Musibah dan Berkah dari Fenomena Semburan Air di Ngawi

Musibah dan Berkah dari Fenomena Semburan Air di Ngawi

  Sabtu, 11 Agustus 2018 10:00
FENOMENA ALAM: Beberapa warga menyaksikan air muncrat di Dusun Weru, Desa Sidolaju, Widodaren. LATIFUL HABIBI/RADAR NGAWI

Berita Terkait

Saya Bingung Kenapa Hanya Sumur Saya Yang Muncrat  

Semburan di area sawah di Ngawi diduga karena adanya lapisan akuifer yang terkekang. Kini menjadi lokasi wisata dadakan yang bisa menyedot ratusan orang per hari. 

LATIFUL HABIBI, Ngawi

TAK ada lagi semak belukar di bawah pohon jati itu. Bersalin rupa jadi warung kopi dadakan. 

Jalan tanah di sekitarnya pun tampak mulus. Hampir tidak ada lagi rumput yang menutupi. 

Semburan air tanah yang mencapai belasan sampai puluhan meter di area persawahan di samping pohon jati yang mengubah semua itu. Tiap hari ratusan orang datang menyaksikan fenomena yang belum diketahui penyebabnya tersebut di Dusun Weru, Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Apalagi, lokasinya yang sangat dekat dengan tol Ngawi–Solo di Km 563+600 dusun setempat. Sehingga warga luar daerah yang kebetulan melintas pun ikut berhenti dan menyaksikan dari dekat sembari mengabadikannya dengan ponsel.

”Kami siagakan petugas siang-malam untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan,’’ kata Kapolsek Kedunggalar AKP Juwahir. 

Saat saya untuk kali kedua datang ke lokasi pada Kamis lalu (9/8), suasananya tidak berubah. Seperti ketika kali pertama semburan itu terjadi pada Minggu pagi (5/8). 

Baik dari semburan air maupun keramaian warga yang ingin menyaksikan. Dari kejauhan, semburan air tanah itu masih cukup tinggi. Setinggi pohon jati di samping lokasi semburan air tersebut. Sekitar 15 meter. 

Menurun separo dari semburan pada hari pertama yang mencapai 30 meter. Penuturan warga sekitar, tekanan semburan air sempat menurun hingga setinggi 2 meter. Bahkan sempat berhenti beberapa saat. 

Air muncrat di sawah milik Mujianto itu berawal ketika sang pemilik berniat mengairi sawah yang hendak dibajak. Setiba di sawah, pria asal Dusun Tambak Selo, Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, tersebut langsung menyalakan sumur sibel miliknya. 

Setelah itu, dia bergegas menemui seseorang. Tapi, tidak terlalu jauh dan masih di area persawahan. ”Saya tinggal sebentar menemui tukang traktor. Hanya sekitar 100 meter dari lokasi,’’ ujarnya.

Saat ngobrol itu, Mujianto sempat melihat ada yang aneh dengan sumur pompanya. Air yang keluar dari corong pipa pembuangan tersebut melebihi kekuatan hingga keluar dari tong penampungan. 

Mujianto pun bergegas mengeceknya ke lokasi. Setelah mengecek, dia langsung kaget saat melihat sudah banyak air yang keluar dari beronjong (pipa sumur dalam). 

”Saya berlari mematikan sumur sibel. Setelah dimatikan, airnya tidak keluar lagi. Mungkin setelah itu, air yang tertahan memaksa keluar hingga membuat pipa sumur tercerabut,’’ paparnya. 

Air tanah itu pun mulai muncrat tinggi ke udara. Bahkan sampai merusak atap rumah sumur pompa yang dibuat Mujianto untuk melindungi peralatannya itu. Semakin lama, tekanan air semakin besar. 

Melihat air muncrat tidak wajar, perasaan Mujianto tidak keruan. Kaget, bingung, dan takut. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, Mujianto meminta saudaranya melapor ke pemerintah desa (pemdes) setempat. 

”Lalu saya tinggal pulang sebentar, setelah kembali ternyata sudah ramai. Termasuk polisi dan TNI sudah ada,’’ ungkapnya.

Sebelum kejadian itu, tidak ada tanda apa-apa. Semua berjalan normal seperti biasa. Sumur bor tersebut dibangun enam bulan lalu. Dia memang meminta tukang sumur mencari lokasi yang banyak kandungan airnya. 

Setelah ditentukan titiknya, pengeboran dilakukan dengan kedalaman 80 meter. ”Rata-rata kedalamannya di kisaran 60 sampai 80 meter. Makanya, saya bingung, kenapa hanya sumur saya yang muncrat,’’ ujarnya. 

Cerita mengenai awal kejadian muncratnya air itu terus menyebar dari mulut ke mulut. Ada yang menyebut sempat terjadi ledakan, ada yang mengaku mencium sengat aroma gas. ”Semua itu tidak benar. Saya di lokasi sejak awal,’’ terang bapak dua anak tersebut.

Setelah lima hari kejadian itu berlangsung, Mujianto tidak tahu harus berbuat apa. Semburan air juga masih terus terjadi kendati tekanannya sudah menurun. Tapi, kehadiran petugas maupun para ahli membuatnya sedikit lega. 

Sampai sekarang memang belum diketahui secara pasti apa penyebab air tanah itu bisa muncrat hingga puluhan meter. Berbagai pendapat dari para ahli maupun akademisi mengemuka. 

Misalnya, dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur yang menyebut fenomena itu dipengaruhi lokasi semburan. Lokasinya berada pada daerah antiklinal. Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Kementerian ESDM menyebut penyebab terjadinya semburan adalah adanya lapisan akuifer yang terkekang.

Pendapat sama disampaikan guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Lambok Hutasoit. Doktor lulusan Nothern Illinois University, DeKalb, Amerika Serikat, itu menyebut penyebab semburan tersebut adalah ada lapisan akuifer yang terkekang. 

Mengutip Wikipedia, akuifer adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air. Melalui akuifer itulah air tanah dapat diambil. 

Menurut Lambok, adanya pengeboran sumur menjadi celah air untuk menembus ke atas permukaan tanah. Sehingga terjadi sumur artesis. Karena tekanannya yang begitu kuat, air pun muncrat hingga ketinggian puluhan meter. ”Intinya seperti itu. Hal ini kadang-kadang memang masih ditemukan,” ujar Lambok.

Pernyataan itu juga diperkuat kehadiran tim dari PATGTL Kementerian ESDM ke lokasi. Disebutkan bahwa pada peta hidrogeologi, daerah lokasi semburan air itu memang kaya kandungan air tanah. Dengan demikian, wajar jika sampai terjadi semburan air. 

Apalagi jika dipengaruhi adanya tekanan dari akuifer yang terkekang, membuat semburan air itu relatif tinggi. ”Untuk tindak lanjutnya, kami akan melakukan kajian lagi. Hari ini (kemarin, Red) beberapa sampel dan data sudah kami dapatkan, ditunggu saja hasilnya,’’ kata Agus Taufik, tim dari PATGTL Kementerian ESDM.

Sebelumnya, Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono beserta rombongan forkopimda (forum komunikasi pemimpin daerah) mengunjungi lokasi sehari pasca kejadian. Langkah yang telah diambil adalah berkoordinasi dengan pihak berkompeten. Salah satunya dengan Dinas ESDM Provinsi Jatim. 

Sambil menunggu hasil kajian dari pihak terkait, Kanang meminta warga tidak mendekati lokasi semburan. ”Kalau untuk airnya jika memang tidak berbahaya, dimanfaatkan untuk kebutuhan warga. Kalau berbahaya, nanti dibuatkan saluran pembuangan,’’ paparnya.

Kepala Desa Sidolaju Wagi Supriyono mengatakan, fenomena itu menjadi musibah karena mengakibatkan sawah di sekitarnya tak bisa digarap. Muncratan air juga merusak sumur pompa dalam milik Mujianto. Kerugiannya ditaksir lebih dari Rp 50 juta. 

”Warga juga sempat khawatir kalau kejadian ini berdampak buruk bagi mereka,’’ ujarnya.

Tapi, di sisi lain, juga ada berkahnya. Air muncrat itu mendatangkan rezeki bagi warga setempat. Buktinya, setelah tempat tersebut ramai, banyak yang berjualan makanan maupun minuman. Ada juga yang memanfaatkan dengan menawarkan jasa parkir. 

Pasalnya, setiap hari tak kurang dari seratus orang datang berkunjung. Termasuk mereka yang membuka warung kopi di bawah pohon jati tadi. 

Bahkan, Wagi sempat menyebut dirinya sudah punya konsep akan menjadikan tempat itu sebagai wisata alam jika kondisi semburan tidak berhenti selamanya. ”Dilihat perkembangannya dulu seperti apa,’’ ungkapnya. 

Gubernur Jawa Timur Soekarwo juga telah menerjunkan tim untuk meneliti kandungan air dari semburan setinggi 20 meter itu. Dia meminta warga setempat tidak panik. Sebab, fenomena tersebut bukan ancaman. 

Bahkan, semburan air itu diproyeksikan bisa dimanfaatkan untuk menambah stok air di Jatim. ”Tim dari dinas PU pengairan sudah turun untuk mengecek kandungan semburan. Apakah bisa dimanfaatkan untuk air bersih atau dipakai yang lain,” kata Soekarwo di Gedung Negara Grahadi Kamis lalu (9/8).

Mujianto mengaku pasrah akan diapakan semburan air di sawah miliknya tersebut. ”Terserah mau dijadikan apa, asalkan ganti ruginya jelas,’’ kata suami Suparti itu. (c1/fin/c10/ttg)

Berita Terkait