Mulai Diberlakukan di Tahun Ajaran Baru, Sistem Zonasi Jadi Sorotan

Mulai Diberlakukan di Tahun Ajaran Baru, Sistem Zonasi Jadi Sorotan

  Jumat, 14 June 2019 10:14

Berita Terkait

PONTIANAK –  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberlakukan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi mulai tahun ajaran baru ini. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, tujuan diterapkannya sistem zonasi adalah menghapus label sekolah favorit. “Semua harus sama, tidak boleh ada yang status favorit kemudian yang lain buangan," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. 

Sistem zonasi mengharuskan calon peserta didik yang mendaftar memiliki radius terdekat dengan sekolah. Tinggi rendahnya nilai ujian sekolah dan ujian nasional tidak lagi jadi pertimbangan utama. Pada sistem ini kuota anak berprestasi pada PPDB Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya 5 persen. Sedangkan jumlah peserta didik yang diterima berdasarkan zonasi paling sedikit 90 persen dari daya tampung sekolah.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihak sekolah untuk mengoptimalisasikan pembelajaran di sekolah dengan kemampuan daya saing siswa yang beragam.  Jika selama ini pihak sekolah dapat mengukur kemampuan siswa berdasarkan peringkat nilai, maka pada sistem zonasi siswa dengan nilai tertinggi bisa satu kelas dengan siswa yang memiliki nilai yang jauh lebih rendah darinya. 

Seperti diakui Kepala SMA 3 Pontianak, Wartono. Menurutnya, sistem ini memungkinkan terjadinya kesenjangan daya serap yang cukup jauh antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Dalam satu kelas, bisa saja siswa dengan nilai akademik yang tinggi satu kelas dengan siswa yang jauh di bawahnya. “Ini belum pernah kami alami,” ungkap dia.

Meski begitu, pihaknya belum bisa mengevaluasi dampak penerapan zonasi tahun ini dan tahun 2018/2019. Termasuk kemampuan daya saing siswa saat proses belajar mengajar. “Kami belum bisa mengevaluasi karena kami belum berhadapan dengan anak-anaknya,” kata dia. 

Kondisi ini memberikan tantangan yang lebih besar kepada para guru dalam mengajar. Kemampuan menyesuaikan pola pembelajaran antara peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya. 

Menurut Wartono pihaknya tidak memiliki persiapan khusus. Kebijakan sekolah akan disesuikan dengan kondisi ketika siswa sudah diterima dan melakukan proses belajar mengajar. Yang diperlukan, tambah Wartono, adalah semangat dari para siswa dalam menuntut ilmu serta dukungan dari para orang tua. Bagaimana peningkatan pola daya saing siswa supaya mereka berpacu untuk meningkatkan kualitas.  “Semangat siswa untuk menuntut ilmu itu penting. Mau belajar, mau mencari tahu,” katanya optimis. 

Tahun lalu, pihaknya mengukur kemampuan siswa berdasarkan nilai ujian nasional ditambah dengan jarak domisili dari rumah ke sekolah. Sistem ini masih memudahkan para guru untuk menyesuaikan kemampuan antar  peserta didik.  “Tahun lalu masih menggunakan sistem perankingan. Kalau sekarang kan hanya zonasi saja,” kata dia. 

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Pontianak Yuyun Yuniarti mengatakan, pihaknya masih menunggu arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pontianak terkait pelaksanaan PPDB ini. Pihaknya siap menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan sesuai dengan petunjuk yang diberikan. “Ya masih menunggu petunjuk teknisnya seperti apa,” kata dia. 

Yuyun mengatakan, sistem zonasi tanpa seleksi nilai tentu akan berpengaruh pada proses belajar mengajar. Di sinilah tantangan bagi para guru untuk meningkatkan kompetensi dalam mengajar. Guru harus mampu menjawab tantangan termasuk berhadapan dengan kompetensi siswa yang beragam. Menurutnya, guru harus memahami karakter peserta didik, baik itu kemampuan daya saing dan daya tangkap dalam proses belajar mengajar. 

Berdasarkan pengalamannya tahun 2007 saat masih berstatus Guru di SMP N 1 Pontianak, pendaftaran siswa baru menggunakan sistem zonasi tanpa seleksi nilai. Masa itu, kata dia, pihak sekolah menerapkan program peningkatkan kualitas guru dan peserta didik. Baik secara internal maupun ekstrenal. 

“Saya kebetulan sebelum jadi kepala sekolah, saya guru SMP N 1. Tahun 2007 kami menerima siswa (dengan sistem) zonasi. Kebijakan wali kota saat itu,  SMP 1 dibangun gedung baru, kita terima siswa tanpa seleksi NEM. Alhamdulilah dengan segala tantangan yang ada, karena kami seorang guru kami memberikan pelayanan terbaik untuk siswa. Alhamdulillah prestasi kami tetap bisa mempertahankan Kalau pun ada penurunan , itulah dinamikanya,” papar dia. 

Setiap siswa berbeda, tetapi memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Kadang, kata Yuyun, ada siswa saat di sekolah dasar kemampuannya biasa-biasa saja, belum menunjukkan kemampuan yang optimal. Tetapi,  begitu masuk SMP didukung dengan pola mengajar yang berbeda dari setiap guru, ditambah semangat yang tinggi membuat anak terpacu untuk semangat belajar. “Terpenting juga perlu dukungan dari para orang tua,” papar dia. 

Ada kekhawatiran siswa tidak lagi mementingkan nilai ujian pada penerapan sistem zonasi tanpa seleksi nilai ini. Siswa menganggap ujian menjadi sesuatu yang biasa saja. Asal rumah dekat dengan sekolah yang diimpikan, nilai tak menjadi soal. Akhirnya, tidak ada usaha maksimal anak untuk memperoleh nilai yang tinggi. 

Menurut Yuyun ini menjadi pekerjaan rumah bersama, agar kebijakan yang diterapkan dapat berjalan sesuai harapan, dunia pendidikan di Indonesia semakin maju. “Ya saya hanya khawatir, anak tidak  mementingkan UN. Yang penting dekat. Ini menjadi tantangannya. Akhirnya siswa menganggap ujian sekolah itu biasa saja. Tidak ada gregetnya memperoleh nilai yang tinggi, yang penting rumah saya dekat dan saya bisa masuk ke situ,” ulasnya. 

Sementara ini, sistem zonasi yang memfokuskan pada jarak domisili disambut baik sejumlah orang tua. Lestari salah satunya. “Semogalah semakin mempemudah, karena memang inginnya sekolah yang dekat-dekat dari rumah biar gampang pergi dan pulang sekolah,” papar dia. (mrd)

Berita Terkait