Muhammad Hasbi Tunanetra Melek Teknologi

Muhammad Hasbi Tunanetra Melek Teknologi

  Selasa, 7 June 2016 09:41
Muhammad Hasbi (Hafiz)

Berita Terkait

Lahir dengan keterbatasan melihat, tak menghalangi H. Muhammad Hasbi untuk berprestasi, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kemahirannya mengoperasikan laptop membantunya dalam memahami ilmu pengetahuan. Menariknya, usia 10 tahun, Hasbi sudah hafal Alquran 30 Juz.  

Oleh : Marsita Riandini

Mengenakan baju koko, sarung, dan kopiah menjadi penampilan dalam keseharian Muhammad Hasbi. Dalam keterbatasannya, Hasbi selalu bersyukur atas pemberian yang Allah berikan. “Siapa sih yang tidak ingin seperti orang kebanyakkan? Akan tetapi saya bersyukur kepada Allah SWT, karena di balik kekurangan saya, Allah memberikan yang terbaik untuk saya. Sebagai wujud rasa syukur saya kepada Allah SWT, tentunya saya memanfaatkan apa-apa yang  telah Allah berikan baik untuk saya maupun untuk orang lain,” ucap dia, yang saat di hubungi For Her melalui Facebook masih berada di Serawak, Malaysia. 

Bulan Ramadan kali ini ia dipercaya mengisi waktunya untuk menjadi imam tarawih di negara tetangga,  yakni Serawak, Malaysia. “Saya diminta jadi imam tarawih dari rumah ke rumah secara bergantian tiap harinya selama 25 hari. Ini sudah kali kedua saya dipercaya untuk menjadi imam. Bukan hanya imam khusus tunanetra, melainkan juga menjadi imam orang-orang yang bukan disabilitas,” jelasnya yang harus mempersiapkan hafalan agar pada saat menjadi imam tidak hilang hafalanya, terutama membuang rasa grogi. 

Lalu bagaimana Hasbi bisa menggunakan komputer dengan keterbatasan kondisi matanya? Dia bercerita, beberapa tahun lalu ia mendapatkan informasi dari televisi, bahwa seorang tunanetra bisa menggunakan komputer melalui bantuan pembaca layar. “Untuk laptop  saya gunakan laptop biasa, hanya di dalam laptop saya, ditambahkan program screen reader, yaitu program jaws for windows. Melalui program bantuan pembaca layar tersebut  bentuk tulisan akan dibacakan serta di ubah dalam bentuk suara oleh program pembaca layar tersebut. Sehingga saya bisa mendengarkannya. Ketika saya tulis “ada” maka program pembaca layar akan bicara “ada” mengikuti apa yang ditulis,” ungkapnya pria yang tahun 2002 menjadi juara pertama tingkat provinsi dan di kirim ke Mataram, cabang tahfiz Alquran 20 juz. 

Keyboard yang digunakan pun seperti pada umumnya. Saat berbincang dengan For Her, Hasbi mengetik dengan lancar, dan terdapat sedikit kesalahan pada tulisannya. “Saya mengetik dengan metode ketik 10 jari, jadi tidak memakai keybord braile,” jelasnya. 

Pria 33 tahun ini sejak kecil memang akrab dengan pendidikan agama. Bahkan sejak berusia 7 tahun, ia mulai tertarik untuk menghafal Alquran. “Saya lahir di Mekkah, kemudian orang tua saya melihat ada bakat  untuk saya dalam menghafal Alquran. Maka saya dibimbing untuk menghafal,” ungkapnya yang menginjak usia 10 tahun telah hafal 30 juz. 

Menariknya, Hasbi diajari melalui media kaset yang pada masa itu masih menggunakan tape. “ Caranya itu awalnya abah saya mencontohkan ayat yang harus dihafal, nah, nanti untuk menghafalkan ayat-ayat yang telah di contohkan oleh abah saya, saya menghafalkannya via kaset dengan menggunakan tape. Jadi, saya dengarkan berulang-ulang di kaset, dan syekh yang saya jadikan rujukan adalah syekh Ali 'Abdullaah Jabir, yaitu pamannya Syekh Ali Jabir yang biasa ceramah di acara Damai Indonesia, yang tayang di salah satu TV swasta,” jelasnya. 

Tantangan dalam menghafal Alquran, lanjutnya pada keterbatasan matanya yang tidak bisa melihat huruf dari ayat Alquran. “Saya menghafal saja setiap hari, tidak peduli siang ataupun malam. Lebih kurang saya menghabiskan 11 tape, dalam waktu tiga tahun,” ucapnya.

Tahun 1998, dia mulai ikut lomba tahfiz Quran setelah orang tuanya memutuskan kembali ke Pontianak. “ Saya mulai ikut lomba atau musabaqah cabang 30 juz, sampai sekarang pun masih ikutan lomba,” papar dia. 

Uniknya, ayah dua anak ini tidak bisa menggunakan huruf braile. “InsyaAllah, nanti kalau sudah ada waktu luang, saya belajar juga,” pungkasnya yang tak menampik keinginan untuk terus belajar. **

-------------------------

Tanya Jawab

Belajar ilmu agama Islam?

Untuk pendidikan keagamaan, saya belajar ke abah dan umi sewaktu saya masih di Mekkah, karena saya ditakdirkan lahir di Mekkah, namun setelah saya pulang ke Indonesia, saya belajar ke guru khusus yang datang setiap minggu, dan saya juga sempat sekolah di SLB Darma Asih di Jalan, A Yani mulai dari kelas 4 SD SLB sampai kelas 6 SD SLB, setelah itu saya berhenti, karena mata saya tidak kuat. Saya mulai belajar komputer, sejak tahun 2005 akhir dan mempelajari banyak hal dari media internet. 

Tantangan belajar komputer? 

Awalnya, saya harus menghadapi orang tua yang tidak setuju karena saya belajar komputer, dan gimana sulitnya menulusuri layar dengan program tersebut. Alhamdulillah, saya belajar hanya 1 bulan kepada adik saya, setelah itu berhenti, dan belajar sendiri, entah itu dari internet, atau dari rekan tunanetra yang komunikasi kami tersambung secara online. Walaupun orang tua tidak setuju, saya tidak pantang menyerah, ternyata Alhamdulillah saat ini saya merasakan manfaatnya, dan orang tua saya sekarang sudah sangat setuju.

Manfaat apa saja yang Anda rasakan dengan kemampuan komputerisasi?

Tentunya dalam mengakses informasi keagaamaan sangat mudah, dengan catatan harus berhati-hati, tidak sembarang mengambil informasi yang ada. Saya bisa mempelajari teknologi dengan mudah. Bisa berbagi pengetahuan dan  teknologi kepada sesama, bisa kepada sesama tunanetra, atau terkadang ke yang non tunanetra juga. Termasuk bisa jadi sarana untuk mendapatkan pemasukkan lewat bisnis online, meskipun saat ini masih tahap belajar. Terpenting bisa memperpanjang silaturahim kepada banyak orang. 

Peranan keluarga?

Keluarga peranan yang besar adalah peranan kedua orang tua, tidak mungkin saya seperti sekarang ini kalau tidak karena jerih  payah mereka dan kedua tentulah peranan istri saya yang selalu mensupport segala kegiatan saya bahkan karena saya ke kuching, istri dan anak-anak ikhlas meskipun tidak bisa sahur dan berbuka dengan saya.

Harapan untuk keluarga?

Harapannya, kedua anak saya, bisa jadi hafidz dan hafidzah, namun saya tidak bisa memaksanya, kita lihat nanti bakat mereka saya serahkan kepada Allah SWT, anak pertama saya cewek umur 7 tahun kurang. Yang kedua cowok umur 5 tahun, yang cowok ini baru mulai menghapal juz amma. (mrd)

 

Berita Terkait