Mulailah dengan Nama Allah

Mulailah dengan Nama Allah

  Jumat, 1 March 2019 10:41   1

Oleh: Hermansyah

Allah SWT memulai Kitab-Nya dengan kalimat ‘Bismillahirrahmanirrahim’. Kalimat ini merupakan ayat pertama dalam Surah Al-Fatihah (Pembuka), yakni surah pertama dalam Alquran. 

Menurut Sayyid Quthb, permulaan dengan ‘Bismillah’ adalah adab yang diwahyukan Allah kepada Nabinya dari sejak awal diturunkannya Alquran, yaitu firman Allah Iqra’ bismi rabbika … Hal ini sesuai dengan kaidah terbesar dalam pemahaman Islam yakni sesungguhnya Allah. “Dialah yang awal dan yang akhir, yang zahir dan yang batin.” 

Allah adalah entitas hakiki yang darinya terwujud semua hal yang wujud. Darinya segala hal bermula. Maka dengan nama-Nya segala sesuatu dimulai. Dengan nama-Nya pula semua gerak terwujud.  Pada permulaan ini Allah mengenalkan Dirinya dengan dua sifat Rahman dan Rahim, sifat yang meliputi semua rahmat. 

Hanya pada Allah dua sifat ini berkumpul. “…… semua kasih sayang dalam berbagai warna dan bentuknya terwujud dari kedua sifat ini. Maka tergambarlah pemahaman Islam yang kedua, yakni sebuah gambaran tentang hubungan Allah dengan hambanya. Hubungan hakiki antara Allah dengan hambanya adalah hubungan kasih sayang.”

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda,“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus.” (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya). Oleh karena itulah para Nabi pun memulai sesuatu dengan bismillah.

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam menulis surat pada penguasa Saba’ dengan bismillah sebagaimana disebutkan dalam ayat,“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: ‘Dengan menyebut nama Allah (bismillah) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’.” (QS. An-Naml: 30).

Demikian juga Nabi Nuh‘alaihis salam  ketika memerintahkan para penumpang kapalnya.

 “Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya’. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud; 41)

Nabi Muhammad SAW pun memulai suratnya pada Raja Heraklius dengan bismillah. “Bismillahirrahmanirrahiim” dari Muhammad Rasulullah, salam kepada Heraklius, Pembesar Romawi dan bagi yang mengikuti petunjuk, Amma ba'du.

Sepertinya sederhana. Namun jika mendalami hakikatnya sungguh perkataan itu mengandung substansi yang berat. Kalimat ‘Bismillah’ ini menghendaki perbuatan yang sejalan dengan nilainya. Perkataan itu mengandung konsekuensi menghadirkan atau menyertakan Allah dalam dalam ucapan dan tindakan. Tentu sulit memahami sesuatu yang buruk yang dimulai dengan bismillah akan mendapat perkenan Tuhan atau ucapan bismillah yang hanya dijadikan permainan. Bukankah ada atau mungkin banyak orang yang fasih mengucapkan kata tersebut tetapi hanya untuk menarik simpati? Dalam hatinya hanya untuk mengelabui mereka yang terpukau dengan simbol.

Maka, ‘bismillah’ akan bermakna apabila antara pengucap perkataan itu dengan Allah terjadi hubungan. Hubungan itulah yang memberikan efek bagi pengucapnya. Dengan demikian akan tercegahlah pengucapnya dari segala sesuatu yang bertetangan dengan ucapannya itu. Menurut  Abu A’la al-Maududi dalam kitab tafsirnya Tafhim Alquran,  jika seorang muslim melakukan segala sesuatu dengan nama Allah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maka akan menghasilkan 3 hal yang baik. Pertama, ia akan terlindungi dari kejahatan atau pengaruh buruk, karena dengan melibatkan nama Allah seseorang akan berpikir apakah segala niat dan tindakannnya sudah sesuai dengan standar kebaikan Allah SWT. Kedua, dengan menyebut nama Allah akan menciptakan sikap yang benar dan mengarahkan pengucapnya menuju arah yang benar. Ketiga, pengucapnya akan menerima pertolongan dan berkah dari Allah serta terjaga dari godaan setan.

Ucapan ‘bismillah, yang terhubung dengan Allah akan mengarahkan pengucapnya melanjutkan kata-kata yang berisi kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Ucapan ‘bismillah’ yang terhubung dengan Allah pada awal perbuatan akan membimbing pelakunya kepada perbuatan yang sesuai dengan syariat Pemilik ucapan itu. Karena Dialah hakikatnya yang memberikan taufiq dan hidayah bersamaan dengan upaya hamba menghubungkan diri kepadaNya melalui simbol ucapan ‘bismillah’. Sebaliknya ucapan ‘bismillah’ yang tidak sungguh-sungguh diniatkan untuk dihubungkan dengan Pemiliknya tidak bermakna apa-apa. Karenanya dapat dipastikan meskipun suatu perkataan atau perbuatan yang dimulai dengan ‘bismillah’ jika bertentangan dengan syariat baik lahir maupun batinnya maka perbuatan itu pun terputus. Yakni mendatangkan dosa dan murka Tuhan. Karena itu mulailah segala sesuatu dengan ‘bismillah’ disertai harapan serta usaha menghadirkan atau bahkan merasakan kehadiran-Nya. Karena sejatinya bukan ucapan itu yang membawa keberkahan tetapi Allahlah yang dapat menunjukkan dan membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Itulah agaknya sebab satu-satunya perintah yang disuruh untuk diperbanyak dalam Alquran adalah zikir atau ingat kepada Allah. Sebab ingat yang disimbolkan dengan menyebut nama Allah menjadi wasilah datangnya petunjuk. Adanya petunjuk itu dapat mengeluarkan manusia dari ‘zulm’ atau kegelapan menuju ‘nur’ atau cahaya sebagaimana keterangan dalan Alquran.

 “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang bershalawat (memberi rahmat) kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 41-43).

Dalam ayat ini zikir atau ingatan kepada Allah mengandaikan keterhubungan manusia dengan Allah. Dengan adanya keterhubungan inilah menyebabkan manusia hidup dalam cahaya sehingga dapatlah mereka menempuh jalan-Nya.

*Penulis: Dosen IAIN Pontianak