Nakhoda Gemetar Melintasi Sungai Kapuas

Nakhoda Gemetar Melintasi Sungai Kapuas

  Rabu, 20 July 2016 09:30
AKTIVITAS PETI: Aktivitas pertambangan emas ilegal di Sungai Kapuas kembali marak. Momen ini diabadikan oleh seorang warga yang melintas di Sungai Kapuas, di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu. ANAI FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Aktivitas pertambangan emas liar di Sungai Kapuas kembali marak, khususnya di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu. Hal ini tentunya menjadi masalah tersendiri bagi angkutan air yang melintas di sana.

Anai, salah satunya. Pemilik Kapal Motor Bandong yang saban hari melintasi Sungai Kapuas untuk mengantar barang dari Pontianak ke Kapuas Hulu ini mengaku, aktivitas pertambangan emas ilegal sangat mengganggu jalur transportasi. Apalagi, hampir sebagian besar mesin-mesin penyedot emas berjajar hingga ke tengah sungai. "Aktivitas PETI mulai marak lagi‎. Saya sudah gemetaran pas lewat tadi," ujar Anai kepada Pontianak Post, Senin (19/7).

Menurut Anai, adanya aktivitas PETI di Sungai Kapuas, menyebabkan jalur transportasi air terganggu, khususnya saat akan memasuki kawasan Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu. "Kami harus berhati-hati, karena jika tidak, motor kami bisa menabrak mesin-mesin mereka. bagaimana lagi, mereka sekarang memasang mesin di tengah sungai," paparnya.

Menurutnya, aktivitas ilegal ini sempat berhenti beberapa saat. Namun kembali marak setelah debit air Kapuas mulai surut. "Sekarang debit air mulai surut. Mereka kembali 'main' lagi. Padahal kemarin sempat berhenti," terangnya.

"Kami minta pemerintah dan aparat bisa menertibkan aktivitas pertambangan ilegal ini. Jika tidak, akan sangat mengganggu aktivitas jalur transportasi air," sambungnya.

Keluhan juga disampaikan Tamsil Sjoekoer, pemilik tambak di Kecamatan Semitau. Menurut Tamsil, aktivitas PETI di Sungai Kapuas memengaruhi tambak ikan arwana masyarakat sekitar. ‎Bahkan, jika tidak diatasi, masyarakat akan dirugikan. 

"Aktivitas PETI di Sungai Kapuas sangat merugikan penambak ikan arwana. Air semakin keruh dan tidak sehat," kata pria yang juga berprofesi sebagai pengacara ini.

Pontianak Post berhasil mengabadikan sejumlah aktivitas pertambangan emas tanpa izin di sepanjang Kapuas saat melakukan Ekspedisi Bandong, beberapa bulan yang lalu. Aktivitas yang oleh warga setempat disebut Jek, ini dengan mudah dijumpai mulai dari Belitang, hingga Nanga Silat, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Tidak tanggung-tangung, jumlahnya mencapai ratusan set.

Suara-suara mesin terus menderu. Menyedot pasir-pasir dari dasar sungai yang mengakibatkan air di daerah sekitarnya menjadi keruh dan tercemar.

Para penambang membuat semacam lanting yang sekaligus digunakan untuk bermalam. Lanting itu dikaitkan dengan pohon besar di pinggir sungai. Lokasinya pun ada yang di pinggir sungai, ada juga yang menjorok ke tengah. Sehingga membahayakan kapal-kapal yang melintas.

Tidak hanya di kawasan sungai, aktivitas PETI juga terpantau di balik rindangnya pepohonan di sepanjang Sungai Kapuas, khususnya Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu. Tak jarang mereka menggunakan mesin berkekuatan besar. Kebanyakan dari mereka, menggunakan mesin fuso 6 silinder dengan pipa ukuran 8 sampai 12 ins. 

Menurut cerita, aktivitas PETI di pinggiran Sungai Kapuas sudah ada sejak lama. Bahkan jumlahnya akan meningkat jika debit air surut atau waktu musim kemarau. Selain merusak lingkungan, dampaknya juga berimbas pada lalu lintas kapal yang melintasi Sungai Kapuas.

Untuk membuat satu set mesin Jek, tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Mencapai ratusan juta rupiah.

Faisal, salah satu warga paham betul tentang aktivitas pertambangan emas tanpa izin. Menurutnya, sebelum menjadi anak buah kapal, ia sempat menggeluti pekerjaan ini selama hampir kurang lebih tiga tahun.

Selama menggeluti pekerjaan sebagai pemburu emas, Faisal bersama kelompoknya beberapa  kali pindah lokasi, mulai dari Nanga Laki, Usaha Baru, Semangut, Sungai Trus hingga Bukit Jitan.

Menurutnya, pekerjaan sebagai penambang emas sangat menjanjikan. Sehingga tak heran jika banyak orang yang menggeluti pekerjaan ini. Bahkan dalam suatu waktu, ia dan kelompoknya pernah mendapatkan lebih dari 1 ons emas atau bahasa lokal menyebut 35 real. Satu real sama dengan 3,75 gram. “Satu real emas dihargai Rp1.250.000,” kata Faisal.

Dalam berbagi penghasilan, lanjut Faisal, biasanya yang paling besar mendapatkan keuntungan adalah juragan atau pemilik mesin. Sementara pekerjanya mendapat upah setelah jumlah total pendapatan dipotong biaya operasional. “Saya waktu itu dapat bagian Rp2 juta,” lanjutnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Sustyo Iriyono mengaku prihatin dengan dampak dari pertambangan liar yang masih marak di wilayah hulu Kalbar. Berbagai upaya kata dia, sudah dilakukan termasuk penertiban. Akan tetapi, upaya itu kerap bocor.

“Yang saya pikirkan dampak penambangan liar. Ya mercuri itu,” kata Sustyo

Menurut dia, akibat dari penambangan liar berdampak terhadap baku mutu air yang notabennya penduduk masyarakat di bantarai sungai kapuas, aliran airnya digunakan untuk banyak hal. “Justru saya mikir bukan satwanya, tapi dampak baku mutu air akibat mercuri. Ikan yang ada di sungai, yang sudah terkontaminasi mercuri, ketika itu dimakan orang masyrakat, tentu saha bahaya pada tubuh,” ungkapnya.

Menurut Sustyo, pihaknya sudah beberapa kali menelaah penambangan liar yang ada di daerah perhuluan. “Penambangan liar di hulu banyak sekali. Kemarin kita sudah bergerak dan karena bocor, nanti akan kami telaah lagi. Tidak gampang menertibkan peti di sungai itu,” sebutnya.(gus/arf)

Berita Terkait