MotoGP Rasa Moto2

MotoGP Rasa Moto2

  Selasa, 20 March 2018 11:00

Berita Terkait

Dovi Di Atas Angin

LOSAIL- Semoga pertarungan sengit yang tersaji pada balapan pembuka MotoGP di Sirkuit Losail, Qatar Minggu malam adalah gambaran dari keseluruhan musim balap tahun ini. Kekuatan tim yang lebih merata memungkinkan terjadinya duel-duel ketat melibatkan banyak rider. Ini seperti MotoGP rasa Moto2.

Ada delapan pembalap yang terlibat dalam keseruan duel di rombongan terdepan GP Qatar. Bukan hanya rider pabrikan yang memang langganan berebut podium, tapi juga jagoan-jagoan dari tim satelit. Rasanya, tontonan seperti ini yang diinginkan penggila MotoGP di seantero dunia.

Jagoan Ducati Andrea Dovizioso membuktikan bahwa hasil tes pra musim dan dominasinya di sesi latihan bebas bukan hanya di atas kertas. Pembalap Italia tersebut menaklukkan juara bertahan Marc Marquez dengan selisih sangat tipis 0,027 detik.

Jika menilik kembali hasil uji coba pra musim MotoGP di Qatar, Dovizioso memang punya race pace terbaik. Angkanya sekitar 0,3-0,4 detik di depan Marquez. Meski gagal maksimal pada sesi kualifikasi dan hanya bisa start di posisi lima, pembalap 32 tahun itu, pelan tapi pasti, mampu merangsek ke depan dengan konsistensi catatan lap-nya yang luar biasa. Pada lima lap terakhir, Dovi menyerang merebut posisi terdepan dan melibas Marquez di tikungan penghabisan.

''Motorku bekerja dengan sangat baik. Jadi lebih mudah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,'' ucap Dovi dikutip Motorsport. Dia mengakui, gaya balapnya semakin menyempurnakan performa Desmosedici GP18 karena ban depan bisa dihemat dan diajak bertarung sampai lap terakhir. 

Dovi juga begitu memahami karakter Desmodici terhadap ban Michelin. Ban belakang 2018 lebih lunak dibanding tahun lalu. Ini dibuat agar daya cengkeram lebih kuat. Meskipun konsekuensinya permukaan ban akan lebih mudah tergerus aspal. ''Itu kenapa kami tidak menggeber motor habis-habisan di sepertiga awal balapan. Saat (Johann) Zarco berada di depan, tidak ada (pembalap lain) yang berusaha memburunya. Kami semua menahan,'' ungkapnya.  

Bintang Tech3-Yamaha Johann Zarco sempat tampil dominan selama 17 lap pembuka. Tapi seperti yang tergambar dalam uji coba pra musim, Zarco memang hanya kencang di satu lap. Sedangkan race pace-nya tak terlalu baik. Pada lima terakhir pembalap Prancis itu kehilangan cengkeraman ban hingga posisinya melorot. 

Akhirnya dia hanya mampu finis di urutan delapan. Kondisi tersebut malam sekaligus membuktikan bahwa penyakit chassis Yamaha 2016 yang dipakai Zarco belum bisa diatasi. Yakni tidak bisa mempertahankan cengkeraman ban hingga akhir lomba. ''Saya sudah melakukan apa yang bisa saya lakukan. Ketika teknisi dari Michelin dan juga dari tim mengatakan memang ada yang salah dengan ban, itu berarti kesalahan bukan padaku,'' tukas Zarco. 

Jika Zarco masih berkutat dengan masalah chassis yang terlalu keras menggerus permukaan ban, dua pembalap utama tim Yamaha justru mulai merasakan kemajuan signifikan dengan M1 2018. Masalah yang masih hidup di motor baru Yamaha adalah lemahnya akselerasi saat keluar tikungan. ''Jadi saya harus lebih agresif di tikungan karena akselerasi Ducati dan Honda masih lebih baik saat ini,'' tandasnya. 

Memang agak serba salah bagi Yamaha. Untuk menambah akselerasi motor, salah satu caranya adalah memperbesar power mesin. Tapi dampaknya bisa buruk karena power mesin yang besar akan memberi tekanan lebih keras pada ban belakang. ''Karena itu kami masih harus bekerja berdasarkan indikasi-indikasi yang susah kami kumpulkan,'' paparnya. 

Kemajuan juga dirasakan rekan satu tim Rossi, Maverick Vinales. Meski hanya finis di urutan keenam  pembalap Spanyol tersebut merasa motornya sudah jauh lebih baik dibandingkan enam bulan terakhir. 

Vinales menjelaskan, perubahan yang dilakukan Yamaha adalah membuat motor lebih kaku. Motor seperti itulah yang lebih pas dengan gaya balapnya. ''Seperti pemilihan per pada shockbreaker depan. Saya suka,'' terangnya. Dengan ditemukannya set up motor yang pas, kini Vinales merasa memiliki basis motor kuat. Tinggal fokus pada start dan mengejar waktu single lap untuk sesi kualifikasi.  

Seri berikutnya akan berlangsung di Argentina 8 April. Sirkuit ini bisanya lebih cocok dengan Yamaha. Karena itu Dovi merasa hasil bagus di dua seri berikutnya, Argentina dan Amerika Serikat, sangat penting untuk mengonfirmasi ketanggunan Desmosedici GP18. Jika bisa menang lagi di trek yang biasanya cocok dengan karakter Yamaha, Ducati hanya tinggal memaksimalkan hasil lomba di trek-trek dimana mereka sangat kuat. (cak)

Berita Terkait