Modus Penipuan Dimas Kanjeng Terkuak

Modus Penipuan Dimas Kanjeng Terkuak

  Sabtu, 1 Oktober 2016 09:26

Berita Terkait

SURABAYA – Modus Dimas Kanjeng Taat Pribadi dalam mengumpulkan pundi-pundi uang sedikit demi sedikit mulai terungkap. Tersangka otak pembunuhan berencana itu memiliki sejumlah alat perlengkapan yang memikat pengikutnya agar bisa mendapat uang berlipat.

 
Alat-alat tersebut terungkap setelah dua korban penipuan Dimas Kanjeng melapor ke Polda Jatim. Salah satunya adalah Prayitno asal Jember. Dia merasa merugi hingga Rp900 juta karena menyerahkan duit melalui Ismail. Ada bukti kuitansi yang dibuat Ismail.

Selain itu, ada korban Rahmadi Suko Ari Wibowo. Pria kelahiran Blitar tersebut baru melapor pada Jumat pekan lalu (23/9). Dia juga merasa tertipu setelah menyerahkan uang Rp1,5 miliar untuk digandakan.

Dalam laporan tersebut, kedua korban juga menyerahkan bukti yang menguatkan laporan mereka. Salah satunya adalah kantong emas. Kantong tersebut berbentuk segi empat yang terbuat dari kain merah yang besarnya segenggaman tangan orang dewasa. Di bagian atasnya terdapat tali yang jika ditarik akan membuat kantong tersebut tertutup.

Kasubdit Keamanan Negara Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Cecep Ibrahim menyatakan, berdasar pengakuan korban, kantong tersebut dibeli Rp10 juta dari Dimas Kanjeng. Kantong itu berisi benda yang bentuknya mirip perhiasan seperti gelang, kalung, dan anting-anting. ’’Janjinya, perhiasan itu akan bertambah terus. Tidak akan habis kalau diambil,’’ ungkapnya.

Polisi sudah mengecek keaslian perhiasan tersebut di kantor pegadaian. Hasilnya, tidak ada satu pun benda di dalam kantong tersebut yang berupa emas asli. Semua sepuhan. Hanya warna yang membuat benda itu sangat mirip dengan perhiasan.

Cecep mengungkapkan, pendapatan Dimas Kanjeng bisa berlipat ganda karena setiap korban tidak hanya membeli satu kantong. Satu pengikut bisa membeli hingga tiga kantong. Misalnya, yang dilakukan korban yang sudah melapor. Dia mengaku membeli tiga kantong emas. Semua sudah diserahkan kepada polisi. ’’Bisa saja untuk anaknya, bisa untuk saudaranya, bisa juga untuk dirinya sendiri,’’ ujarnya.

Ada pula peralatan lain yang disebut dengan istilah dapur ATM. Istilah itu dipakai bisa jadi karena fungsi benda tersebut mirip dengan mesin ATM yang diklaim bisa mengeluarkan uang. Bentuknya kotak dan terbuat dari kayu. Di dalam kotak itu ada tulisan Arab tanpa harakat di secarik kertas.

Cara kerja alat tersebut sangat simpel. Pengikut cukup menempelkan uang Rp10 ribu pada tulisan Arab, lalu dimasukkan ke plastik, dan dimasukkan lagi ke dalam kotak kayu. Menurut janji Dimas Kanjeng, pengikut yang sudah melakukan ritual akan mendapat Rp5 juta dari dapur ATM itu setiap hari.

Cecep menegaskan, sampai melapor ke Polda Jatim, korban belum pernah melihat kotak tersebut mengeluarkan uang Rp5 juta seperti yang dijanjikan. Bahkan, dia yang sudah mengamankan kotak tersebut belum pernah melihat uang keluar dari kotak itu. ’’Sudah gua cek setiap hari tuh,’’ katanya.

Meski alat tersebut tidak mengeluarkan uang seperti yang dijanjikan, korban menahan diri untuk mempertanyakannya. Sebab, salah satu ajaran Dimas Kanjeng, mempertanyakan sama saja dengan meragukan, sedangkan meragukan sama dengan mengkhianati dia. Karena itulah, mereka tidak pernah berani bertanya mengapa kotak tersebut tidak kunjung mengeluarkan uang.

Harga dapur ATM itu termasuk murah jika dibandingkan dengan hasil yang akan diterima. Masing-masing dijual Rp250 ribu. Meski nilainya ratusan ribu, alat itu bisa mendatangkan keuntungan besar bagi Dimas Kanjeng lantaran pembelinya mencapai puluhan ribu orang. ’’Kalikan sendiri. Ada yang ngomong pengikutnya 23 ribu. Coba kalau dikalikan,’’ imbuhnya.

Bukan itu saja. Dimas Kanjeng juga memiliki bolpoin Laduni. Harganya Rp10 ribu. Di dalam bolpoin itu terdapat tulisan Arab yang disebut dengan istilah doa. Barangsiapa yang memegang bolpoin tersebut diyakini bisa langsung menguasai tujuh bahasa asing.

Klaim itu dibantah Cecep. Dia dan anak buahnya sudah memegang bolpoin tersebut. Namun, dia tidak lantas menguasai tujuh bahasa asing.

Perwira dengan dua melati di pundak itu menyatakan, dari hasil penyelidikan sementara disimpulkan, ada tim tersendiri yang membuat peralatan tersebut. Misalnya, bolpoin yang di dalamnya bertulisan huruf Arab. Bolpoin itu dipesan dari seseorang di luar padepokan. Begitu pula dengan kantong dan kotak kayu.

Sementara itu, polisi juga sedikit menyingkap praktik penipuan Dimas Kanjeng yang banyak muncul di YouTube. Dalam salah satu rekaman berdurasi singkat itu, Dimas Kanjeng mengenakan jubah besar di depan tumpukan uang yang tidak tertata. Sesekali, dua tangannya masuk ke samping tubuh. Setelah itu, dari tangannya, keluar uang kertas pecahan seratus ribuan yang disebar dan berbaur dengan tumpukan uang lainnya.

Cecep menuturkan, dari pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang terlihat di rekaman YouTube tersebut, terungkap bahwa Dimas Kanjeng memiliki banyak jubah. ’’Tiga sudah diamankan. Dua warna hitam dan satu lagi warna kuning,’’ jelasnya. Jubah itu dipesan khusus kepada penjahit di luar padepokan. Yang mendesain bentuknya adalah Dimas Kanjeng.

Di jubah bagian belakang agak samping, terdapat dua saku besar. Cecep menyebutkan, saku tersebut bisa memuat uang hingga Rp 200 juta. Nah, saat tampil di YouTube tersebut, tangan Dimas Kanjeng masuk ke belakang samping dan merogoh saku yang berisi uang. Duit itulah yang kemudian dikeluarkan dan disebar di antara tumpukan uang kertas di depannya.

Ketika duit yang disimpan di saku jubah habis, Dimas Kanjeng segera menggelar ritual berdoa. Setelah itu, dia kembali masuk ke dalam kamar dan berganti dengan jubah yang berwarna dan berbentuk sama. Jubah yang baru saja diganti itu sudah berisi uang. ’’Nanti orang mengiranya uang tidak pernah habis. Padahal, sudah ganti jubah,’’ tegasnya.

Cecep menambahkan, saat ini kasus penipuan yang diusutnya itu masih masuk tahap penyelidikan. Menurut dia, dengan adanya pelapor, polisi sudah punya dasar untuk menaikkan status menjadi penyidikan. Namun, korban yang melapor masih sedikit. Padahal, korbannya masih banyak.

 

Marwah Daud Bela Dimas Kanjeng

 

Marwah Daud Ibrahim, ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, angkat bicara soal kasus yang menjerat gurunya. Marwah membantah bahwa perbuatan Dimas Kanjeng itu merupakan penggandaan uang. ’’Memang ada uang yang disetorkan anggota. Tapi, itu sifatnya kontribusi saja. Sama seperti kita ikut yayasan atau perkumpulan lainnya,’’ jelas mantan anggota DPR itu.

Menurut dia, saat ini anggota yayasannya mencapai 23.540 orang. Mereka tersebar mulai Aceh hingga Papua. Marwah mengaku tak tahu asal muasal uang yang didatangkan Dimas Kanjeng. Yang pasti, dia melihat sendiri Dimas Kanjeng bisa mendatangkan uang seperti yang terekam dalam video selama ini. ’’Uang itu tak hanya datang dari tangannya. Tapi, ada juga tiba-tiba datang peti berisi uang,’’ ujar Marwah.

Kejadian gaib itu tidak hanya berlangsung di padepokan Dimas Kanjeng, namun juga di rumah para anggota atau pengikutnya. Marwah mengaku, uang bisa tiba-tiba datang di rumahnya. ’’Tapi, beliau pesan agar tidak digunakan dulu,’’ ujar doktor lulusan American University Washington DC itu.

Uang yang didatangkan Dimas Kanjeng tersebut bukan hanya rupiah, namun juga mata uang asing, termasuk dolar AS. Marwah yakin uang itu asli. Dia juga menyangkal uang yang didatangkan Dimas Kanjeng berasal dari harta orang lain. ’’Buktinya kan tidak ada yang merasa kehilangan,’’ tegas perempuan kelahiran 8 November 1956 itu.

Marwah menyebut uang yang didatangkan Dimas Kanjeng itu akan digunakan untuk pembiayaan program-program pemberdayaan masyarakat. Salah satu program pasar rakyat bahkan sudah dijalankan di Probolinggo ketika Dimas Kanjeng merayakan ulang tahun.

Perempuan kelahiran Soppeng, Sulawesi Selatan, itu mencurigai adanya orang yang berupaya menarik keuntungan pribadi dari keahlian Dimas Kanjeng. Karena itu, muncul video atraksi Dimas Kanjeng mendatangkan uang. ’’Video itu lantas diedit dan ada yang memanfaatkan untuk penipuan,’’ ungkapnya.

Menurut dia, selama ini orang yang melihat keahlian Dimas Kanjeng sebenarnya dilarang untuk menyebarluaskannya. ’’Teman-teman wartawan di sana juga pernah ada yang melihat sendiri, tapi memang dilarang menyebarluaskan,’’ imbuhnya.

Dia juga membantah keterangan polisi bahwa Dimas Kanjeng mengharuskan pengikut atau anggota yayasannya membeli sesuatu sebagai mahar untuk mendatangkan uang. Marwah menegaskan, pihaknya tak memaksa masyarakat untuk memercayai kemampuan Dimas Kanjeng. Tetapi, dia juga berharap sejumlah pihak tidak memaksa orang untuk tidak memercayai Dimas Kanjeng.

’’Sekarang ada yang berupaya memulangkan santri-santri beliau. Ada yang merancang untuk melapor sebagai korban,’’ ungkapnya. (eko/gun/c5)

 

Berita Terkait