Nangguk Ikan di Danau Sekameh

Nangguk Ikan di Danau Sekameh

  Senin, 6 Agustus 2018 10:00
NANGGUK IKAN. Beginilah suasana nanggung ikan atau menangkap ikan di danau dengan cara tradisional di Danau Sekameh, yang dihadiri Bupati Rupinus dan Tim Peneliti BRPPUPP Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. FOTO DINA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Kearifan Lokal Saat Kemarau 

Menangkap ikan atau nangguk ikan dalam bahasa daerah setempat merupakan salah satu kearifan lokal tahunan yang terus dijaga dan dilestarikan di Kabupaten Sekadau. Menangkap ikan secara tradisional ini hanya dilakukan pada musim kemarau.

KEMARAU tiba. Ada budaya yang cukup unik dan masih bertahan hingga sekarang di Kabupaten Sekadau yakni menangkap ikan di sungai dengan alat tradisional (nangguk ikan). Hampir semua daerah tahu istilah ini namun tidak banyak yang melakukannya apalagi secara bersama-sama mengingat kondisi sungai yang sudah banyak tercemar dan tak berikan.

Pada Sabtu (4/8) kemarin di Danau Sekameh, Dusun Jabai, Desa Rawak Hilir, Kecamatan Sekadau Hulu dilakukan acara nangguk ikan bersama oleh masyarakat setempat dan dihadiri oleh Bupati Sekadau, Rupinus.

Terlihat masyarakat sangat antusias menyambut acara tersebut apalagi dihadiri orang nomor satu di Sekadau bersama Tim Peneliti Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluh Perikanan (BRPPUPP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Rupinus bahkan memberikan apresiasi yang tinggi bagi masyarakat dan tim peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Pelaksanaan kegiatan nangguk ikan bersama itu juga dibantu penyuluh perikanan PNS dan PPB Kabupaten Sekadau.

 “Nangguk ikan bersama ini merupakan cara menangkap ikan secara tradisional dengan kearifan lokal masyarakat,” ujarnya.

Menangkap ikan dengan cara tradisional itu sebagai wujud terus menjaga kelangsungan perkembangbiakan ikan karena menangkap ikan dengan cara tuba, bom atau menggunakan bahan kimia dapat mengancam kelangsungan hidup ikan.

 “Kalau dituba ikan habis. Nah dengan cara menangguk ikan bersama ini adalah kearifan lokal. Hanya ikan yang besar diambil, yang kecil dilepas. Jadi tidak dibabat habis,” ungkapnya.

Dia berpesan, Danau Sekameh bisa terus di rawat sehingga kedepan budi daya ikan dapat dilakukan di danau tersebut. Bukan tidak mungkin, pada musim kemarau yang akan datang kegiatan serupa bisa kembali dilakukan.

 “Ini tradisi yang bagus. Yang jelas, ini harus dipelihara. Ini menarik sekali untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata lokal di daerah setempat,” katanya.

Peneliti Muda BRPPUPP Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Taufiq Hidayah mengatakan pihaknya sangat bangga dan terharu terlebih kegiatan nangguk bersama dihadiri langsung oleh seorang bupati.

Taufiq berharap, dengan penelitian yang disampaikan nantinya pengelolaan perikanan khususnya di Kabupaten Sekadau lebih baik lagi.

 “Kami melaksanakan tugas penelitian di Sungai Kapuas dan sekitarnya. Sekameh termasuk tempat yang kami teliti,” katanya.

Sementara itu, Camat Sekadau Hulu, Yangsun menyampaikan kegiatan tersebut secara rutin dilaksanakan sebagai wujud kebersamaan masyarakat. Kegiatan menagguk bersama itu sudah tidak asing lagi, khususnya di Kecamatan Sekadau Hulu.

 “Selain di (Danau) Sekameh ada lokasi lain, seperti Danau Ulu Kolik, Sungai Pulau, Batang Perongkan. Nangguk bersama ini merupakan bentuk kebersamaan masyarakat kami,” tegasnya.

Abdul Azis selaku Kepala Desa Rawak Hilir menilai masyarakat sangat antusias ikut nangguk ikan bersama. Di Rawak Hilir nangguk ikan bersama dilakukan rutin setiap tahunnya. Bahkan, di wilayah tersebut terdapat dua danau yang biasa dijadikan sebagai tempat nangguk ikan bersama.

 “Luar biasa antusiasme masyarakat. Mereka menangkap ikan tidak boleh menggunakan jala. Biasanya dilakukan di Danau Sekameh dan Danau Raka,” ujarnya. (dina & sugeng)

Berita Terkait