

Selain melakukan sosialisasi dan penyuluhan, lanjut Muslimin, pihaknya pun telah melakukan penyelidikan di tempat-tempat yang dianggap rawan peredaran obat terlarang, diantaranya di sekolah dan di tempat pelajar berkumpul dan tempat hiburan malam. 

“Dari koordinasi dengan BPPOM, obat PCC ini sejam 2013 sudah dilarang beredar,” tuturnya. 

Muslimin pun mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap setiap  anggota keluarga khususnya anak-anak. Mengingat, pelaku mengincar obat PCC tersebut dikonsumsi oleh anak-anak. 

“Seperti yang diketahui bersama, obat ini sangat berbahaya. Dampak bagi yang menggunakannya bisa gangguan kejiwaan. Seperti yang dialami warga Kendari,” terangnya. (adg) 

Berita Terkait