Nani Alami KDRT

Nani Alami KDRT

  Rabu, 25 May 2016 10:27
KORBAN: Direktur LBH PeKa Kalbar Rosita Ningsih saat melihat kondisi korban kekerasan rumah tangga Nani Lestari di RSUD Abdul Azis Kota Singkawang. AIRIN FITRIASNYAH//PONTIANAK POST

Berita Terkait

SINGKAWANG--Kasus kekerasan rumah tangga belum lama ini menjadi perhatian khusus Lembaga Bantuan Hukum Perempuan dan Keluarga Kalimantan Barat.

Kali ini kekerasan rumah tangga dialami korban Nani Lestari (28) yang dilakukan suami keduanya Iswandi saat berada di rumah mertuanya di Kabupaten Sambas.

"Kita akan mengadukaan kekerasan rumah tangga ini kepada pihak kepolisian di Mapolres Sambas. Apabila kondisi kesehatan korban sudah mulai membaik," ucap Direktur LBH PeKa, Rosita Ningsih, Selasa (24/5) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Azis Kota Singkawang.

Dia mengatakan korban yang mengalami kekerasan rumah tangga ini masih dalam pemeriksaan dokter. Diduga korban mengalami penyakit dalam yakni paru-paru yang masih dilakukan pemeriksaan tim medis kesehatan.

Rosita Ningsih yang akrab disapa Neneng menuturkan kesehatan korban selama berada di rumah mertua mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan. Kesehatan korban tidak dihiraukan setelah selesai melahirkan anak kedua yang saat ini sudah memasuki usia 11 bulan.

"Selama beberapa hari di rumah sakit Singkawang, korban tidak dikunjungi oleh suami dan mertuanya. Sedangkan korban saat ini terpisah dari anaknya yang masih balita. Bahkan sebelum dirujuk ke rumah sakit, korban sudah di usir dari tempat tinggalnya di Sambas," terang Rosita sambil mendampingi ibu kandung orangtua korban.

Ibu kandung orangtua korban Marni (67) menambahkan perlakukan menantunya ini tidak bisa diterimanya. Dikarenakan anak perempuan yang bernama Nani Lestari (28) diperlakukan tidak sewajarnya di rumah mertuanya yang berada di Sambas. Sehingga anaknya terlantar tanpa mendapatkan perhatian dari suaminya tersebut.

"Saya tidak tahu kalau anak saya sakit. Selama ini saya tinggal di Mandor. Tiab-tiba mendapat kabar bahwa ia sakit dan tidak mendapatkan pengobatan maksimal. Selanjutnya saya berkunjung ke Sambas dan melihat kondisi anak saya mengalami sakit cukup parah," ucapnya saat berada di RSUD Abdul Azis Kota Singkawang.

Dia mengakui setelah anaknya melahirkan tiga bulan suaminya yang bernama Iswandi membawa cucunya dan anak perempuanya pulang ke Sambas. Selama delapan bulan terpisah hingga sekarang dirinya baru bertemu kembali dengan cucu dan anak perempuannya tersebut.

Ibu korban menyatakan pengakuan mertuanya di hadapan dirinya sudah memberikan pelayanan terbaik. Tetapi kenyataan dari hasil laporan anak perempuanya tersebut tidak diperhatikan dan ditelantarkan.

"Anak saya mengaku kalau suaminya tidak pernah memukul. Tapi kalau dia sedang mabuk minuman suaminya sering marah-marah dan memukul dinding rumah," ungkap orangtua korban kekerasan dalam rumah tangga tersebut.

Marni menceritakan selama ini anaknya yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga sudah dua kali menikah. Suami pertama bernama Awis memiliki satu orang anak. Namun hubungan suami istri diantara mereka harus berakhir dengan perceraian karena tidak sepaham dan sejalan dalam membina rumah tangga.

Dia melanjutkan setelah bercerai dengan suami pertama anak perempuannya tersebut menikah lagi dengan suami kedua bernama Iswandi. Tetapi hubungan mereka dinilainya tidak harmonis dan membuat pihak keluarganya kecewa atas perlakukan menantu keduanya tersebut yang sudah memperlakukan anaknya tidak manusiawi.

"Saya minta cucu saya bisa bersama ibunya. Menantu saya sudah tidak memperhatikan dan mempedulikan anak saya. Ini sudah sangat keterlaluan karena sikap suaminya sudah menelantarkan istri dan anaknya," imbuh orangtua korban yang melihat kesehatan anaknya saat mendapat perawatan intensif dari rumah sakit. (irn)

Berita Terkait