Naik Berguling Terhempas Jatuh, Tambah Bukti Kesalahan Air Asia

Naik Berguling Terhempas Jatuh, Tambah Bukti Kesalahan Air Asia

  Rabu, 2 December 2015 08:46
Gambar Imam/JawaPos

Berita Terkait

 PENEGASAN KNKT yang menyatakan tidak ada kasus gangguan cuaca dalam kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 menambah kesalahan yang dilakukan maskapai tersebut. Sebelumnya, pesawat ini dinyatakan bersalah karena terbang tanpa memiliki izin. Kini, ditemukan ada komponen yang rusak dan tidak segera diperbaiki.

AirAsia Indonesia langsung merespon hasil investigasi KNKT atas kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya – Singapura itu. Maskapai didirikan pengusaha Malaysia, Tony Fernandes itu mengaku siap mengambil pelajaran dan memperbaiki pengelolaan dari tragedi tersebut.
Presiden Direktur AirAsia Indonesia, Sunu Widyatmoko, mengatakan sesuai dengan laporan KNKT bahwa penyebab dari peristiwa itu merupakan kombinasi dari berbagai faktor.
”Kami mengucapkan terima kasih kepada KNKT dan seluruh pihak terlibat dalam investigasi. Ada banyak pelajaran dapat diambil bagi industri penerbangan secara keseluruhan dan kami senantiasa berdedikasi dalam memastikan standar keselamatan AirAsia Indonesia tetap berada pada level tertinggi di industri,” kata dia dalam keterangan resmi, kemarin.
Setelah tragedi tersebut, Sunu mengatakan, pihaknya menggandeng mantan regulator Federal Aviation Administration (FAA) dan Bureau Veritas untuk memberikan rekomendasi dalam peningkatan standar keselamatan maskapainya. ”Kami juga melakukan beberapa inisiatif safety sebelum laporan KNKT dikeluarkan. Termasuk menambahkan pelatihan upset recovery ke dalam silabus recurrent training,” akunya.
Selain itu, pihaknya juga menambahkan sesi pelatihan simulator dalam pelatihan awal dan implementasi sistem Airman yang akan memberikan pengawasan secara realtime terhadap sinyal masalah di pesawat (aircraft fault messages). ”AirAsia berkomitmen untuk secara berkelanjutan mengembangkan dan meningkatkan proses keselamatan agar sesuai dengan standar keselamatan internasional tertinggi,” ujarnya.
Pakar Penerbangan, Gerry Soejatman, menegaskan hasil temuan KNKT itu harus menjadi pelajaran penting bagi industri penerbangan, baik itu maskapai maupun regulator dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub).   
Terlebih upset recovery dimaksud yang menyebabkan pesawat itu jatuh selama ini tidak masuk dalam prioritas dalam pelatihan awak maskapai. Regulator juga tidak memperhatikan hal tersebut. ”Upset recovery atau keadaan yang aneh itu siapa yang melakukan pelatihan itu? Tidak ada satu pun di Indonesia yang melakukannya. AirAsia juga baru-baru saja menambahkannya di pelatihan tetapi tidak khusus mengenai itu,” ujarnya kepada Jawa Pos, kemarin (01/12).
Gerry menilai, dari hasil investigasi KNKT, AirAsia juga tidak terlalu dipersalahkan terkait prosedur perawatan yang mengakibatkan retakan solder pada electronic module di RLTU. Hanya dikritisi bahwa tidak dilakukan monitoring tren kerusakan yang berulang-ulang.
”Selama ini, kalau perawatan itu tidak mengharuskan mengganti sukucadang (sparepart) memang tidak ada prosedurnya. Tapi kalau repair-nya itu butuh ganti barang itu memang ada prosedurnya. Jadi ini pelajaran berharga buat industri,” tegasnya.
Gerry juga berharap regulator terutama Kemenhub lebih bijak menyikapi sebuah peristiwa. Sebab Menteri Perhubungan pada Januari 2014 tegas menyatakan kepada publik bahwa penyebab jatuhnya QZ 8501 adalah faktor cuaca.
Faktanya, hasil investigasi KNKT tidak sedikitpun menyebut ada faktor cuaca di situ. ”Apalagi saat itu ada kesan AirAsia malas hindari cuaca demi irit bahan bakar. Itu dampaknya cukup besar bagi nama baik maskapai. Nah sekarang, ada kah permintaan maaf dari pemerintah (kepada AirAsia) atas kesalahan statement itu? Jadi ini juga hal yang harus diperbaiki di industri,” pikirnya.
Mengenai hal teknis dari hasil temuan KNKT sebagai salah satu rangkaian penyebab jatuhnya pesawat, Gerry menyesalkan terlalu inisiatifnya pilot mereset Circuit Breaker (CB). ”Pilotnya diduga melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. CB dia cabut. Itu tidak ada di prosedur. Mereka harus tahu konsekuensinya. Maka pilot itu jangan terlalu kreatif,” sesalnya.
Dia juga menilai ada kemiripan dari peristiwa QZ8501 dengan jatuhnya Air France rute Rio De Janeiro (Brazil) – Paris pada 2009. Pesawat sama-sama jatuh  saat sistem autopilot mati. Adam Air yang hilang di Sulawesi pada 2007 juga mengalami hal sama tetapi khusus maskapai yang sudah tutup itu ada kerusakan instrumen. ”Kalau AirAsia dan Air France ini tidak ada instrumen yang mati. Kenapa kalau autopilot mati kok pesawat jatuh ya?” ujarnya heran.
Saat ini sedang menjadi perdebatan di industri penerbangan dunia apakah perlu  menambah sistem otomatisasi atau sistem manual. Bagi maskapai, sistem otomatisasi membawa keuntungan salah satunya berupa efisiensi bahan bakar.
Namun, kekurangannya adalah bisa mengurangi kemampuan pilot dalam menerbangkan pesawat. Dengan begitu maka perlu ditingkatkan penerbangan secara manual agar kemampuan pilot teruji dan semakin terasah menghadapi berbagai situasi.
”Air France itu sekarang selalu meminta pilotnya melakukan terbang manual dalam kondisi tertentu selama tidak mengganggu keselamatan, tujuannya supaya kemampuan terbang pilot tetap terasah walaupun harus mengorbankan bahan bakar,” ulasnya.
Sebab antara AirAsia QZ 8501 dengan Air France, kata Gerry, situasinya sama. Ketika autopilot mati, hidung pesawat mulai naik dan pilot tidak dapat mengendalikan lagi sehingga akhirnya pesawat jatuh. ”Tidak ada cara untuk keluar dari kondisi itu,” sesalnya.
Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Jatim Said Sutomo menganggap pernyataan ini sebagai bukti baru. Dia mewakili keluarga korban sudah mengajukan gugatan kepada maskapai AirAsia. Ada dua bahan yang dijadikan dasar gugatan. ’’Tidak memiliki izin dan pengajuan jadwal secara sepihak,’’ katanya.
Kini ada bukti baru bahwa pesawat tersebut mengalami kerusakan. Dengan begitu, maskapai AirAsia melanggar pasal 8 ayat 1 huruf a pada UU nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dijelaskan dalam aturan tersebut, perusahaan dilarang menjual produk atau jasa yang tidak layak. Kerusakan pesawat merupakan bukti bahwa produk atau jasa tersebut tidak layak.
Saat ini YLPKI Jatim sedang melakukan gugatan ke maskapai AirAsia. Gugatan itu diajukan ke Pengadilan Negeri Sidoarjo. Hasilnya, YLPKI kalah. ’’Kami sedang ajukan banding, bukti baru itu sangat membantu,’’ tegas Said.
Di sisi lain, Imam Samudra, salah seorang keluarga korban menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang berlaku. Sejak awal, permasalahan yang menyangkut pesawat AirAsia sudah diperbincangkan. Mulai dari evakuasi, penyelesaian asuransi, dan kini masalah pesawat yang diketahui mengalami kerusakan.
Imam memiliki empat saudara yang menjadi korban dalam peristiwa nahas tersebut. Dia juga dikenal vokal di antara keluarga korban lainnya. Ke depan, Imam lebih memasrahkan kepada hukum yang berlaku. (riq)

 

Berita Terkait